Home Opini Menjaga Karamah Fatwa Ulama di Antara Nasihat Dokter, Rumus Ekonom, atau Pesan Langit

Menjaga Karamah Fatwa Ulama di Antara Nasihat Dokter, Rumus Ekonom, atau Pesan Langit

by Hartoko

Oleh NURBANI YUSUF

Yang menang adalah yang hening. Ulama tak boleh berisik apalagi gaduh agar “penghuni langit” tak mudah berubah pikiran.

Fatwa istighfar Imam Hasan al Bashri adalah contoh baik.  Itu fatwa yang tidak bersandar pada tabib ketika sepasang suami isteri sambat tidak punya anak, padahal sudah puluhan tahun menikah. Fatwa itu juga tidak menimbang pada nasihat ekonom kepada pedagang yang bangkrut atau kepada dapartemen pengairan dan irigasi terhadap bencana kekeringan yang menimpa sebuah wilayah.

Imam Hasan Bashri telah melepas dari ikatan hubud dun-ya, membebaskan diri dari urusan dunia fana. Beliau telah melampaui dan jauh menembus batas langit. Itulah Fatwa Ulama waskita hasil dari tirakat, bukan fatwa hasil menimbang, mengingat, dan memperhatikan.

Bahwa Penanganan pandemi yang gagal dan implikasi krisis ekonomi bakal menuai bencana adalah sebuah keniscayaan. Tetapi, apa urusannya dengan fatwa ulama yang membawa “pesan langit” ? Bukankah dokter, ekonom, dan politisi bukan variabel yang memengaruhi kebijakan Tuhan?

Pesan langit? Saya menyebutnya wangsit. Fatwa ulama sedang diuji. Seberapa dekat ia bisa menerjemahkan isyarah pandemi dan apa yang bakal terjadi kemudian. Ini bukan soal meramal apa yang bakal terjadi, tapi soal kehalusan hati menangkap hikmah.

Paramedis memprediksi apa yang bakal terjadi ketika new normal life diberlakukan. Akan terjadi kematian massal, karena wabah tidak terkendali.

Vaksin belum ditemukan. Maka, terbayang wabah akan semakin menggila. Histeria dan panik massal bakal terjadi.

Para ekonom bernasihat sama seputar kekhawatiran kemelaratan/kemiskinan dan kebangkrutan. Kekurangan pangan, inflasi yang tak terkendali, pengangguran dan kriminalitas merebak adalah fenomena yang menggejala. Bencana lapar juga membayang. Negara tak mampu berdiri tegak karena ditebas inflasi yang meroket.

Lantas kepada siapa fatwa ulama bersandar ? Kepada dokter, ekonom atau “pesan langit”?. Dokter dan ekonomi berebut dominan. Entah siapa yang akan dimenangkan. Itu dua hal krusial. Dua hal yang urgen dan dielematis. Semua mengandung risiko.

Potensi histeria dan panik massal sangat besar, baik karena wabah yang tidak terkendali atau krisis ekonomi yang melanda kehidupan. Bagi ulama, yang dibutuhkan adalah ketenangan, kekuatan batin, dan menjaga hubungan dengan Yang Maha Kudus agar tidak terputus, agar karamah fatwa tetap terjaga.

Fatwa Ulama bukan sekumpulan advice para dokter akibat pandemi atau rancangan proposal ekonom tentang masa krisis. Fatwa ulama adalah soal karamah tentang “kertas yang ditulis asma Allah” yang mampu membuat angin jahat berganti rahmat, air bah berubah jinak dan menyegarkan, pohon-pohon berhenti bertumbangan, dan virus korona tenang, diam, dan berhenti di tempatnya, tidak lagi kluyuran ke berbagai belahan dunia. (*)

*) Penulis adalah dosen di Universitas Muhammadiyah Malang, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Batu, dan Penggerak Komunitas Padhang Makhsyar

Related Articles

Leave a Comment