Menu

Mode Gelap
Digelar Sebentar Lagi, Ketua PWM Jabar Ajak Warga Muhammadiyah Dukung dan Sukseskan OlympicAD VII Pemilu Berjalan Sukses, PWPM Jateng Imbau Seluruh Pihak untuk Membawa Narasi Damai Cara Jualan Live TikTok Agar Banyak Pembeli Resmi Dilantik, Rektor UM Bandung Minta Para Warek Terus Lakukan Peningkatan Kualitas dan Transformasi Kampus Rekomendasi Jasa Pembuatan Hardbox di Bandung

Muhammadiyah or id WIB

Bukan Tema Baru di dalam Islam, Ini Saran Adi Hidayat Menghadapi Masa Disrupsi


 Bukan Tema Baru di dalam Islam, Ini Saran Adi Hidayat Menghadapi Masa Disrupsi Perbesar

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Kata disrupsi populer dalam satu dekade terakhir. KBBI mendefinisikan disrupsi sebagai fenomena sosial yang tercerabut dari akar nilainya. Secara umum, disrupsi saat ini digunakan untuk menggambarkan fitnah yang terjadi akibat lompatan teknologi.

Meski baru populer sekarang, ternyata makna disrupsi bukan hal baru di dalam tradisi Islam. Ulama muda Muhammadiyah, Adi Hidayat menyebut disrupsi sebagai hal biasa yang menjadi fitrah kehidupan manusia di bumi.

Dalam Pengajian Ramadan 1443 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rabu pagi (6/4), Adi lalu mengutip ayat 30-33 Surat Al-Baqarah. Menurutnya, kesangsian malaikat di ayat ini terkait misi khalifah manusia mengisyaratkan potensi terjadinya disrupsi.

Selain ayat-ayat Alquran, Adi Hidayat menyebut bahwa tema-tema disrupsi juga telah menjadi peringatan Rasulullah Saw. Sebagai contohnya, hadis-hadis riwayat Muslim sering memuat tentang kabar-kabar disrupsi akhir zaman dan tanda-tanda kiamat.

Hadis-hadis itu bahkan banyak yang telah terjadi. Misalnya dicabutnya para ulama’ yang diartikan sebagai banyaknya para ahli otoritatif di berbagai bidang keilmuan meninggal dan tidak memiliki pengganti.

Selain itu, tanda akhir zaman adalah ketika waktu bisa didekatkan dan pasar-pasar berdekatan. Lewat teknologi video call real time dan online shop yang mudah diakses, hadis itu kata Adi Hidayat semakin relevan.

Untuk menyikapi fenomena ini, Adi menyebut solusinya adalah mengedepankan dakwah dengan pendekatan aspek hikmah dibandingkan dengan pendekatan fikih. Mengutip Al-Baqarah ayat 129, Adi mengatakan bahwa pendekatan hikmah adalah metode para nabi dan rasul.

Di samping pendekatan hikmah, hal yang perlu dilakukan adalah melakukan mitigasi sebagaimana Rasulullah pada saat mengutus Muadz ibn Jabal ke Yaman. Pemetaan tantangan zaman dan kebutuhan sekaligus sosiologis umat mempengaruhi kesuksesan dakwah.

“Ternyata kalau kita padukan dengan Surat Lukman ayat ke-12 sampai 13, lalu dikonfirmasi lewat perilaku sesuai tema pengajian ini (Aktualisasi Perilaku Islami yang Mencerahkan di Era Disrupsi) dan Alquran 16 ayat 125, lahir perilaku mencerahkan di era disrupsi,” pungkasnya. (afn)

klik sumber berita ini

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Hukum Melaksanakan Salat Ghaib Setelah Jenazah Sebulan Dikuburkan – Muhammadiyah

28 February 2024 - 15:59 WIB

Komitmen Muhammadiyah dan Bukopin Syariah Tingkatkan Produktivitas Ekonomi Umat – Muhammadiyah

28 February 2024 - 13:38 WIB

‘Aisyiyah Dorong Diversifikasi Pangan Lokal Guna Tegakkan Kedaulatan Pangan Nasional – Muhammadiyah

28 February 2024 - 12:35 WIB

Haedar Nashir Bimbing Ikrar Syahadat Calon Menantu Susi Pudjiastuti – Muhammadiyah

28 February 2024 - 10:30 WIB

Kiai Saad Ibrahim Apresiasi Perkembangan Pesat Pesantren Muhammadiyah – Muhammadiyah

27 February 2024 - 11:36 WIB

Perkembangan Kriteria Awal Bulan Kamariah di Muhammadiyah – Muhammadiyah

26 February 2024 - 16:01 WIB

Trending di Muhammadiyah or id