Menu

Mode Gelap
PKM Center UM Bandung Gelar Dikusi Kiat Sukses Pendanaan PPK Ormawa Ruang Tanpa Nama, Buku yang Membawamu pada Kondisi Suwung Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Dorong Umat Islam Terlibat Aktif Membangun Peradaban Atasi Minimnya Informasi dari Lapangan, Relawan Kebencanaan Muhammadiyah Dibekali Keterampilan Jurnalistik Meriahnya MOTEKART Prodi PIAUD UM Bandung Suguhkan Berbagai Tampilan Mahasiswa Dengan Kostum Unik

Muhammadiyah or id WIB

Sejarah ‘Aisyiyah Dapat Menjadi Sumber Pengetahuan Dunia yang Potensial Tentang Kesetaraan Gender


 Sejarah ‘Aisyiyah Dapat Menjadi Sumber Pengetahuan Dunia yang Potensial Tentang Kesetaraan Gender Perbesar

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Kontribusi gerakan perempuan tidak pernah absen di setiap babak sejarah Indonesia. Menurut Kurniawati Hastuti Dewi, Peneliti Pusat Penelitian Politik BRIN di acara Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah – ‘Aisyiyah pada (14/4) menyebut bahwa gerakan perempuan sudah ada sejak era kolonial.

Di era itu, tersebut nama Kiai Ahmad Dahlan dan istri, Siti Walidah seorang alim yang memiliki perhatian terhadap kesetaraan pendidikan bagi kaum perempuan. Mereka kemudian pada tahun 1914 mendirikan perkumpulan perempuan yang diberi nama Sopo Tresno, sebagai cikal bakal ‘Aisyiyah.

“Ada Kiai Ahmad Dahlan dan Siti Walidah yang mengumpulkan para perempuan untuk memperoleh pendidikan waktu itu Sopo Tresno, kemudian menjadi ‘Aisyiyah pada tahun 1917,” tuturnya.

Dalam penelitian yang dilakukannya, Kurniawati menemukan fakta yang luar biasa di mana Kongres Perempuan I yang di mana pada waktu itu di salah pidato menyampaikan tentang hak politik perempuan Indonesia, baik itu hak memilih dan dipilih.

Sejarah kontribusi gerakan perempuan Indonesia dalam peletakan dasar politik tidak hanya berguna bagi Indonesia saja. Dalam pengamatannya, kontribusi gerakan perempuan Indonesia dalam peletakan dasar politik potensial menjadi warisan ingatan dunia dalam kesetaraan gender dari UNESCO.

Dia menyebut, dokumen-dokumen Kongres Perempuan I, II, III, dan IV termasuk surat-surat yang ditulis oleh R.A. Kartini potensial menjadi bagian dari Gender Equality Marker by UNESCO. Dokumen-dokumen tersebut menjadi sumber pengetahuan dunia sampai sekarang.

Menurutnya, sejarah Muhammadiyah – ‘Aisyiyah terkait dengan isu kesetaraan juga tidak kalah menarik dan potensial untuk menjadi warisan pengetahuan dunia.

Oleh karena itu dirinya mendorong penggiat sejarah Gerakan Perempuan Islam di Muhammadiyah – ‘Aisyiyah untuk mentransliterasi dokumen-dokumen sejarah agar dunia juga mengetahui perjuangan Muhammadiyah – ‘Aisyiyah.

“Para penggiat sejarah perjalanan Muhammadiyah – ‘Aisyiyah untuk mentranslate buku ‘Aisyiyah, sejarah-sejarahnya masa lalu barangkali itu bisa menjadi sumber pengetahuan dunia yang potensial,” ungkapnya.

klik sumber berita ini

Artikel ini telah dibaca 38 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Catatan Abdul Mu’ti untuk Penyelenggaraan Pemilu 2024

20 February 2024 - 16:05 WIB

Haedar Nashir Resmikan Masjid Ibnu Sina RSU Muhammadiyah Ponorogo

20 February 2024 - 14:48 WIB

Munas Tarjih ke-32 di Pekalongan: Forum Ijtihad Jama’i untuk Pengembangan Pemikiran Keagamaan

20 February 2024 - 12:50 WIB

Doa di Bulan Ramadhan – Muhammadiyah

20 February 2024 - 10:35 WIB

Musyawarah Nasional Tarjih dari Masa ke Masa

19 February 2024 - 14:08 WIB

Dua Sifat Mendasar yang Wajib Dimiliki Pemimpin Menurut Busyro Muqoddas

19 February 2024 - 11:44 WIB

Trending di Muhammadiyah or id