Home Muhammadiyah News Network Batik Di-Othak Athik Jadi Begini Artinya | PWMU.CO

Batik Di-Othak Athik Jadi Begini Artinya | PWMU.CO

by PWMU CO
Batik
Ketua PCM Krembangan Sutikno memberi sambutan di Kajian Ramadhan. (Muriyono/PWMU.CO)

PWMU.CO– Batik ternyata bukan hanya bermacam coraknya tapi juga artinya. Seperti diuraikan Ketua PCM Krembangan Surabaya Sutikno SSos dalam Kajian Ramadhan di Auditorium SD Muhammadiyah 11 Surabaya, Ahad (10/4/22).

Hari itu dia memakai baju batik dan blangkon. Lewat otak-atik gathuk dia menjelaskan, batik terdiri dari dua suku kata. Pertama Ba itu dari kata amba, bahasa Jawa artinya luas.

”Persyarikatan Muhammadiyah itu memberikan manfaat kepada semua lapisan masyarakat, tidak hanya untuk warga Muhammadiyah,” katanya.

Kata kedua Tik artinya titik-titik. Semakin banyak titik dapat menjadi sebuah motif batik yang membuat kain tersebut menjadi indah. Menambah nilai jual dari kain itu.

”Maksudnya titik-titik tersebut adalah para kader generasi muda yang akan mewarnai dan meneruskan perjuangan dakwa Muhammadiyah, bersatu dan saling bekerja sama semua unsur untuk membesarkan persyarikatan Muhammadiyah,” ujarnya.

”Kader-kader Muhammadiyah diharapkan mampu mewarnai estafet kepemimpinan di tingkat kota, provinsi hingga nasional, bisa berasal dari Krembangan Surabaya ini,” ujarnya disambut tepuk tangan bergemuruh.

5M

Menurut Sutikno, itu bisa saja terjadi jika para pimpinan majelis, AUM dan Ortom PCM Krembangan melaksanakan 5M.

Dikatakan, 5M bukan hanya mencuci tangan, memakai masker, menjauhi kerumunan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas yang populer di masa pandemi.

”Muhammadiyah Krembangan juga mempunyai 5M,” katanya. M pertama menyiapkan kader. Seorang pemimpin yang baik harus mampu melahirkan kader-kader yang hebat untuk memegang tongkat estafet kepemimpinannya. Kader penerus dakwah.

M kedua, merawat kader. ”Jika sudah terbentuk kader, seorang pemimpin harus mendampingi, mengayomi, dan selalu mengarahkan menjadi lebih baik,” ujarnya.

M ketiga, memperkuat jama’ah.  Diterangkan, membesarkan Muhammadiyah, perlu mengadakan kegiatan bermanfaat dan mencerahkan sehingga Muhammadiyah dirindukan masyarakat.

M keempat, membangkitkan semangat jihad. Jihad dakwah amar makruf nahi munkar.

M kelima, mempersiapkan diri untuk kematian. ”Kita semua yang hadir di sini adalah seorang camat alias calon mati. ”Kita harus mempersiapkan diri dengan banyak beramal kebajikan dengan sungguh-sungguh beribadah kepada Allah,” katanya.

Penulis Muriyono Editor Sugeng Purwanto

sumber berita by [pwmu.co]

Related Articles

Leave a Comment