Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah kirim Dokter Spesialis Orthopedi Bantu Gempa Cianjur Akhirnya Mbah Nurlina Pulang Muktamar Naik Pesawat Ini Lima Poin Keputusan Ini Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta 7 Terpilih Siti Noordjannah Teratas 13 Besar Haedar Nashir Teratas

Muhammadiyah or id WIB

Terhambat Instabilitas Politik, Dakwah Muhammadiyah Sudan Tetap Berjalan


 Terhambat Instabilitas Politik, Dakwah Muhammadiyah Sudan Tetap Berjalan Perbesar

#

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Dalam tema besar internasionalisasi, nama Muhammadiyah di Sudan, Afrika Utara perlahan mulai dikenal oleh masyarakat lokal melalui dua macam arah. Pertama dari para pemuda Sudan alumni Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), dan kedua dari kegiatan sosial-kemasyarakatan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Sudan.

Khusus untuk PCIM Sudan, kegiatan sosial-kemasyarakatan berusaha tetap digelar, meskipun sejak 2018 gerak mereka mulai terbatasi akibat kondisi politik yang belum sepenuhnya tuntas pasca revolusi penggulingan Presiden Omar Bashir.

“Selama ini masyarakat Sudan sangat menerima sekali apa yang dilakukan oleh kader Persyarikatan karena masyarakat Sudan beberapa kali mendapatkan musibah seperti banjir bandang dan alhamdulillah Muhammadiyah Sudan dengan Lazismunya dan organisasi lain menyalurkan bantuan. Alhamdulillah animo masyarakat sangat berterima kasih terhadap Muhammadiyah,” ungkap Ketua PCIM Sudan, Muhammad Nur Ridhwan Sarifudin. Dalam acara Diasporamu di kanal Youtube TvMu, Ahad (10/4) Ridhwan menyebut kondisi politik di Sudan masih belum stabil.

Namun, dirinya bersyukur pusat kegiatan PCIM Sudan jauh dari pusat pemerintahan sehingga tidak terlalu terdampak. Apalagi KBRI Khartoum juga aktif memberikan himbauan. Ridhwan lalu mengenang suasana bulan Ramadan pada 2018 yang lumayan mencekam sehingga kader Persyarikatan memilih tidak beraktivitas di luar rumah.

“Tantangannya, kondisi Sudan belum stabil. Saya di sini sejak 2014, Ramadan selalu suasananya tenang, damai, dan kita bisa merasakan Ramadan sepenuhnya. Tapi kondisi sekarang-sekarang ini kita selalu khawatir melakukan kegiatan-kegiatan yang banyak,” ungkapnya.

Untuk kegiatan sendiri, PCIM Sudan ditopang oleh organisasi otonom yang berdiri di Sudan seperti ‘Aisyiyah, Lazismu dan Tapak Suci. Program-program yang digarap secara kolaboratif antara lain kurban Iduladha, kado Ramadan, zakat, buka bersama di pesantren, dan iftar. ‘Aisyiyah bahkan telah mengadakan acara iftar bagi mahasiswi asal Asia di Sudan.

“Yang jelas bagaimanapun kondisinya, baik atau buruk, Muhammadiyah harus tetap hidup sebagaimana sering yang disampaikan oleh pendiri Muhammadiyah Kiai Ahmad Dahlan, Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah. Jadi usahakan menjaga Muhammadiyah di manapun berada. Kalau yang di Timur Tengah berusaha menghimpun seluruh kader agar tidak keluar dari jalurnya sehingga nanti ketika pulang ke Indonesia bisa berkhidmah untuk Muhammadiyah,” pungkas Ridhwan. (afn)

klik sumber berita ini

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Dubes RI untuk Lebanon Mendorong Santri Mu’allimaat Menjadi Agen Kosmopolitan

26 November 2022 - 19:16 WIB

Bolehkah Dana Zakat Dialihkan untuk Korban Bencana?

26 November 2022 - 15:27 WIB

Madrasah yang sempat Menggunakan Dapur Rumah Kiai Dahlan sebagai Ruang Kelas, Kini Usianya Sudah 104 Tahun

26 November 2022 - 11:35 WIB

Sempurnakan Museum Muhammadiyah, MPI Saring Masukan dari Keluarga Tokoh-Tokoh Persyarikatan Generasi Awal

26 November 2022 - 11:32 WIB

Operasi SAR, Muhammadiyah Kerahkan Personil, Ambulan, Hingga Dirikan Dapur Umum Khusus

25 November 2022 - 21:29 WIB

Muktamar Jama Qashar dan Khidmatnya Pembahasan Materi Muktamar 48 Muhammadiyah

25 November 2022 - 20:49 WIB

Trending di Muhammadiyah or id