Home Muhammadiyah News Network Adi Hidayat: Al-Quran Pilar Utama Pencerahan Perilaku Islami di Era Disrupsi

Adi Hidayat: Al-Quran Pilar Utama Pencerahan Perilaku Islami di Era Disrupsi

by Infomu

Yogyakarta, InfoMu.co – Era disrupsi adalah zaman baru yang terjadi sebuah lahirnya inovasi dan transformasi secara masif. Potensi disrupsi akan selalu muncul dalam setiap perkembangan zaman. Dan bahkan akan berganti generasi, maka Al-Quran memberikan gambaran karakteristik manusia yang berpotensi mengolah pengetahuan, sehingga melahirkan pengetahuan-pengetahuan sekaligus ragam-ragam inovasi baru yang mungkin akan berpeluang menghasilkan disrupsi dan era kekinian, demikian ungkap Ustad Dr (HC) Adi Hidayat Lc, MA., PhD dalam Pengajian Ramadan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Rabu (6/4/22) secara daring.

Ilmu tingkat tertingginya disebut dengan al-hikmah. Karena al-hikmah bukan hanya saja sekadar akumulasi pengetahuan, tetapi juga ada aspek-aspek implementasi yang ada di dalamnya. Karena itu tatkala Allah mengajarkan para nabi, termasuk Nabi akhir zaman, selain membekali dengan Al-Quran, kitab, al-hikmah, dan akumulasi pengetahuan yang melahirkan pada impelementasi perbuatan berupa akhlak (QS al-Baqarah [2]: 129).

Nah, apakah potensi akhlak itu? Kata Adi, terdapat di surah al-Baqarah ayat 151, yakni Qur’an, akhlak, sunnah, akumulasi pengetahuan. Dengan akumulasi pengetahuan itu, maka Allah akan menanamkan potensi pengetahuan baru yang memungkinkan kita meriset sesuatu yang pada akhirnya akan lahirlah inovasi-inovasi yang belum pernah ditemukan sebelumnya.

Jadi apa yang harus dilakukan? Maka beralihlah dari tataran fase pengetahuan standar bahwa kalau ingin eksis hadir di zaman ini, kemudian bukan hanya mengakomodir hadir di dalamnya dan mengarahkan kreasi positif tadi ke arah yang lebih baik lagi, tapi juga menjadi pelaku (QS al-Baqarah [2]: 269).

“Ternyata, kalau kita terapkan QS al-Baqarah [2]: 269 dipadukan QS Luqman [31]: 12-13, lalu dikonfirmasi menjadi perilaku sesuai dengan perilaku sesuai dengan tema kita (QS an-Nahl [16]: 125) yakni Perilaku Islami yang Mencerahkan di Era Disrupsi”, tutur Adi.

Jadi, perilaku Islami menurut Al-Quran harus dibekali dengan pengetahuan. Dengan cara lakukan mitigasi lingkungan sekitar, lalu seberapa besar kebutuhannya dan akhirnya dipersiapkan perangkat pengetahuan yang senapas dengan kebutuhan umat di masa itu. Di era disrupsi, kita bukan ditugaskan, hanya untuk melihat, mengamati, menyesali apa yang terjadi. Tapi respons solutif adalah lakukan mitigasi, setelah itu pelajari yang dibutuhkan masyarakat di era kini. Setelah itu, baru dibawa ke nuansa perilaku, ungkap Adi.

Di akhir ceramahnya, Adi menuturkan KH Ahmad Dahlan (1868-1923) menamai Persyarikatan Muhammadiyah ingin mengambil sifat atau perilaku yang diterapkan dalam konteks kehidupan dan agenda-agenda besar Muhammadiyah. “Nama Muhammad terdapat 4 di dalam Al-Quran. Yang kalau digabungkan 1 Ahmad dan 4 Muhammad, sehingga 1+4=5, 1 terkait sifat ketuhanan dan 4 4 mengenai sosial (rukun islam). Jika itu diturunkan di QS ali-‘imran [3]: 144, QS al-Ahzab [33]: 40, QS Muhammad [47]: 2, QS al-Fath [48]: 29, maka akan ditemukan jawaban bagi Muhammadiyah dalam mengaktualisasikan dan mengimplementasikan perilaku-perilaku yang positif dan mencerahkan di era disrupsi saat ini”, tukas Adi. (Cris/SM)

sumber berita dari infomu.co

Related Articles

Leave a Comment