Menu

Mode Gelap
Bangun Hunian Darurat, Warga Cianjur: Terima Kasih, Muhammadiyah! 50 Ribu Kaleng Sarden Lazismu Siap Kirim ke Korban Gempa Cianjur MDMC Kirim Tim Asesmen ke Semeru Muhammadiyah Bangun Hunian Darurat, Libatkan Warga Penyintas Gempa Cianjur Kembangkan Program Orangtua Asuh, Muhammadiyah Gresik Tanggung Seluruh Biaya Sekolah Anak Yatim

Muhammadiyah or id WIB

Penjelasan Singkat Tentang Fajar Kadzib dan Fajar Shadiq


 Penjelasan Singkat Tentang Fajar Kadzib dan Fajar Shadiq Perbesar

#

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA—Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ibnu Huzaimah, Rasulullah Saw mengatakan bahwa fajar itu ada dua: pertama, fajar yang diperbolehkan makan (misal: sahur) dan tidak diperbolehkan salat (subuh); kedua, fajar yang dilarang makan (saat puasa) dan diperbolehkan salat.

Hadis lain yang diriwayatkan Hakim dan al-Baihaqi melengkapi hadis di atas yang menyebut bahwa Rasulullah Saw membagi fajar ke dalam dua bentuk, yaitu: fajar yang keberadaannya mirip ekor serigala merupakan waktu diperbolehkannya makan dan tidak boleh salat (subuh), dan fajar yang datang menyebar di ufuk sebelah timur yang keberadaannya diperbolehkan salat tapi tidak boleh makan (saat puasa).

Berdasarkan kedua hadis di atas kemudian para ulama membaginya menjadi dua, yaitu: fajar kadzib dan fajar shadiq. Menurut Sriyatin Shodiq, pakar Falak Muhammadiyah, fajar kadzib sebenarnya bukan fajar karena memang tidak nampak cahaya terang dan langit malam masih gelap, cahaya seperti ini disebut cahaya zodiak.

Alasannya, fajar kadzib jika dilihat tampak menjulur ke atas seperti ekor serigala, yang arahnya sesuai dengan arah ekliptika dari arah timur ke barat dan bentuknya vertikal atau atas-bawah. Fajar kadzib ini muncul beberapa saat sebelum fajar shadiq ketika malam masih gelap.

Sementara Fajar shadiq adalah berhamburannya cahaya matahari oleh partikel-partikel di udara yang melingkupi bumi yang nampak terang. Inilah waktu peralihan dari gelap malam (hitam) menuju munculnya cahaya (putih). Dalam bahasa Al-Quran fenomena itu diibaratkan dengan ungkapan “terang bagimu benang putih (khait al-abyad) dari benang hitam (khait al-aswad)”.

Jadi fajar shadiq itu cahaya fajar yang melintang di sepanjang ufuk sebelah timur sebagai pertanda akhir malam atau menjelang matahari terbit. Jika fajar kadzib bentuknya vertikal, maka fajar shadiq bentuknya horizontal. Semakin matahari mendekati ufuk, semakin terang fajar shadiq.

Jadi dalam ilmu astronomi batasan fajar shadiq yang digunakan adalah jarak matahari di bawah ufuk. Saat fajar shadiq atau cahaya yang membentang di horizon muncul, saat itulah waktu salat subuh telah tiba. Dalam putusan Muhammadiyah, fajar shadiq ini muncul pada ketinggian matahari di angka -18 derajat di bawah ufuk bagian timur.

klik sumber berita ini

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Muhadjir Effendy : Nasyiatul Aisyiyah Organisasi Strategis dengan Perempuanya yang Produktif

5 December 2022 - 20:15 WIB

Bangun Hunian Darurat, Warga Cianjur: Terima Kasih, Muhammadiyah!

5 December 2022 - 18:24 WIB

50 Ribu Kaleng Sarden Lazismu Siap Kirim ke Korban Gempa Cianjur

5 December 2022 - 16:38 WIB

Lima Budaya Organisasi Islami dalam Muhammadiyah

5 December 2022 - 13:40 WIB

Mengapa Muhammadiyah Tidak Berhenti Membangun Amal Usaha? Ini Jawabannya

5 December 2022 - 12:50 WIB

Eco Bhinneka Berlatih Software Akuntasi Keuangan Berbasis Web

5 December 2022 - 11:06 WIB

Trending di Muhammadiyah or id