Home Muhammadiyah or id Apa yang Dimaksud dengan Islam Rahmat bagi Semesta Alam?

Apa yang Dimaksud dengan Islam Rahmat bagi Semesta Alam?

by Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA— Hakikat Islam adalah risalah rahmat bagi seluruh seluruh alam. Supaya hakikat itu terwujud dalam kenyataan, Al Quran menetapkan millah ibrahim sebagai kerangka keberagamaan, al-‘urwatul wutsqa sebagai pedoman penghayatan dan pengalaman, dan al baqiyatush shalihat sebagai model agama Islam. ketiga unsur ini membentuk keberagamaan etis.

“Keetisan ini meluputi seluruh aspek keberagamaan yang meliputi pengetahuan agama, pengakuan agama, penyampaian agama, penghayatan agama, dan pengamalan agama Islam,” ujar Hamim Ilyas dalam Pengajian Ramadan PP Muhammadiyah pada Rabu (06/04).

Keberagamaan etis akan mengantarkan pada QS. Al Anbiya ayat 107 yang isinya penegasan Islam sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam. Hamim mengutip QS. An-Nahl ayat 97 yang menerangkan bahwa rahmat bagi semesta alam berarti menciptakan kehidupan yang baik atau hayah thayyibah. Kriteria hayah thayyibah berdasarkan QS. Al Baqarah ayat 62 meliputi falahum ajruhum ‘inda rabbihim (sejahtera sesejahtera-sejahteranya), wa la khaufun ‘alaihim (damai sedamai-damainya), wa la hum yahzanun (bahagia sebahagai-bahagianya).

“Orang yang beriman kepada Allah dan hari maka akan mendapatkan kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat,” ujar Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah ini.

Dalam menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang sejahtera, damai, dan bahagia, Hamim mengutip QS. Al Baqarah ayat 142-148 yang isinya tentang seruan Allah Swt agar menjadi masyarakat tengahan (ummatan wasatha). Prinsip-prinsip umat tengahan ini ialah memiliki jiwa yang besar (ghair al-shufaha), menjadi pelaku yang aktif dalam kerja-kerja sosial (syuhada ‘ala al-nas), dan menerapkan prinsip egalitarianisme dalam interaksi sosial yang majemuk (wa likulliw wij-hatun huwa muwalliha), dan menjadi yang terdepan dalam kebaikan (fastabiqu al-khairat).

“Fastabiqu al-khairat itu artinya bukan berlomba dalam kebaikan, sebab nanti kesannya akan ada pihak yang kalah, yang itu itu berada di paling depan dalam kebaikan. ini sebagai kepribadian kita sebagai masyarakat Islam, tegas Hamim.

Sementara itu, untuk mewujudkan misi Islam sebagai pembawa risalah rahmat bagi semesta alam yakni menciptakan kondisi yang sejahtera, damai, dan bahagia dalam level negara, harus membawa kehidupan manusia yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang sentosa, adil dan makmur di bawah lindungan Tuhan Yang Maha Pengampun).

Hamim kemudian menerangkan doktrin akidah Islam rahmatan lil’alamin. Menurutnya, akidah yang mesti dianut adalah akidah murni, yakni sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. Al An’am ayat 82, keimanan yang tidak bercampur dengan kedzaliman dan kemusyrikan yang menegasikan kehidupan manusia dan lingkungan. Akidah yang tidak sehat hanya akan membawa pada kerusakan (khusrin) dan kehidupan yang buruk (hayah khabitsah): tidak sejahtera, damai dan bahagia.

“Buah dari akidah yang murni ialah al-amnu atau aman dan damai dalam kehidupan pribadi dan kelompok, selain itu wa hum muhtadun atau menempuh jalan kebenaran yang membebaskan diri dari khusrin atau kerusakan dan kehancuran dengan mengalami hayah khabitsah,” tutur Hamim.

klik sumber berita ini

Related Articles

Leave a Comment