Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah kirim Dokter Spesialis Orthopedi Bantu Gempa Cianjur Akhirnya Mbah Nurlina Pulang Muktamar Naik Pesawat Ini Lima Poin Keputusan Ini Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta 7 Terpilih Siti Noordjannah Teratas 13 Besar Haedar Nashir Teratas

Muhammadiyah or id WIB

Orang Bertakwa Memiliki Sifat Dermawan dan Suka Berinfak


 Orang Bertakwa Memiliki Sifat Dermawan dan Suka Berinfak Perbesar

#

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Salah satu ciri dari orang bertakwa adalah keluasan hatinya untuk berderma dan menafkahkan hartanya di jalan Allah. Alquran dalam hal ini menyebut kata nafaqa (infak) tidak kurang dari 74 kali dengan penekanan manusia sebagai pemberi infak, bukan penerima infak.

“Hampir semuanya disebut dalam bentuk aktif yaitu fi’l mudhari atau fi’l amr, kalimat perintah. Saya hanya menemukan dua kali di mana kata nafaqa itu disebutkan dalam bentuk kata benda atau isim,” ungkap Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti.

Dalam program Kolak di kanal youtube Tvmu, Senin (11/4), Mu’ti menyebut dari hal tersebut, terdapat keterkaitan erat antara sifat kedermawanan dengan ketaatan.

Sebagai contoh, Al-Baqarah ayat ke-3 menyebut orang bertakwa adalah mereka yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Ali Imran ayat ke-134 bahkan menyebut orang bertakwa itu kerap berinfak dalam keadaan lapang dan sempit. Surat Al-Anfal ayat ke-3-4 menegaskan keterkaitan ini. Adapun terkait apa yang mereka infakkan adalah barang berharga yang mana mereka masih memiliki perasaan keterikatan terhadapnya.

Alquran menjelaskan lewat Surat Ali Imran ayat ke-92 yang artinya, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Menurut Mu’ti, ayat ini mengandung dua pengertian. “Pertama adalah keadaan dari harta yang kita infakkan. Harta itu adalah harta yang baik, sesuatu yang bermanfaat yang karena itu kita masih suka dengannya. Jadi apa yang kita berikan bukan sesuatu yang sudah kita tidak suka,” jelasnya.

“Sebab kadang-kadang ada orang berbagi untuk membersihkan atau membuang sampah yang ada di rumahnya. Contoh pakaian pantas pakai yang sejatinya tidak pantas, naudzubillah,” imbuh Mu’ti.

Pengertian kedua, menurutnya adalah sikap ketika memberikan infak itu. Dalam berinfak, kaum muslimin ditekankan untuk memberikan dengan penuh rasa cinta dan semangat untuk membahagiakan orang yang menerima infak.

“Sehingga karena itu maka dalam kita berderma, kita melaksanakannya karena Allah. Karena itu ciri orang yang bertakwa, kedua yang kita berikan adalah harta atau sesuatu yang baik yang bermanfaat dan lalu kita memberikan dengan penuh rasa cinta untuk membahagiakan orang-orang yang berhak menerima,” pungkasnya. (afn)

klik sumber berita ini

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Dubes RI untuk Lebanon Mendorong Santri Mu’allimaat Menjadi Agen Kosmopolitan

26 November 2022 - 19:16 WIB

Bolehkah Dana Zakat Dialihkan untuk Korban Bencana?

26 November 2022 - 15:27 WIB

Madrasah yang sempat Menggunakan Dapur Rumah Kiai Dahlan sebagai Ruang Kelas, Kini Usianya Sudah 104 Tahun

26 November 2022 - 11:35 WIB

Sempurnakan Museum Muhammadiyah, MPI Saring Masukan dari Keluarga Tokoh-Tokoh Persyarikatan Generasi Awal

26 November 2022 - 11:32 WIB

Operasi SAR, Muhammadiyah Kerahkan Personil, Ambulan, Hingga Dirikan Dapur Umum Khusus

25 November 2022 - 21:29 WIB

Muktamar Jama Qashar dan Khidmatnya Pembahasan Materi Muktamar 48 Muhammadiyah

25 November 2022 - 20:49 WIB

Trending di Muhammadiyah or id