Home » Profesional dan Ideologis, Kompetensi Dasar Guru Muhammadiyah

Profesional dan Ideologis, Kompetensi Dasar Guru Muhammadiyah

by Redaktur 1

GIRImu.com — Setiap guru dituntut memiliki dua kompetensi dasar yang wajib dikembangkan untuk menghasilkan kinerja yang optimal. Keduanya berupa kompetensi profesional dan kompetensi ideologis.

Hal itu disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, Dr Taufiqullah Ahmady, MPdI dalam pengajian awal bulan di Masjid Al Qolam  SMA Muhammadiyah 1 Gresik (Smamsatu), Jumat (4/2/2022).

Smamsatu, kata Taufiq, sapaan akrab Taufiqullah Ahmady, telah melalui perjalanan panjang dalam membawa pengaruh besar bagi budaya pendidikan di kabupaten Gresik. Perjalanan yang panjang itu, tentu memberikan sumbangsih positif dan konstruktif bagi masyarakat, khususnya di Gresik.

“SMA Muhammadiyah 1 Gresik merupakan salah satu sekolah swasta tertua di wilayah Gresik. Maka, proses pembentukan budaya organisasi sekolah dan nilai-nilai budayanya, tentunya sudah berjalan sangat lama dan pengaruhnya bisa dirasakan pada masa sekarang ini,” ungkap guru senior di Smamsatu ini.

Ia katakan, kemampuan kerja guru yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standardisasi yang diharapkan dan bersikap profesional merupakan fardlu kifayah. Sementara kompetensi ideologis dalam perspektif Islam merupakan fardlu ‘ain.

“Setiap guru memiliki profesionalitas di bidangnya masing masing, sedang  kompetensi idiologis bersifat fardlu ‘ain. Semua guru di sekolah-sekolah Muhammadiyah harus memahami cita-cita dan keyakinan hidup Muhammadiyah,” tandasnya.

Pria berpenampilan kalem ini dengan gamblang menjelaskan bagaimana keterkaitan antara guru senior dan guru baru di lingkungan sekolah yang berhasil membangun gedung baru yang megah ini. Semula Smamsatu menempati Gedung sekolah di Jalan KH Kholil. Tuntutan pengembangan sekolah, sejak 2021 sekolah ini menempati gedung baru di Jalan Wahidin Sudirohusodo, Gresik.

“Guru baru menggali keyakinan dan nilai nilai budaya yang ada dan hidup di lingkungan  sekolah melalui guru-guru seniornya. Sebaliknya, guru senior bersedia sharing pengalaman dengan guru baru,” tambahnya.

Dengan demikian, lanjut Taufiq, unsur budaya organisasi sekolah dapat sepenuhnya berfungsi, yaitu melalui dimensi budaya adaptabilitas. Ia menekankan, sekolah Muhammadiyah tetap dituntut bersikap terbuka dengan menerima guru baru.

“Tetapi, jika guru yang dibutuhkan hanya memiliki kompetensi profesionalitas di bidangnya, maka harus disiapkan program pembinaan idiologi Muhammadiyah untuk guru baru. Meski demikian, penguatan idiologi untuk guru yang lama juga tidak boleh diabaikan,” katanya.

Disinggung tentang fenomena migrasi ribuan guru swasta, termasuk dari sekolah-sekolah Muhammadiyah setelah lolos seleksi program Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), Taufiq mengaku hal itu menjadi tantangan bagi persyaikatakan Muhammadiyah, khususnya Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah.  

Karena itu, menyikapi hal tersebut, pekan lalu Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim telah melakukan dialog dengan para pimpinan Majelis Dikdasmen dan kepala sekolah se-Jatim untuk merumuskan solusi ideal.

Taufiq memaklumi, bukan hal aneh bila guru mengharapkan peningkatan kesejahteraan untuk kepentingan pribadi dan keluarga, Tetapi, lanjutnya, yang dibutuhkan guru tentunya bukan sekadar pemenuhan kebutuhan yang bersifat materi.

Guru juga butuh iklim lingkungan kerja yang kondusif, misalnya rasa persaudaraan, kekeluargaan, suasana yang relegius. Selain itu, guru juga perlu adanya ikatan silaturrahim yang kuat, dan dukungan majelis Dikdasmen yang selalu aktif memberdayakan guru, sehingga tiap guru bisa beraktualisasi dengan baik.

“Iklim seperti itulah yang selalu dihidupkan di sekolah Muhammadiyah, sehingga guru merasa nyaman dan merasa memiliki di sekolah Muhammadiyah. Aspek ini menjadi kelebihan di Muhammadiyah dan bisa menjadikan guru Muhammadiyah tetap kerasan di sekolah Muhammadiyah,” ujarnya. (sto)

Kontributor: Fadhillah Aliannah

Related Articles

Leave a Comment