Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah kirim Dokter Spesialis Orthopedi Bantu Gempa Cianjur Akhirnya Mbah Nurlina Pulang Muktamar Naik Pesawat Ini Lima Poin Keputusan Ini Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta 7 Terpilih Siti Noordjannah Teratas 13 Besar Haedar Nashir Teratas

Muhammadiyah or id WIB

Kontekstual Sebagai Kunci Islam Berkemajuan, Perempuan Punya Ruang Berkiprah Luas di Muhammadiyah


 Kontekstual Sebagai Kunci Islam Berkemajuan, Perempuan Punya Ruang Berkiprah Luas di Muhammadiyah Perbesar

#

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Sejak berdiri pada 1912, Persyarikatan Muhammadiyah senantiasa bergerak mengamalkan visi Rahmatan lil-‘alamin dengan menghadirkan kemanfaatan luas di berbagai bidang amal usaha.

Tidak hanya menghadirkan kemanfaatan, Muhammadiyah berusaha memajukan kehidupan bangsa yang saat itu serba terbelakang baik di bidang sosial, agama, pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.

Uniknya, dalam pergerakannya itu Muhammadiyah melawan tabu dengan memberi ruang seluas-luasnya bagi perempuan Islam untuk berkiprah. Organisasi perempuan ‘Aisyiyah didirikan sebagai pelaksana Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

“Organisasi ini peduli pada kebutuhan masyarakat, dengan tema kerjanya mengharapkan, membina, membentuk masyarakat yang bahagia secara total. Artinya segenap aspek kehidupan fi-dunya wal akhirah. Hidup saat ini dan yang akan datang,” jelas Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, M.A.

Dalam forum Seminar Pra Muktamar di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA), Kamis (14/4) dirinya mengungkapkan bahwa pergerakan Muhammadiyah dalam setiap masa itu selalu membawa ciri tajdid dan Islam Berkemajuan, yakni memahami konteks zaman dalam memberikan jawaban dan solusi yang sesuai dengan zamannya.

“Maka Muhammadiyah bisa berlangsung terus sampai kapan pun karena mengikuti apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Pertama, mengajak berbuat baik, menciptakan hidup bahagia. Karena masyarakat berubah, tuntutannya pun berubah sehingga perlu tajdid, pembaruan, memperbarui setiap kebutuhan,” jelas Chamamah.

Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah periode 2000–2005 dan 2005–2010 itu lantas menyebut bahwa posisi perempuan di dalam Persyarikatan tidak berbeda dengan posisi laki-laki. Yaitu sama-sama mengemban misi rahmatan lil-‘alamin melalui corak tajdid.

“Kuncinya satu. Kalau kita bicara perempuan berkemajuan, itu sudah jadi label, esensi dan hakikat kalau kita melihat perempuan Muhammadiyah,” tuturnya.

“Apa yang wujud dari kegiatannya itulah Persyarikatan Muhammadiyah, bukan sekadar pemeluknya atau ditanya jumlah anggotanya  berapa, tapi apa yang menjadi proses kegiatannya, apa yang menjadi prinsip hidupnya untuk melaksanakan kegiatannya itu sehingga bisa diikuti, bisa mewujud, bisa dipersepsi dan bisa diapresiasi oleh masyarakat luas, tidak hanya oleh bangsanya sendiri tapi juga masyarakat di luar negeri sehingga Muhammadiyah jadi (organisasi untuk berkhidmat) yang terbesar di dunia,” tegas Chamamah. (afn)

klik sumber berita ini

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Dubes RI untuk Lebanon Mendorong Santri Mu’allimaat Menjadi Agen Kosmopolitan

26 November 2022 - 19:16 WIB

Bolehkah Dana Zakat Dialihkan untuk Korban Bencana?

26 November 2022 - 15:27 WIB

Madrasah yang sempat Menggunakan Dapur Rumah Kiai Dahlan sebagai Ruang Kelas, Kini Usianya Sudah 104 Tahun

26 November 2022 - 11:35 WIB

Sempurnakan Museum Muhammadiyah, MPI Saring Masukan dari Keluarga Tokoh-Tokoh Persyarikatan Generasi Awal

26 November 2022 - 11:32 WIB

Operasi SAR, Muhammadiyah Kerahkan Personil, Ambulan, Hingga Dirikan Dapur Umum Khusus

25 November 2022 - 21:29 WIB

Muktamar Jama Qashar dan Khidmatnya Pembahasan Materi Muktamar 48 Muhammadiyah

25 November 2022 - 20:49 WIB

Trending di Muhammadiyah or id