Menu

Mode Gelap
PKM Center UM Bandung Gelar Dikusi Kiat Sukses Pendanaan PPK Ormawa Ruang Tanpa Nama, Buku yang Membawamu pada Kondisi Suwung Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Dorong Umat Islam Terlibat Aktif Membangun Peradaban Atasi Minimnya Informasi dari Lapangan, Relawan Kebencanaan Muhammadiyah Dibekali Keterampilan Jurnalistik Meriahnya MOTEKART Prodi PIAUD UM Bandung Suguhkan Berbagai Tampilan Mahasiswa Dengan Kostum Unik

Muhammadiyah or id WIB

Penjelasan Singkat Tentang Fajar Kadzib dan Fajar Shadiq


 Penjelasan Singkat Tentang Fajar Kadzib dan Fajar Shadiq Perbesar

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA—Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ibnu Huzaimah, Rasulullah Saw mengatakan bahwa fajar itu ada dua: pertama, fajar yang diperbolehkan makan (misal: sahur) dan tidak diperbolehkan salat (subuh); kedua, fajar yang dilarang makan (saat puasa) dan diperbolehkan salat.

Hadis lain yang diriwayatkan Hakim dan al-Baihaqi melengkapi hadis di atas yang menyebut bahwa Rasulullah Saw membagi fajar ke dalam dua bentuk, yaitu: fajar yang keberadaannya mirip ekor serigala merupakan waktu diperbolehkannya makan dan tidak boleh salat (subuh), dan fajar yang datang menyebar di ufuk sebelah timur yang keberadaannya diperbolehkan salat tapi tidak boleh makan (saat puasa).

Berdasarkan kedua hadis di atas kemudian para ulama membaginya menjadi dua, yaitu: fajar kadzib dan fajar shadiq. Menurut Sriyatin Shodiq, pakar Falak Muhammadiyah, fajar kadzib sebenarnya bukan fajar karena memang tidak nampak cahaya terang dan langit malam masih gelap, cahaya seperti ini disebut cahaya zodiak.

Alasannya, fajar kadzib jika dilihat tampak menjulur ke atas seperti ekor serigala, yang arahnya sesuai dengan arah ekliptika dari arah timur ke barat dan bentuknya vertikal atau atas-bawah. Fajar kadzib ini muncul beberapa saat sebelum fajar shadiq ketika malam masih gelap.

Sementara Fajar shadiq adalah berhamburannya cahaya matahari oleh partikel-partikel di udara yang melingkupi bumi yang nampak terang. Inilah waktu peralihan dari gelap malam (hitam) menuju munculnya cahaya (putih). Dalam bahasa Al-Quran fenomena itu diibaratkan dengan ungkapan “terang bagimu benang putih (khait al-abyad) dari benang hitam (khait al-aswad)”.

Jadi fajar shadiq itu cahaya fajar yang melintang di sepanjang ufuk sebelah timur sebagai pertanda akhir malam atau menjelang matahari terbit. Jika fajar kadzib bentuknya vertikal, maka fajar shadiq bentuknya horizontal. Semakin matahari mendekati ufuk, semakin terang fajar shadiq.

Jadi dalam ilmu astronomi batasan fajar shadiq yang digunakan adalah jarak matahari di bawah ufuk. Saat fajar shadiq atau cahaya yang membentang di horizon muncul, saat itulah waktu salat subuh telah tiba. Dalam putusan Muhammadiyah, fajar shadiq ini muncul pada ketinggian matahari di angka -18 derajat di bawah ufuk bagian timur.

klik sumber berita ini

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Catatan Abdul Mu’ti untuk Penyelenggaraan Pemilu 2024

20 February 2024 - 16:05 WIB

Haedar Nashir Resmikan Masjid Ibnu Sina RSU Muhammadiyah Ponorogo

20 February 2024 - 14:48 WIB

Munas Tarjih ke-32 di Pekalongan: Forum Ijtihad Jama’i untuk Pengembangan Pemikiran Keagamaan

20 February 2024 - 12:50 WIB

Doa di Bulan Ramadhan – Muhammadiyah

20 February 2024 - 10:35 WIB

Musyawarah Nasional Tarjih dari Masa ke Masa

19 February 2024 - 14:08 WIB

Dua Sifat Mendasar yang Wajib Dimiliki Pemimpin Menurut Busyro Muqoddas

19 February 2024 - 11:44 WIB

Trending di Muhammadiyah or id