Home Kabar Pandemi Di Negeri Orang

Pandemi Di Negeri Orang

by Akhmad Sutikhon

Sejak ditetapkan Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) 3.0 awal bulan Juni yang lalu, aku telah diungsikan majikanku kedaerah perkebunan. Tempat yang jauh dari keramaian, tepatnya di daerah Lenggeng Negeri Sembilan Malaysia. Majikanku ini bernama Ho Chok Chong. Dan biasa aku panggil dengan Mr. Ho.

Disini, setiap lot tanah ukuranya satu hektar, dan hanya dibenarkan dibangun satu unit rumah. Jadi kelihatan sepi, apalagi kalau malam tiba.
Tepat didepan tempat tinggalku, ada orang berbangsa cina berbadan tinggi dan gempal, namanya Ah Tee. Dia ini kawanya Mr. Ho jadi akupun tidak mengambil waktu lama untuk bisa akrab denganya. Apalagi setelah rumah yang dibangun sebelum PKP 3.0 dulu sudah 95% siap dan bisa diduduki. Musim panen durian dan buah-buahan lain, juga membuat dia betah tinggal disini dan jarang pulang kerumahnya di Kuala Lumpur. Hanya seminggu sekali, bahkan terlihat dua anaknya yang sering datang ke sini.

Munzirn

Sering juga kalau malam kami habiskan waktu bersama Ah Tee ngobrol-ngobrol. Kadang aku main ketempatnya, kadang juga dia main ketempatku, kalau aku tidak ada kegiatan online PCIM, PRIM Kepong dan juga IKAWAMURAW.

Ah Tee ini orangnya sangat disiplin dan rajin. Dia Boss Besar. Dia juga mempunyai PT di Indonesia dan beberapa account bank Indonesia. Menurutnya, sebelum wabah corona melanda dunia, dia dulu sering berulang-alik (Indonesia-Malaysia).

“Dulu sebelum corona melanda dunia, dalam satu bulan, saya dua minggu di Indonesia, dua minggu di Malaysia. Sekarang saya berhubung dengan beberapa karyawan saya yang masih ada hanya lewat online. Gaji dia orangpun saya transfer dari sini saja. Separuh dari karyawan terpaksa saya berhentikan karna kerjapun kurang. Dan yang masih kerjapun hanya keja dari rumah (online)”, katanya.

Ok, sekarang kita cerita tentang Vaksinasi. Ah Tee, sudah divaksin lengkap dua dosis. Karna dia sering keluar ke pekan menghantar buah panenan. Sekitar 3 minggu yang lalu, dia terpapar covid-19 dan lansung pulang ke rumahnya di Kuala Lumpur isolasi mandiri. Seminggu sebelum dinyatakan positif covid, aku nggak pernah ketempatnya dan diapun nggak pernah ketempatku. Aku tau dia sedang sibuk karna pada waktu itu sedang ada dua orang pekerja bangunan, menyambung pekerjaan dirumahnya yang belum selesai. Dia tiba-tiba menelpon sedang di Kuala Lumpur dan positif covid.

Menrutnya, keadanya cukup parah juga. Mungkin karna sudah divaksin dan Isolasi mandiri, setelah hampir 20 hari keadanya mulai membaik. dan pagi ini tepatnya tanggal 20 Agustus dia bisa datang ke kebun lagi, Alhamdulillah.

Jadi, apa yang bisa kita ambil palajaran dari kasus Ah Tee ini. Menurutku, meskipun kita sudah diberi suntikan vaksin lengkap dua dosis, bukan bermakna, tubuh kita bisa anti virus corona.

Dan seperti kata para pakar seluruh dunia, ijtihad para ulamak dan juga fatwah Muhammadiyah, yang mendukung program Vaksinasi pemerintah. Vaksinasi adalah sebagai ikhtiar untuk mencapai herd imunity melawan virus menuju hidup sehat. Jadi meskipun sudah di vaksin tetap waspada dan patuhi protokol kesehatan.

Di Malaysia, program vaksinasi kebangsaan (Nasional), dimulai tanggal 24 February 2021.
Sampai saat ini program vaksinasi kebangsaan terus lancar. Karnah sistem kemudahan dan gratis. Aku sendiri sebagai warga asing yang bekerja di sini turut mendapat kemudahan vaksin. Dan aku sudah diberi dua suntikan vaksin sinovac. Dosis pertama pada 29 juli 2021, dan dosis kedua pada 19 Agustus 2021.

Alhamdulillah, pada akhirnya kerajaan Malaysia membuka kelonggoran bagi individu yang sudah divaksin lengkap dua dosis.

Pengumuman telah dibuat perdana menteri Malaysia dan dikuatkuasakan sejak tanggal 10 Agustus 2021. Kelonggaran tersebut berlaku setelah hari ke 14 bagi penerima dua dosis suntikan Pfizer, Astrazaneca dan Sinovac.

Adapun kelonggaran-kelonggaran itu seperti aktifitas harian, sosial dan ibadah tapi tetap dengan protokol kesehatan.

Untuk sampai di tahap ini kerajaan malaysia juga telah mengambil beberapa langkah termasuk Pelan Pemulihan Negara (PPN). Yang merupakan strategi peralihan keluar secara ber-fasa, yang dimulai sejak tanggal 15 Juni 2021.

Pada mulanya program vaksinasi di Malaysia ini dilaksanakan ada juga kelompok yg meragukan vaksinasi. Seperti halnya juga di Indonesia. Dari tulisan tulisan yang di unggah di media sosial terutama di group group WA, menurutku ada dua kelompok yang bertolalak brlakang dalam menyikapi pandemi ini (ekstrim kanan dan ekstrim kiri).

Pertama, Ekstrim kanan.
Adalah golongan yang terlalu berlebihan dalam bersikap. Golongan Ektrim kanan ini tenggelam dalam kecemasan dan kekhawatiran yang tidak wajar. Hingga taraf mengalami gangguan paranoid atau takut berlebihan. Hal ini dipicu dari terlalu sibuk siang dan malam mengupdate berita yang mengerikan tentang parahnya lonjakan penularan virus.

Sekedar mengetahui secara global kondisi terkini level pandemi tentu penting, untuk meningkatkan kewaspadaan. Namun tidak boleh berlebihan. Bukankah ketenangan hati dan ketentraman jiwa di masa genting seperti ini sangat diperlukan untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Yang kedua, Ektrim ke kiri.
Adalah mereka yang bersikap meremehkan pandemi. Sikap menyepelehkan itu bertingkat-tingkat. Ada yg sama sekali tidak percaya adanya covid-19. Ada yang percaya, namun menganggap bahwa penyakit ringan biasa. Ada pula yang percaya namun malas menerapkan protokol kesehatan. Tidak peduli bahwa sikap cueknya itu bisa membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.

Keberadaan golongan ini memiliki andil yang sangat besar untuk memicu drastisnya peningkatan kasus positif covid-19.

Jadi, yang Ideal adalah bersikap pertengahan. Yaitu mengambil sikap waspada meskipun sudah di suntik vaksin. Tanpa ketakutan yang berlebihan. Menjalankan protokol ketat kesehatan.

Jika sudah masimal dalam betawakal dan berikhtiar pencegahan lalu di takdirkan tertular, maka tetap optimisme bahwa Allah Maha Kuasa untuk menyembuhkan.

Sebagai umat Nabi termulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tentu umat Islam dikaruniai oleh Allah banyak keistimewaan yang tidak diberikan pada umat-umat sebelum mereka. Di antara keistimewaan tersebut adalah dijadikannya mereka sebagai umat pertengahan. Tidak ekstrim kanan dan tidak pula ekstrim kiri. Allah ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Begitulah Kami menjadikan kalian sebagai umat pertengahan..” QS. Al-Baqarah (2): 143.

Umat Islam memiliki prinsip pertengahan dalam akidah, ibadah, akhlak dan seluruh aspek kehidupan. Termasuk dalam menyikapi pandemi.

Wallahu ‘Alam

Mundzirn
Lenggeng 20 Agustus 2021

Related Articles

Leave a Comment