Home Opini Pak AR : Surat Ar Rahman Jangan Samakan Seperti Lagu Bengawan Solo

Pak AR : Surat Ar Rahman Jangan Samakan Seperti Lagu Bengawan Solo

by Akhmad Sutikhon

Di rapat-rapat, pada tabligh-tabligh akbar, pada pengajian pengajian, pada sidang-sidang Cabang, Sidang Ta’aruf, Musyawarah Kerja, Munas dan lain-lain pertemuan dari kalangan kita keluarga Muhammadiyah yang sering dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Berhubung dengan kebiasaan itu, maka di sini disampaikan pedoman sekedarnya.

1. Kalau kira-kira tak ada yang membaca, lebih baik jangan diada-adakan, jangan dipaksa-paksakan. Karena, tidaklah wajib, setiap rapat, pertemuan itu harus dibacakan Al Qur’an.

2. Tabarrukan, mengharapkan barokah Al-Qur’an, bukan sekedar mendengarkan dengan diam, tenang, meninggalkan ruku’nya, dan sebagainya. Bukan sekedar dengan itu. Tabarrukan terhadap Al-Qur’an itu ialah menjalankan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.. Itulah tabarrukan.

3. Kalau bacaan Al-Qur’an itu kira-kira tidak akan didengarkan, lebih baik janganlah Al-Qur’an itu dibacakan.

4. kalau pada waktu tengah-tengah Alquran pada waktu tengah-tengah Alquran itu sedang dibacakan tiba-tiba ramai maka lebih baik Janganlah Alquran itu dibacakan.

5. Kalau bacaan Alquran itu dibacakan dimuka dimuka dimuka orang umum, janganlah hanya bersifat demonstratif, jangan bersifat pameran. Tetapi bermaksudlah agar orang umum itu dapat memahami akan maksudnya.

6 Membaca Al-Qur’an janganlah menimbulkan ta’ajub akan lagu, suara, gaya, dan kecantikan membacanya saja. Melainkan usahakanlah agar dengan Al-Qur’an itu mereka yang mendengar itu merasa terbimbing hatinya untuk beragama, untuk mematuhi perintah-perintah Allah dan takut melanggar perintah-perintah-Nya.

7. Membaca Al-Qur’an di muka umum jangan terlalu panjang. Tidak harus menghabiskan satu maqta’. Hanya ingin menampakkan kemahiran berlagu dan bergaya. Bacalah dua tiga ayat yang membawa dan menimbulkan kekhusyukan, tambahnya taqwa kepada Allah.

8. Bacalah Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh. Dengan jiwa, biarlah lagunya tidak harus mempesonakan. Tetapi dapat memberi kesan baik, yang menembus ke hati para pendengarnya. Kalau diusahakan benar-benar, insya Al lah berhasil.

9. Membaca Al-Qur’an di hadapan ummat campuran pria dan wanita, janganlah pembaca wanita, Lebih baik pembaca pria, kalau maksudnya dengan maksud baik. Kecuali kalau sekedar pameran. Tetapi kalau sekedar “pameran” baiknya hal itu jangan terjadi di kalangan keluarga Muhammadiyah.

10. Membaca Al-Qur’an dihadapan orang-orang tua, orang banyak, kalau benar dikehendaki petunjuknya, kalau dikehendaki dapat membawa kekhusyukan, janganlah pembacanya “anak-anak” yang umurnya belum dewasa. Itu hanya pameran. Itu hanya demonstrasi meskipun bacaannya baik, terjemahannya baik, bahasanya baik Tetapi itu hanya menimbulkan ta’jub kepada yang membaca, bukan menambah rahmat. Malahan kadang kadang menambah laknat. Tanggapan orang bukan istighfar, bukan tasbih, bukan tahmid, tetapi “wah boleh suaranya”, “wah boleh qiroatnya”, “wah boleh tajwidnya”, “boleh nafasnya”, bahkan kadang-kadang “wah boleh rupanya”, “wah boleh berkerudungnya”, masya Allah!!! Kalau mau musabaqah Al-Qur’an anak-anak, musabaqah Al-Qur’an orang-orang dewasa, musabaqah Al-Qur’an pelajar SD, pelajar SMP, pelajar SLTA, mahasiswa, silahkan, silahkan. Tetapi jangan membaca Al-Qur’an di dalam pertemuan-pertemuan, di pengajian-pengajian, hanya untuk hebat-hebatan, hanya untuk boleh-bolehan, hanya untuk dinilai, hanya untuk ta’ajub-ta’ajuban, bukan untuk diambil hidayah petunjuknya.

11. Satu hal yang pantas diperingatkan. Bacaan Al-Qur’an dibuat piringan hitam, setuju. Dikasetkan, pun baik. Tetapi diputar dimana orang-orang sedang bicara, sedang bergurau-gurau, sedang orang hilir mudik, menurut hemat saya adalah hal yang tidak dapat dibiarkan. Kalau mau diputar, silahkan, tetapi dengarkanlah, tenanglah, fikirkanlah arti dan maknanya. Janganlah ada rasa kaset surat Ar-Rohman hanya dianggap seperti halnya kaset lagu “Bengawan Solo”. Jangan piringan hitam surat Al-Mulk hanya disamakan dengan piringan hitam lagu-lagunya Titiek Puspa, sekedar untuk menanti datangnya orang-orang yang belum datang. Atau, piringan hitam surat Yusuf diputar pada saat-saat pengajian diistirahatkan sambil dihidangkan minuman dan makanan. Perbuatan yang demikian, hendaknya tidak usah terjadi di kalangan keluarga Muhammadiyah. Kita memang wajib senang kepada bacaan Al-Qur’an, tetapi janganlah Al-Qur’an hanya dibangsakan dengan lagu-lagu hiburan, dengan gambus “Al-Munir”, atau dengan hiburan gambus orkes “Al Wardah”, dan sebagainya.

12. Bacalah ayat-ayat Al-Qur’an sebelum pengajian, sebelum musyawarah dilangsungkan, sebelum muktamar terjadi, tetapi bacalah dengan sungguh-sungguh. Bacalah dengan khusyuk. Bacalah dengan penuh kerendahan hati untuk dan mengharapkan hidayat-Nya. Pembacaan pun carikan or ang yang berwibawa. Satu dua ayat pun jadi. Cukup dua tiga ayat. Tidak berlagu pun cukup. Asal benar-benar untuk mencari keridhaan Allah. Tidak diartikan pun boleh, kalau dirasakan bahwa hadirin dan hadiratnya sudah dapat memahami. Kalau mau diartikan baik, tetapi mengartikannya pun juga harus benar-benar yang dapat Tumengesankan, menambah ketaqwaan kita kepada Allah. Al-Qur’an bukan bacaan semata-mata, Al-Qur’an bukan pu lagu hiburan. Al-Qur’an bukan sajak yang hanya untuk kagum-kaguman. Al-Qur’an untuk hudan lil muttaqin. Al-Qur’an yahdi lillati hiya akhsan. Al-Qur’an yahdi lillati hiya aqwamu. Untuk dijadikan pengertian.

Dahulu, di saat-saat Muhammadiyah baru didirikan, Al Qur’an itu di masyarakat selalu dibaca, tetapi tanpa diartikan dan yang membacapun pada umumnya tidak mengerti akan maksud dan artinya.

Ada orang khitanan, pada perhelatan perkawinan, pada orang sakit, pada orang hampir meninggal, pada sedekah sedekah habis orang meninggal, pada upacara-upacara pindah rumah, pada upacara-upacara syukuran dan sebagainya dibacakan Al-Qur’an.

Kadang-kadang ayat Kursi, kadang-kadang Surat Yusuf, surat Yasin, surat Al-Kahfi, surat Waqi’ah, dan sebagainya. Tetapi orang tidak tahu apa maksudnya bacaan itu. Bahkan kadang-kadang satu Qur’an dibaca oleh orang tiga puluh, masing-masing satu juz, bersama-sama, beramai-ramai, dan sesudah selesai dibacakan doa khataman. Kemudian terus kenduri, juga tidak tahu apa artinya, apa maksudnya yang

dibaca. Demikianlah masyarakat Islam dan bacaan Al-Qur’an sebelum Muhammadiyah berdiri.

Almarhum K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Al-Qur’an dibaca bukan lagunya yang dipentingkan, tetapi maksudnya. Kadang-kadang Kyai Dahlan sendiri yang membacanya. Karena yang mau diterangkan soal bagaimana pemeliharaan anak yatim, maka surat Aro-aital yang dibaca. Kalau yang mau diterangkan soal baiknya bersedekah dalam agama Allah, maka dibaca-bacalah satu dua ayat yang memuat hal itu. Yang beriman, diamalkanlah perintah-perintah Al-Qur’an. Yang belum iman, tidak mengamalkan, tetapi sekurang-kurangnya tahu akan artinya.

Demikianlah K.H. Ahmad Dahlan membaca Al-Qur’an.
(Artikel ini berjudul asli pedoman membaca Al Quran, diambil dari buku mengenal dan menjadi Muhammadiyah KH AR Fachruddin/ penerbit UMMpress- 2009)

Di rapat-rapat, pada tabligh-tabligh akbar, pada pengajian pengajian, pada sidang-sidang Cabang, Sidang Ta’aruf, Musyawarah Kerja, Munas dan lain-lain pertemuan dari kalangan kita keluarga Muhammadiyah yang sering dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Berhubung dengan kebiasaan itu, maka di sini disampaikan pedoman sekedarnya.

1. Kalau kira-kira tak ada yang membaca, lebih baik jangan diada-adakan, jangan dipaksa-paksakan. Karena, tidaklah wajib, setiap rapat, pertemuan itu harus dibacakan Al Qur’an.

2. Tabarrukan, mengharapkan barokah Al-Qur’an, bukan sekedar mendengarkan dengan diam, tenang, meninggalkan ruku’nya, dan sebagainya. Bukan sekedar dengan itu. Tabarrukan terhadap Al-Qur’an itu ialah menjalankan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.. Itulah tabarrukan.

3. Kalau bacaan Al-Qur’an itu kira-kira tidak akan didengarkan, lebih baik janganlah Al-Qur’an itu dibacakan.

4. kalau pada waktu tengah-tengah Alquran pada waktu tengah-tengah Alquran itu sedang dibacakan tiba-tiba ramai maka lebih baik Janganlah Alquran itu dibacakan.

5. Kalau bacaan Alquran itu dibacakan dimuka dimuka dimuka orang umum, janganlah hanya bersifat demonstratif, jangan bersifat pameran. Tetapi bermaksudlah agar orang umum itu dapat memahami akan maksudnya.

6 Membaca Al-Qur’an janganlah menimbulkan ta’ajub akan lagu, suara, gaya, dan kecantikan membacanya saja. Melainkan usahakanlah agar dengan Al-Qur’an itu mereka yang mendengar itu merasa terbimbing hatinya untuk beragama, untuk mematuhi perintah-perintah Allah dan takut melanggar perintah-perintah-Nya.

7. Membaca Al-Qur’an di muka umum jangan terlalu panjang. Tidak harus menghabiskan satu maqta’. Hanya ingin menampakkan kemahiran berlagu dan bergaya. Bacalah dua tiga ayat yang membawa dan menimbulkan kekhusyukan, tambahnya taqwa kepada Allah.

8. Bacalah Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh. Dengan jiwa, biarlah lagunya tidak harus mempesonakan. Tetapi dapat memberi kesan baik, yang menembus ke hati para pendengarnya. Kalau diusahakan benar-benar, insya Al lah berhasil.

9. Membaca Al-Qur’an di hadapan ummat campuran pria dan wanita, janganlah pembaca wanita, Lebih baik pembaca pria, kalau maksudnya dengan maksud baik. Kecuali kalau sekedar pameran. Tetapi kalau sekedar “pameran” baiknya hal itu jangan terjadi di kalangan keluarga Muhammadiyah.

10. Membaca Al-Qur’an dihadapan orang-orang tua, orang banyak, kalau benar dikehendaki petunjuknya, kalau dikehendaki dapat membawa kekhusyukan, janganlah pembacanya “anak-anak” yang umurnya belum dewasa. Itu hanya pameran. Itu hanya demonstrasi meskipun bacaannya baik, terjemahannya baik, bahasanya baik Tetapi itu hanya menimbulkan ta’jub kepada yang membaca, bukan menambah rahmat. Malahan kadang kadang menambah laknat. Tanggapan orang bukan istighfar, bukan tasbih, bukan tahmid, tetapi “wah boleh suaranya”, “wah boleh qiroatnya”, “wah boleh tajwidnya”, “boleh nafasnya”, bahkan kadang-kadang “wah boleh rupanya”, “wah boleh berkerudungnya”, masya Allah!!! Kalau mau musabaqah Al-Qur’an anak-anak, musabaqah Al-Qur’an orang-orang dewasa, musabaqah Al-Qur’an pelajar SD, pelajar SMP, pelajar SLTA, mahasiswa, silahkan, silahkan. Tetapi jangan membaca Al-Qur’an di dalam pertemuan-pertemuan, di pengajian-pengajian, hanya untuk hebat-hebatan, hanya untuk boleh-bolehan, hanya untuk dinilai, hanya untuk ta’ajub-ta’ajuban, bukan untuk diambil hidayah petunjuknya.

11. Satu hal yang pantas diperingatkan. Bacaan Al-Qur’an dibuat piringan hitam, setuju. Dikasetkan, pun baik. Tetapi diputar dimana orang-orang sedang bicara, sedang bergurau-gurau, sedang orang hilir mudik, menurut hemat saya adalah hal yang tidak dapat dibiarkan. Kalau mau diputar, silahkan, tetapi dengarkanlah, tenanglah, fikirkanlah arti dan maknanya. Janganlah ada rasa kaset surat Ar-Rohman hanya dianggap seperti halnya kaset lagu “Bengawan Solo”. Jangan piringan hitam surat Al-Mulk hanya disamakan dengan piringan hitam lagu-lagunya Titiek Puspa, sekedar untuk menanti datangnya orang-orang yang belum datang. Atau, piringan hitam surat Yusuf diputar pada saat-saat pengajian diistirahatkan sambil dihidangkan minuman dan makanan. Perbuatan yang demikian, hendaknya tidak usah terjadi di kalangan keluarga Muhammadiyah. Kita memang wajib senang kepada bacaan Al-Qur’an, tetapi janganlah Al-Qur’an hanya dibangsakan dengan lagu-lagu hiburan, dengan gambus “Al-Munir”, atau dengan hiburan gambus orkes “Al Wardah”, dan sebagainya.

12. Bacalah ayat-ayat Al-Qur’an sebelum pengajian, sebelum musyawarah dilangsungkan, sebelum muktamar terjadi, tetapi bacalah dengan sungguh-sungguh. Bacalah dengan khusyuk. Bacalah dengan penuh kerendahan hati untuk dan mengharapkan hidayat-Nya. Pembacaan pun carikan or ang yang berwibawa. Satu dua ayat pun jadi. Cukup dua tiga ayat. Tidak berlagu pun cukup. Asal benar-benar untuk mencari keridhaan Allah. Tidak diartikan pun boleh, kalau dirasakan bahwa hadirin dan hadiratnya sudah dapat memahami. Kalau mau diartikan baik, tetapi mengartikannya pun juga harus benar-benar yang dapat Tumengesankan, menambah ketaqwaan kita kepada Allah. Al-Qur’an bukan bacaan semata-mata, Al-Qur’an bukan pu lagu hiburan. Al-Qur’an bukan sajak yang hanya untuk kagum-kaguman. Al-Qur’an untuk hudan lil muttaqin. Al-Qur’an yahdi lillati hiya akhsan. Al-Qur’an yahdi lillati hiya aqwamu. Untuk dijadikan pengertian.

Dahulu, di saat-saat Muhammadiyah baru didirikan, Al Qur’an itu di masyarakat selalu dibaca, tetapi tanpa diartikan dan yang membacapun pada umumnya tidak mengerti akan maksud dan artinya.

Ada orang khitanan, pada perhelatan perkawinan, pada orang sakit, pada orang hampir meninggal, pada sedekah sedekah habis orang meninggal, pada upacara-upacara pindah rumah, pada upacara-upacara syukuran dan sebagainya dibacakan Al-Qur’an.

Kadang-kadang ayat Kursi, kadang-kadang Surat Yusuf, surat Yasin, surat Al-Kahfi, surat Waqi’ah, dan sebagainya. Tetapi orang tidak tahu apa maksudnya bacaan itu. Bahkan kadang-kadang satu Qur’an dibaca oleh orang tiga puluh, masing-masing satu juz, bersama-sama, beramai-ramai, dan sesudah selesai dibacakan doa khataman. Kemudian terus kenduri, juga tidak tahu apa artinya, apa maksudnya yang

dibaca. Demikianlah masyarakat Islam dan bacaan Al-Qur’an sebelum Muhammadiyah berdiri.

Almarhum K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Al-Qur’an dibaca bukan lagunya yang dipentingkan, tetapi maksudnya. Kadang-kadang Kyai Dahlan sendiri yang membacanya. Karena yang mau diterangkan soal bagaimana pemeliharaan anak yatim, maka surat Aro-aital yang dibaca. Kalau yang mau diterangkan soal baiknya bersedekah dalam agama Allah, maka dibaca-bacalah satu dua ayat yang memuat hal itu. Yang beriman, diamalkanlah perintah-perintah Al-Qur’an. Yang belum iman, tidak mengamalkan, tetapi sekurang-kurangnya tahu akan artinya.

Demikianlah K.H. Ahmad Dahlan membaca Al-Qur’an.
(Artikel ini berjudul asli pedoman membaca Al Quran, diambil dari buku mengenal dan menjadi Muhammadiyah KH AR Fachruddin/ penerbit UMMpress- 2009)

Related Articles

Leave a Comment