Home Opini Ambisi, Keyakinan, dan Faktor Risiko

Ambisi, Keyakinan, dan Faktor Risiko

by Redaktur 1

Oleh IMAM POERI

Setiap orang pasti memiliki ambisi dan keyakinan. Hal ini mengingat manusia yang dikaruniai Tuhan yang Mahakuasa: akal pikiran, hati nurani, dan jiwa akan selalu berkeinginan untuk mengubah dunia menjadi lebih berkemajuan demi kesejahteraan dan kemakmuran umat di bumi, yang dikenal dengan sebutan dunia.

Ambisi merupakan keinginan yang amat kuat. Ini yang kemudian melahirkan cita-cita yang kuat pula. Ambisi dipandang dari sisi yang positif tentu dilakukan atas dasar kemanfaatan bagi orang banyak. Sebaliknya, kehancuran dan kesengsaraan bagi berbagai orang disebabkan oleh ambisi negatif.

Ambisi positif atau negatif terlihat pada hasil akhirnya, yakni bermanfaat atau sebaliknya, kesengsaraan. Inilah persoalan yang perlu diantisipasi seiring dengan proses pencapaian objek yang dikerjakan berlandaskan ambisi.

Dorongan kuat akan keberhasilan ambisi yang telah ditargetkan adalah keyakinan kuat yang tertanam di dalam pikiran serta nafsu yang ada dalam diri kita.Sementara keyakinan merupakan sebuah hipotesis yang perlu dibuktikan dengan berbagai cara, baik berupa penelitian yang menyertakan data, fakta,  dan referensi dari berbagai disiplin ilmu. Tak ketinggalan, banyaknya jam terbang dalam mengais pengalaman juga menjadi faktor pendukungnya.   .

Pembuktian akan keyakinan tersebut –dalam prosesnya– diperlukan kekuatan spiritual sebagai penentu keberhasilan, yaitu Sang Khaliq. Di sinilah mulai diketahui ambisi kebermaknaan positif bagi orang lain. Sementara ada orang yang merasa, bahwa semua keberhasilan itu semata-mata atas jerih payah dirinya, tanpa campur tangan Tuhan. Dan, ini menjadi unsur ambisi negatif.

Perlu diingat, dari semua keyakinan tersebut, pasti tidak akan menyisakan faktor risiko, yakni akibat langsung maupun tidak langsung dari hasil yang diperolehnya. Risiko itu terutama dari kegagalan yang dampaknya bisa merugikan, tidak saja pada yang bersangkutan, tetapi juga  orang lain dan lingkungannya. Bahkan akan lebih celaka jika risiko yang berdampak itu dianggap remeh dan terus berjalan untuk memenuhi ambisinya dan menafikan campur tangan Tuhan.

Kita perlu mengambil pelajaran, bahwa ambisi, keyakinan, dan risiko harus disandarkan pada ketentuan Tuhan. Batasi ambisi dengan tetap memperhatikan pemikiran banyak orang yang berlaku secara umum, lebih-lebih dari sesama pakar, pengamat, atau pemerhati. (*)

*) IMAM POERI, pegiat pendidikan, Sekretaris Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebomas, Gresik.

Related Articles

Leave a Comment