Home Opini Pendidik dan Ironi Mengenal Anak Didiknya

Pendidik dan Ironi Mengenal Anak Didiknya

by Redaktur 1

Oleh IMAM POERI

Dalam dunia pendidikan, menjadikan anak didik atau peserta didik menjadi lebih baik (dalam banyak hal) merupakan tujuan yang lazim diinginkan oleh pendidik. Namun, dalam praktiknya tidak semua pendidik (mau) memahami kondisi –baik fisik maupun psikis– anak didiknya. Akibatnya, tak sedikit misi dan tujuan mulia pedidikan kandas di tengah jalan.

Memang, memahami kondisi anak didik, terutama ketika pada masa anak-anak, seperti tengah berjalan di hutan belantara yang penuh semak belukar, juga medan curam yang setiap saat bisa menggelincirkan pelakunya ke jurang. Hal itu diperparah jika “pengelana hutan” itu tak mengenal medan dengan baik.

Karena itu, seorang pendidik mesti memiliki ketajaman mata seperti elang yang mampu mendeteksi sasaran yang menjadi target. Ia juga mesti memiliki kepekaan telinga untuk bisa mendengar dan mengendus permasalahan yang dialami peserta didiknya. Lebih dari itu, seorang pendidik hendaknya mampu membaca gerak pikiran, perasaan, dan hati anak didiknya dengan senantiasa siap “menghadirkan diri” dalam dunia anak didiknya dalam situasi dan kondisi apa pun.

Tanpa mengenal medan dengan baik, dalam hal ini kondisi anak didik, mustahil proses pembelajaran bisa mencapai target dengan baik. Sejumlah hal bisa menjadi faktor kegagalan dalam mendidik anak, dari yang dikategorikan pandai hingga yang “bodoh” sekalipun. Tak jarang pendidik terjebak dalam stigma dan menjustifikasi anak didik sulit, bahkan tak mungkin bisa pandai. Ini yang secara tidak langsung akan berpengarug pada ghirah dan effort untuk pendidik dalam menjalankan dan merealisasikan target pendidikan.

Perlu diketahui, secara personal setiap anak memiliki masa peka untuk menerima dan merespon informasi yang datang dari luar dirinya. Dan, setiap anak memiliki kadar kepekaan yang berbeda satu dengan lainnya. Jika masa peka itu datang tepat waktunya, anak pun cepat merespon infomasi. Begitu juga sebaliknya.

Selain itu, setiap anak berbeda dalam kesiapan menerima informasi. Ada yang tipenya lamban, sedang, atau cepat. Perbedaan itu sangat bergantung pada jenis informasinya, misalnya menyenangkan atau sebaliknya, membosankan. Hal lain yang perlu diketahui, setiap anak memiliki perbedaan minat dan bakat yang beragam pula dalam merespon informasi. Bagi yang berminat dan berbakat terhadap informasi yang datang, maka ia akan meresponnya dengan cepat. Sebaliknya, jika tidak sesuai, tentu akan lambat meresponnya.

Selain aspek internal dari anak didik, perangai dan sikap pendidik juga berpengaruh terhadap proses keberhasilan pendidikan. Anak didik sudah pasti suka dengan pendidik berperangai lembut, ceria, penuh belaian kasih sayang, kata sanjungan yang dibalut penuh keihlasan.  Lebih dari itu, pendidik yang mampu mengintegrasikan diri dengan anak didiknya, serta selalu berempati dan bersimpati, dapat dipastikan akan mendapat tempat khusus dan bisa dengan mudah mentransfer ilmu atau misi dan tujuan pendidikan.

Terlepas dari faktor internal anak didik dan pendidiknya, metodologi pendidikan juga sangat penting untuk dijadikan bekal. Seorang pendidik harus memiliki kemampuan mencari dan mecipta metode pembelajaran, agar bila anak didik menemui kesulitan merespon informasi yang disampaikan, akan dengan cepat mengganti dan menggunakan metode lain yang pas dengan kondisi anak didiknya. Pendidik tak seharusnya “terkungkung dan mendewakan” satu metode pembelajaran, sementara kondisi kejiwaan, sosial, ekonomi, daya serap anak didiknya beragam.

Media pembelajaran tak kalah penting dan berpengaruhnya terhadap proses pembelajaran. Media yang menarik dan mudah dipahami, akan menjadi magnet bagi anak didik untuk dengan mudah menerima informasi atau pesan yang disampaikan pendidik. Perangkat media tidak harus mewah dan mahal. Anggota tubuh kita bisa dijadikan media. Demikian pula, aneka barang di sekitar kita, juga bisa dimanfaatkan. Di era digital seperti sekarang ini, hadirnya media berbasis teknologi informasi juga akan men-support percepatan komunikasi pendidik dengan anak didiknya.

Hal lain yang kerap menjadi bumerang dalam proses pembelajaran adalah sikap memaksakan diri untuk bisa melakukan sesuatu dengan cara membandingkan anak yang satu dengan anak lainnya. Asumsinya, kalau yang satu bisa, yang lain juga harus bisa. Ini sikap gegabah dan ceroboh pendidik. Ingat, jangan menyuruh katak bisa terbang seperti burung, atau memaksa kura-kura berjalan cepat seperti kelinci.

Tentang tempat belajar, bisa di mana saja. Belajar bisa di kelas, di alam terbuka, di gudang, dalam perjalanan, di atas meja makan, dan sebagainya. Di lokasi beragam itu, pendidik bisa menyampaikan informasi atau materi pembelajaran. Dari sinilah jenis pembelajaran, baik yang bersifat kognitif, afektif, maupun psikomotorik, dapat diajarkan secara leluasa.

Tak kalah pentingnya, berikan materi pembelajaran itu sesuai dengan masa perkembangan jiwa anak didik dan kesepadanan kematangannya. Jangan memberikan kelereng jika kematangan jiwanya belum sampai, karena bisa-bisa kelereng itu ditelan. Atau jangan anak diberi uang saat kematangan dalam memanfaatkan uang belum cukup, karena bisa jadi uang itu dirobek-robek. Jadi, faktor kesepadanan dan kematangan sangat penting untuk diperhatikan dalam pendidikan.

Hal sederhana yang kadang kurang diperhatikan pendidik adalah masalah pematah semangat anak didik. Ini kerap terjadi, misalnya dengan melontarkan kata-kata atau ungkapkan yang bisa melukai hati atau memupus semangat belajar anak didik. Ingat, celaan dan ancaman, juga hukuman yang tak sewajarnya hakikatnya tidaklah mendidik. Sebab, saat itulah pendidik telah menanami jiwa anak memiliki perasaan bodoh, tidak percaya diri, kehilangam motivasi, bahkan sampai putus asa dan mendendam.

Sudahi kebiasaan itu dan ubahlah dengan memberikan pujian atas prestasi dan kebaikan anak didik, sekecil apa pun. Dari situ motivasi anak didik terbangun. Pada gilirannya, upaya mendulang prestasi pun akan menjadi keniscayaan. (*)

*) IMAM POERI adalah pegiat pendidikan, Sekretaris Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebomas, Gresik.

Related Articles

Leave a Comment