Home Opini INFEKSI, KONEKSI, EVOLUSI

INFEKSI, KONEKSI, EVOLUSI

by Ahmad Faizin Karimi

Manusia adalah makhluk yang paling terkoneksi satu sama lain. Kalau Anda punya kucing di rumah, sangat mungkin ia tidak kenal langsung maupun tidak langsung dengan si Bobby kucingnya Prabowo Subianto. Atau anjing yang Anda lihat berkeliaran tidak mungkin terhubung dengan si Lupo anjingnya Pangeran William.

Tapi tidak dengan manusia. Manusia terkoneksi dengan manusia lain di dunia ini, membentuk jejaring sosial kehidupan. Percobaan Stanley Milgram menyimpulkan sebagian besar manusia di dunia ini terhubung dengan rata-rata “enam derajat keterpisahan”. Kita terhubung dengan siapa saja di dunia ini paling jauh rata-rata hanya berjarak enam langkah pertemanan. Misalnya saya, dengan—katakanlah—Donald Trump atau Kim Jong-Un hanya butuh enam langkah pertemanan agar terhubung. Jadi si Trump atau Kim itu adalah “temannya teman dari teman dari teman dari teman dari teman saya”.

Itu secara fisik atau konvensional. Namun secara virtual, koneksi itu makin pendek. Melalui dunia maya kita bisa saling terhubung langsung dengan siapa saja, membentuk jejaring maha besar yang disebut Christakis & Flower dengan istilah “hyper-connected”.

Di dalam jejaring ini segala sesuatu bisa mengalir: gagasan, uang, dan—dalam kasus sekarang ini: penyakit. Dalam jejaring virtual, penyakit virtual bisa menular ke seluruh dunia dalam bentuk virus komputer. Dalam jejaring fisik-konvensional kuman menular ke seluruh dunia dalam versi aslinya: bakteri dan virus.
Persoalan bisa makin rumit karena sesungguhnya jejaring pertemanan ini tidak hanya satu ikatan, tapi banyak ikatan.

Apalagi di masyarakat yang koneksi sosialnya tinggi, seperti di Indonesia ini. Penularan penyakit bisa dari jalur kontak yang bermacam-macam. Mengapa? Karena masyarakat kita jauh lebih terhubung dari masyarakat di negara maju yang ikatan sosialnya cenderung terbatas.

Satu orang bisa menjadi bagian dari banyak koneksi atau kumpulan: kumpulan rekan kerja, kumpulan teman sekolah, teman ngopi, organisasi A-B-C-D-E sampai Z, kumpulan warga kampung, kumpulan jamaah ibadah, sampai kumpulan hobi: dari olah raga hingga mancing, adu ayam, bahkan mainan kekanak-kanakan. Dengan kumpulan yang bermacam-macam itulah penyakit mudah menular.

Kecuali Anda hidup sendiri di stasiun luar angkasa, dalam persebaran penyakit kita mudah ditulari dan saling menulari. Memang ada cara membuat koneksi ini terputus—secara fisik, tanpa harus mengasingkan diri ke wahana antariksa itu yaitu melalui isolasi diri. Secara teori ini mungkin, namun secara faktual sulit dilakukan, apalagi bagi masyarakat yang tidak memiliki kecukupan uang.

Untuk bisa efektif melakukan isolasi, anda harus: punya tempat isolasi yang sehat dan punya stok makanan bergizi cukup selama durasi isolasi. Pertanyaannya, berapa banyak yang punya privillage semacam itu? Hunian berdempet di tengah permukiman padat penduduk, stok makanan sedikit plus rendah gizi, pendapatan siklus harian/bulanan dengan tekanan hutang menyebabkan tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Isolasi sulit dilakukan secara sukarela oleh orang-orang dengan kondisi semacam ini.

Harus ada intervensi dari negara: intervensi regulasi yang dibarengi dengan subsidi. Perlebar jarak insentif psikologis antara yang menolak dan menurut, buat yang menolak sangat rugi dan menurut sangat untung. Yang menolak dipidana, yang menurut disediakan makanan selama periode isolasi. Semua kontrak hutang-piutang ditunda. Ya, sudah ada rilis kebijakan ini. Tinggal implementasinya yang harus benar-benar dilaksanakan. Untuk kali ini saja, semoga bukan seperti janji meroketkan ekonomi, korupsi dibasmi, atau mobil Esemka diproduksi. Harus benar-benar dilaksanakan, dan segera.

Selama periode isolasi masal pengetesan penderita dilakukan. Gunakan pola Terstruktur-Sistematis-Masif (TSM). Saya yakin para politisi yang telah menang dan kini menjadi pejabat baik di pusat dan daerah paham pola kerja TSM ini. Kali ini pengalaman kalian melakukan pola TSM diperlukan.

Jika tidak, ya mari disadari bersama. Sebagaimana prediksi banyak peneliti: Indonesia akan jadi episentrum baru Korona di dunia. Jumlah kasus paparan dan kematian meningkat secara eksponensial. Jika di negara maju yang rakyatnya makmur plus patuh penyebaran Korona mengikuti Kurva S, maka di Indonesia bisa jadi Kurva J. Indikasinya sudah ada bukan: tingkat kematian akibat Korona di Indonesia tertinggi di dunia: 9,3 %. Lebih tinggi dua kali lipat dari rata-rata dunia 4,2%.

Kalau itu asumsinya, maka penduduk Indonesia yang mayoritas beragama dan menolak pandangan Charles Darwin, kali ini harus mengakui teori evolusinya. Karena mengikuti mekanisme yang oleh Darwin disebut “survival for the fittest” dan “struggle for live”. “Ayo Korona, ke sini. Aku atau kamu yang mati!” mungkin seperti itu slogannya. Waduh!

~ Ahmad Faizin Karimi
Penulis, pengamat sosial politik
Tinggal di https://www.facebook.com/afkareem

Related Articles

Leave a Comment