Home Muhammadiyah or id Sifat Wara’ Kiai AR Fachruddin: Enggan Memakai Aset Umat untuk Kepentingan Pribadi

Sifat Wara’ Kiai AR Fachruddin: Enggan Memakai Aset Umat untuk Kepentingan Pribadi

by Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah (1968-1990), Allahuyarham Kiai Abdur Rozaq Fachruddin (1916-1995) menyimpan satu kisah keteladanan terkait integritasnya di dalam memimpin Muhammadiyah.

Pak AR berhati-hati dalam menggunakan hal-hal yang nampaknya mubah, agar menjadi pelajaran bagi para tokoh agama untuk memisahkan antara aset umat atau aset Persyarikatan dengan aset pribadi.

Kisah ini diambil dari kisah berjudul “Lambaian Tangan di Terminal Cepu” dari buku Pak AR Sang Penyejuk karya Syaifudin Simon terbitan pertama tahun 2018.

“Lambaian Tangan di Terminal Cepu”, oleh Syaifudin Simon

Pagi jam 9 pengajian dimulai. Hadirin tumpah ruah. Warga Muhammadiyah, NU, dan orang abangan menghadiri pengajian Pak AR tersebut.

Seperti biasa, di mana pun Pak AR mengisi pengajian, beliau selalu menggembirakan jamaahnya. Beliau berceramah memakai bahasa yang mudah dimengerti.  Bahasa rakyat yang sederhana tetapi mampu menggerakkan jamaahnya untuk beramal.

Selesai mengikuti pengajian, yang tampak adalah wajah-wajah sumringah dan gembira. Usai pengajian, Pak AR pamitan dan minta diantar ke terminal bus untuk meneruskan perjalanan ke Surabaya.

Begitu tahu Pak AR akan meneruskan perjalanan ke Surabaya, Pak Topo segera menyiapkan mobil pribadinya untuk mengantar dan mendampingi Pak AR ke Surabaya bahkan mengantar hingga kembali ke Yogya.

Ketika mobil yang akan mengantar ke Surabaya sudah siap, Pak Topo segera matur ke Pak AR.

“Pak AR, kendaraan yang akan mengantar Bapak ke Surabaya sudah siap dan insyaaAllah saya siap mendampingi”.

“Terima kasih, Pak Topo sudah menyiapkan mobil untuk mengantarkanku ke Surabaya. Mohon maaf, aku cukup diantar ke terminal saja. Aku ke Surabaya naik bus”.

Mendengar jawaban Pak AR, Pak Topo kaget, lalu matur, “Pak AR, kami sungguh menyiapkan mobil untuk Bapak. Kami tidak ingin Pak AR kehujanan seperti kemarin. Kami tidak ingin Pak AR sakit. Kami masih membutuhkan Pak AR. Kami mohon Pak AR berkenan kami dampingi ke Surabaya. Kami juga siap mengantar sampai ke Yogya”

“Sungguh terima kasih atas perhatian Pak Topo dan Bapak-bapak pengurus Muhammadiyah Cepu. Semoga menjadi amal saleh. Karena aku ke Surabaya bukan urusan organisasi, tetapi urusan pribadi, maka aku mohon maaf. Aku cukup diantar ke terminal saja”

Mendengar jawaban Pak AR, Pak Topo dan Pengurus Muhammadiyah sedih dan bingung. Mereka terus berusaha membujuk tetapi tidak berhasil. Pak AR menjelaskan bahwa tujuannya ke Surabaya adalah untuk urusan pribadi, yakni bertemu saudara dan temannya.

Siang itu, Pak Topo hanya mengantar Pak AR ke terminal Cepu. Selanjutnya, Pak AR naik bus sendirian.

Sebelum bus berangkat, Pak Topo memeluk Pak AR dengan linangan air mata. Pak Topo dan teman-teman Pengurus Muhammadiyah Cepu harus merelakan Pak AR naik bus sendirian. Hanya lambaian tangan, air mata dan doa yang mengiringi perjalanan Pak AR ke Surabaya.

*Diolah lagi dari “Lambaian Tangan di Terminal Cepu” oleh Syaifudin Simon

Penyunting: Afandi

Editor: Fauzan AS

klik sumber berita ini

Related Articles

Leave a Comment