Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah kirim Dokter Spesialis Orthopedi Bantu Gempa Cianjur Akhirnya Mbah Nurlina Pulang Muktamar Naik Pesawat Ini Lima Poin Keputusan Ini Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta 7 Terpilih Siti Noordjannah Teratas 13 Besar Haedar Nashir Teratas

Muhammadiyah News Network WIB

Cerita Surau Taqwa di Kampung Ketapang Pulau Karas Batam Sejak Tok Jaya Meninggal Dunia


 Cerita Surau Taqwa di Kampung Ketapang Pulau Karas Batam Sejak Tok Jaya Meninggal Dunia Perbesar

#

Cerita Surau Taqwa di Kampung Ketapang Pulau Karas Batam Sejak Tok Jaya Meninggal Dunia

Catatan  : Imbalo Sakti

Orang kampung Ketapang Kelurahan Karas Jecamatan Galang Batam, memanggil lelaki itu semasa hidupnya, Tok Jaya. Tok yang usianya sudah tujuhpuluhan tahun ini, kini sudah meninggal dunia.Tok Jaya ini tak punya zuriyat. Isterinya balu tok Jaya Nek Cu sebutannya, tinggal seorang saja dirumah yang baru di perbaiki/bedah rumah. persis berdiri disamping surau Taqwa.

Dulu belasan tahun yang lalu kami datang ke kampung itu, sewaktu tok Jaya masih hidup lagi, rumah yang ditempati Nek Ci tu, berpanggung. Sebelah kiri rumah tu pula dekat lapangan bola kaki. Tetapi agak jauh dari masjid. Itulah sebab tim dari AMCF penyandang dana setuju dibangun surau disitu di tanah wakaf hibah tok Jaya.

Surau sejenis ada puluhan dibangun dana dari AMCF dimerata tempat di sekitaran Barelang. Lokasi tanahnya rata rata hibah dan wakaf. Tak ada surat menyurat. Hanya terkadang mulut ke mulut saje. Ada beberapa tempat lokasi surau itu sang penghibah sudah meninggal dunia. Waris atok atok penghibah tanah itu menjual tanah waris, namun disayangkan hampir saja lokasi surau itupun nak kena jual. Tak mau kejadian ditempat lain terjadi pula di kampung Ketapang Karas ini.

Kubagi tau ke Pak Lurah Karas Bambang dan pak Camat Galang Ute Rambe. Untuk itulah, pak Bambang Lurah Karas pagi kemarin aku diajak naik boat ke pulau Karas. Dari Sembulang pagi pukul delapan pulang selepas Juhur. Alhamdulillah pak Lurah asal Langkat yang baik hati ini, ongkos boat, dia yang bayarin.

Dengan pak RT perangkat desanya kami mengunjungi Nek Su melihat kondisi surau yang sejak tok Jaya meninggal nyaris tak ade lagi orang sholat di surau itu.Iba hati melihatnya padahal masih ada berdiri belasan rumah disekeliling surah itu, kondisi surau itu, cukup memprihatinkan tak ada yang merawatnya, plafond surau itu sudah nak rubuh. pintu pun rusak.Kotor sampah berserak.

Buku Quran saya bawak ke rumah saya, ujar Usman, masih kerabat tok Jaya. Lelaki gempal nelayan yang rumahnya tak jauh dari surau itu sengaja kuajak menemyi Nek Cu dan melihat kondisi surau. Pada saat itu juga pada Usman lelaki sekitar 40 an tahun ini, kuamanahkan mengurus surau Taqwa itu. Dan yang paling utama mengurus surat hibah atau wakaf tanah dari waris tok Jaya yang tinggal hanya Nek Su daja.

Dulu tak sempat dibuat. Berlinang kulihat bola mata Nek Su mata yang baru di operasi katarak itu tak bisa lagi membaca. Iya awak bacakan saja bunyi surat itu pesan Nek Su. Pak RT imam yang mendampingi kami berbual jadi saksi. Nanti kita bagi taulah pak RW dan pak Lurah ujarku.

Ajak mereka mengukur ulang berapa luas tanah wakaf tok Jaya biar disaksikan orang kampung kataku sembari mengutip hadist meninggal anak Adam putus semua amalnya kecuali tiga salah satunya Yaitu wakaf tadi.Selama aku masih hidup tak kan dijual tanah itu timpal Nek Su suara nya bergetar, Jadi awak dulu sering kemari jumpa tok Jaya suami saya ucapnya berulang ulang. Aok kataku dia pun tak ingat minuman yang dihidangkannya dulu pada kami maklumlah usianya sudah 70an. Setiap ke surau itu mestilah singgah kerumahnya.

Ini kain sarung untuk surau nanti kalau ada orang yang memerlukannya ucapku pada bang Usman yang didaulat jadi pengurus dan sekaliangus imam di surau itu. Insyaallah ada dana nanti kita renovasi plafond yang rusak itu janjiku pada bang Usman.

Kupamit sama pak Bambang Lurah Karas balik ke Batam. Kalau tak cepat ke dermaga alamat tidur di pulau Karas atau charter boat lumayan mahal.

Akupun bergegas ke dermaga yang tak jauh dari kantor lurah Karas itu. Sebut saja namaku, opung tak payah bayar kata Lurah, biar aku saja yang bayar tambangnya. Aku tersenyum terima kasih pak Lurah ucapku. Tak apelah, naik boat dari Sembulang ke Karas dan sebaliknya bila waktu sesuai jadwal boat hanya 30 ribu rupiah satu orang. Boat itu muat 20 an orang sekitar 15 menit lamanya. Karas hanya bersebelahan pulau dengan kawasan wisata pulau Mubut dan pulau Pangkil. Tengah hari itu nikmat sekali makan ikan asam pedas ala Karas. Diajak makan oleh bang Usman dirumahnya. Terima kasih warga Karas. Tak bosan rasanya nak kesana alamnya indah penduduknya ramah. Silahkan kengkawan datang berkunjung. (***)

sumber berita dari infomu.co

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Kenapa Islam Berkemajuan, Tidak Muslim Berkemajuan? Ini Penjelasan Syafiq Mughni

26 November 2022 - 20:55 WIB

Pesan Haedar Nashir Menjelang Pesta Demokrasi 2024

26 November 2022 - 19:39 WIB

Pemko Banda Aceh Lakukan Diseminasi Audit Kasus Stunting

26 November 2022 - 17:38 WIB

Ikut meriahkan HUT SMP 2 Nalumsari, stand teknologi smkmuhikudus tarik antusias pengunjung – Muriamu.ID

26 November 2022 - 16:55 WIB

Kisah Pak AR Ketika Jadi Imam Salat Tarawih di Tebuireng

26 November 2022 - 16:54 WIB

Fikti UMSU Tuan Rumah Devfast 2022 Diikuti 400 developer dan Mahasiswa IT

26 November 2022 - 15:37 WIB

Trending di Muhammadiyah News Network