Home Gerak Taufiqullah Ahmady: Protokol Kesehatan Saja Belum Cukup, Perlu Thaharah Maknawiyah

Taufiqullah Ahmady: Protokol Kesehatan Saja Belum Cukup, Perlu Thaharah Maknawiyah

by Hartoko

GIRImu.com – Di masa pandemi virus corona (Covid-19) yang hingga kini belum berakhir, hampir semua aktivitas “dipaksa” memanfaatkan perangkat digital, tidak terkecuali dunia pendidikan. Karena itu, Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gresik pun memilih cara virtual untuk menggelar pengajian “Dhuha Time“.

Seperti dilakukan, Kamis (5/11/2020) hari ini. Kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Tim Kehidupan Islami SD Muhammadiyah Kompleks Gresik di Jl. KH Kholil ini digelar sekaligus memperingati peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dengan tema “Meneladani Rasullulah SAW dalam Mendidik Anak”, kajian menghadirkan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, Dr KH Taufiqullah A. Ahmady, MPdI, sebagai nara sumber.

Dalam pengantarnya, Taufiqullah menyampaikan, sebagai hamba Allah, hendaknya setiap insan/manusia pandai bersyukur, apalagi dalam masa pandemi corona seperti saat ini. Meskipun suatu saat Gresik sudah masuk zona hijau, penerapan protokol kesehatan hendaknya tetap dilakukan. Sebab, cara hidup sehat itu juga selaras dengan ajaran Islam.

Ketua PDM yang masih aktif mengajar di SMAM 1 Gresik ini bahkan menekankan, sebagai Muslim sebenarnya belum cukup hanya dengan protokol kesehatan, tetapi juga harus melakukan thahara maknawiyah. Hal ini untuk mempercepat normalitas kehidupan yang ideal.

Dijelaskan, protokol kesehatan, misalnya mencuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer, memakai masker, phyisical distancing dan sejenisnya itu baru bersifat hissiyah, yaitu penyucian secara fisik. Tetapi suci secara fisik itu perlu juga disempurnakan dengan thaharah maknawiyah. Maksudnya, penyucian diri yang bersifat batin, misalnya membersihkan hati dari kesyirikan, zikir dan doa untuk memohon segera dijauhkan dari pandemi, dan meninggalkan perilaku tercela baik dalam bentuk perkataan (verbal) seperti saling caci maki dengan orang lain, maupun perbuatan (nonverbal) seperti menghindari hal hal yang bukan menjadi hak miliknya lalu diambil. Intinya, lanjut Taufiq, thaharsh maknawiyah itu menghindari perilaku yang tercela.

Peserta kajian Dhuha Time yang dilakukan secara online dengan Zoom kali kesembilan ini, tidak hanya diikuti para guru dan karyawan Majelis Dikdasmen Cabang Gresik, tapi juga terbuka untuk umum. Dengan link Zoom yang dibagikan sehari sebelumnya, panitia juga berharap, kajian ini juga bisa diikuti oleh masyarakat umum.

Taufiqulla memaparkan, Rasulullah sebenarnya tidak pernah memberikan konsep khusus dalam mendidik anak. Namun, dalam penerapannya para ulamalah yang justru menyusunnya berdasarkan hadis-hadis yang berkait dengan cara mendidik anak.

Dikatakan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mendidik anak. Di antaranya, mulai memilih pasangan hidup (suami/istri), membaca doa saat akan berhubungan suami-istri, menyambut kelahiran anak dengan doa, juga melakukan aqiqah atas nama anak.

Keempat hal itu dijelaskan dengan gamblang oleh guru sekaligus pendakwah ini. “Kita sebagai orang tua harus memenuhi hak-hak anak. Di antaranya, pemberian nama yang baik, mendidik dengan baik, juga memberikan tempat pendidikan yang baik. Di akhir kajiannya, Taufiqullah juga mengingatkan perlunya menanamkan sikap disiplin kepada anak dalam sholat, keadilan, dan kemandirian sejak kecil. (ais)

Kontributor: Aisyi Hartini

Related Articles

Leave a Comment