Home Muhammadiyah News Network Banyak Orang Muhammadiyah yang Mualaf Hatinya | PWMU.CO

Banyak Orang Muhammadiyah yang Mualaf Hatinya | PWMU.CO

by PWMU CO
Prof Abdul Mu’ti (kanan): Banyak Orang Muhammadiyah yang Mualaf Hatinya (Sayyidah Nuriyah/PWMU.CO)

Prof Abdul Mu’ti: Banyak Orang Muhammadiyah yang Mualaf Hatinya. liputan Kontributor PWMU.CO Gresik Sayyidah Nuriyah

PWMU.CO – Meski hari sudah bergulir siang, tapi diskusi di lantai 13 at-Tauhid Tower Universitas Muhammadiyah Surabaya masih berlangsung penuh semangat. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan kepada pemateri: Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti MEd. 

Muhammad Zayyin Chudlori—salah satu peserta Kajian Ramadhan 1443 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur—menilai, “Di satu sisi amal usahanya Muhammadiyah mencuat, di sisi lain, kader-kader dan anggota Muhammadiyah di tingkat bawah belum bisa berkembang mengimbangi.” 

Perwakilan PDM Surabaya itu lantas bertanya bagaimana pendapat Prof Mu’ti terhadap fenomena tersebut, Ahad (3/4/22). 

‘Langgar’ AD/ART Sendiri 

Prof Mu’ti menyatakan, “Bukannya kami di PP (Pimpinan Pusat) tidak menyadari itu, kami di PP memang ketika melihat data, Muhammadiyah agak unik.” 

Menurutnya, Muhammadiyah sudah ‘melanggar’ AD/ART-nya sendiri. Karena jumlah cabang lebih banyak daripada jumlah ranting. “Padahal persyaratan untuk mendirikan cabang itu harus ada sekurang-kurangnya tiga ranting,” 

Itupun PP Muhammadiyah sudah memberi kelonggaran. “Ada yang namanya ranting istimewa. Yang mereka tidak tinggal di tempat itu, tapi warga Muhammadiyah yang bekerja di sana,” terangnya. 

Misalnya pada Pimpinan Ranting Muhammadiyah Sudirman di Jakarta. Anggotanya adalah warga Muhammadiyah yang bekerja di sepanjang perkantoran elit di Jalan Sudirman, meski tidak bermukim di sana. 

Kebijakan Aktifkan Pekerja AUM 

Sebagai Badan Pengurus Harian (BPH), Prof Mu’ti membaca data riil dosen dan karyawan di tempatnya bekerja. Tiap kali menguji calon pimpinan, dia selalu melontarkan pertanyaan yang sama. 

Bahkan para peserta sudah hafal pertanyaan ala Prof Mu’ti. Pertama, apa tujuan Muhammadiyah. Kedua, baca doa Iftitah dan doa Tasyahud. 

“90 persen tidak seperti yang dituntunkan oleh Tarjih. Bahkan ada calon pimpinan yang mengatakan, ‘Ini yang ingat saya, Pak. Dan saya tidak akan mengubah’,” ungkapnya. 

Dia menduga juga mendapat jawaban serupa jika pertanyaan itu diajukan di amal usaha Muhammadiyah lainnya. Untuk itu, sekarang pihaknya mulai mengajak rektor membuat kebijakan bagaimana semua pekerja di sana harus aktif di semua struktur atau di level tertentu di struktur. 

Maka, pihaknya sekarang menggunakan penilaian kinerja utama dan penilaian kinerja individual. “Itu masuk bagian penilaian kinerja individu!” tegasnya. 

Dia menduga, kondisi minimnya kader itu karena belum ada sinergi antara amal usaha Muhammadiyah dengan persyarikatan Muhammadiyah. Maka, Prof Mu’ti mendorong sinergitas itu. “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” ujarnya. 

Bunglon 

“Orang Muhammadiyah itu banyak yang muallafatu qulubuhumNggak berani menunjukkan kemuhammadiyahannya,” terangnya menggambarkan warga Muhammadiyah yang kemudian dia analogikan seperti bunglon. 

Menurut dia, di era multikultural ini malah perlu menunjukkan bahwa diri kita Muhammadiyah. “Supaya kalau perlu representasi mesti akan ada yang dipilih supaya anggota dari kelompok itu menampilkan unsur-unsur yang menggambarkan kebhinekaan Indonesia. Itu kalau normal!” terangnya. 

Seperti halnya di Fate to Action Network (F2A), di mana Muhammadiyah salah satu pendirinya. Lembaga ini terdiri dari Muhammadiyah, DSW Jerman, Christian Connection for International Act, dan organisasi Katolik. 

Di F2A, karena ingin menggambarkan lembaga antariman, sehingga orang-orang yang bekerja di dalamnya juga representasi dari masing-masing agama. Itulah dinamika yang betul menurutnya, tidak menonjolkan salah satunya saja. (*) 

Editor Mohammad Nurfatoni

sumber berita by [pwmu.co]

Related Articles

Leave a Comment