Home Kabar Ketika Rindu Membuncah,’Guling’ pun Jadi Obat Mujarab dan Cespleng

Ketika Rindu Membuncah,’Guling’ pun Jadi Obat Mujarab dan Cespleng

by Hartoko

GIRImu.com – Kalau rasa rindu telah membuncah, maka cara dan bahkan obat apa pun tak akan mempan memupusnya, kecuali satu hal. Apa itu? Bertemu!

Ya, bertemu. Hanya pertemuan yang bisa memupus rasa atau perasaan rindu. Termasuk rindu seorang siswa kepada ustadz dan ustadzahnya. Dan, inilah yang kemudian memantik kreativitas pengelola Sekolah Dasar Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas, Gresik untuk menelorkan program yang di antaranaya untuk mengobati kerinduan siswa-siswinya kepada para guru atau ustadz/ustadzahnya.

Nama program itu adalah Guling. Eiiiit… jangan salah sangka. Guling yang dimaksud dan menjadi salah satu program andalan SD Almadany di masa pandemi virus corona (Covid-19) ini, bukanlah “sahabat” bantal yang biasa menemani anak-anak bobok. Tetapi, Guling yang dimaksud adalah akronim dari guru keliling. Ya, Guru Keliling alias Guling.

Kegiatan Guru Keliling ini dinilai sangat membantu mengobati kerinduan anak-anak akan sekolah dan sekarang menjadi momen yang sangat ditunggu oleh siswa kelas 3 Antartika SD Almadany setiap minggunya. Pihak sekolah menjadwal pelaksanaan Guling sekali dalam sepekan (seminggu). Dengan demikian, sekali dalam seminggu anak-anak (sesuai jadwal) akan bertemu dengan ustadz/ustadzahnya. Plong, rasanya.

Di masa pandemi Covid-19 yang masih berlangsung dan memaksa anak-anak harus belajar dari rumah, SD Almadany memang tidak kehabisan akal melakukan terobosan yang dilakukan, di antaranya pembelajaran dalam jarinngan (daring/online), guru keliling, pemberian tugas project dan home visit.

Ketua paguyuban kelas 3 Antartika SD Almadany, Yuli Erna Wati, begitu antusias saat dimintai pendapatnya akan kegiatan Guru Keliling ini.

“Wah ini yang ditunggu-tunggu. Anak-anak sudah tak sabar ingin bertemu dengan ustad dan ustadzahnya. Ayo kapan dimulai,” ujarnya berapi-api.

Bunda dari Isra Kenzie Nazhari ini lalu menceritakan saat beberapa wali murid kelas 3 menanyakan kelanjutan pembelajaran putra-putrinya.

“Gimana ini Mom, anak saya sudah bosan belajar di rumah,” ungkap salah satu bunda yang langsung ditimpali bunda lainnya. “Ya, karena (belajar) di rumah terus, semangat belajarnya jadi turun, gak semangat dan cenderung malas.”

Yuli Erna Wati menambahkan, setelah berdiskusi dengan Ustadz Mahfudz Efendi, ditemukanlah formula yang bisa dijadikan alternatif pembelajaran untuk anak-anak di masa pandemi. Formula yang dimaksud adalah Guling, yang kemudian menjadi salah satu program SD Almadany di masa pandemi Covid-19.

Guru kelas 3 Antartika, Mahfudz Efendi, mengungkapkan, program Guling bisa menjadi pengobat rindu anak-anak akan sekolah atau ustadz dan ustadzahnya. Akan tetapi, tambahnya, pelaksanaannya perlu dikoordinasikan lebih lanjut terkait persyaratan utama, yaitu izin orang tua, pembatasan peserta tiap kelompok, pemberlakuan aturan protokoler kesehatan dan aturan- aturan lain yang perlu disepakati agar kegiatan ini tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Dan setelah semuanya dikoordinasikan dengan wali murid melalui WhatsApp Group mama Antartika, diputuskanlah kegiatan Guling ini dimulai pada 5 September 2020. Lalu untuk lebih akrab dan familiar, istilah Guling pun lalu melahirkan istilah baru, yakni “Tape Jumpridan”, akronim dari usTAdz Fendy JUMPa murID 3 Antartika

Aturan pun dibuat oleh paguyuban kelas 3 Antartika. Di antaranya, kegiatan Tape Jumpridan dibagi menjadi 3 kelompok dengan durasi waktu 45 menit tiap sesi. Jumlah siswa per kelompok dibatasi 6 orang. Tempatnya bergantian di rumah siswa.

Syarat lain, siswa boleh ikut jika ada izin dari orang tua, hanya siswa sehat yang boleh ikut (pengecekan suhu dengan thermogun di bawah 37⁰ C, cuci tangan dengan air dan hand sanitizer), siswa yang sakit tetap bisa mengikuti dari rumah (materi dan latihan soal dikirim bunda koordinator kelompok), memakai masker dan face shield, membawa meja lipat sendiri, tidak diperbolehkan meminjam peralatan tulis, duduk dengan menjaga jarak. Dan, selesai kegiatan langsung dijemput pulang.

Aturan yang cukup ketat ini menurut kontributor sangat diperlukan di masa seperti saat ini, ” ini semua demi anak-anak”

Dan saat Tape Jumpridan kedua dilaksanakan, Sabtu (12/9/2020) antusiasme anak-anak sungguh luar biasa. Mereka datang lebih awal dari jadwal yang telah ditentukan, terlihat wajah gembira mereka.

“Saya senang dan menantikan hari Sabtu tiba,” ujar M. Zanuba Fitrah Aqso.

Seorang tetangga yang kebetulan melihat aktivitas Tape Jumpridan ini turut memberikan kesannya. “Wah, enak ya Bu ada guru keliling. Anak-anak jadi bisa belajar efektif . Di sekolah anak saya gak ada seperti ini,”ujarnya

Pandemi Covid-19 memang telah membatasi dan merenggut kesempatan belajar anak-anak di sekolah secara normal. Mereka yang biasa mengikuti pembelajaran di sekolah, dengan sangat terpaksa harus menempuh proses pembelajaran dari rumah masing-masing.

Dan, salah satu dampak yang sangat mereka rasakan adalah rasa rindu yang tak terbendung dengan para guru atau ustadz/ustadzahnya karena telah berbulan-bulan mereka “dipisahkan” dengan ustadz/ustadzahnya. Dan, ketika rinduh telah membuncah dan nyaris tak terobati, Guling-lah yang menjadi obat mujarab dan cespleng. (Nina Puspitasari/Mahfudz Efendi)

Related Articles

Leave a Comment