Home Muhammadiyah News Network Empat Syarat Wanita Masuk Surga Lewat Pintu Mana Saja – PWMU.CO

Empat Syarat Wanita Masuk Surga Lewat Pintu Mana Saja – PWMU.CO

by PWMU CO
Empat Syarat Wanita Masuk Surga lewat Pintu Mana Saja (ilustrasi freepik.com)

Empat Syarat Wanita Masuk Surga lewat Pintu Mana Saja, Oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo

PWMU.CO – Kajian ini berdasarkan hadits riwayat Ahmad

أن عبد الرحمن بن عوف قال: قال رسول الله ﷺ: إذا صلَّت المرأةُ خمسَها وصامت شهرَها وحفِظت فرجَها وأطاعت زوجَها قيل لها ادخُلي الجنَّةَ من أيِّ أبوابِ الجنَّةِ شئتِ. رواه أحمد

Bahwa Abdurrahman bin ‘Auf berkata, Rasulullah Shallaallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jika seorang Wanita shalat lima waktu, puasa di bulan suci Ramadhan, menjaga kemaluannya dari yang diharamkan, dan taat pada suaminya, dikatakan kepadanya: ‘Masuklah surga dari pintu mana saja yang kamu suka.’” (HR Ahmad)

Abwabul Jannah

Abwabul jannah artinya pintu-pintu surga. Ada banyak pintu surga, ada pintu ar-Rayyan bagi mereka yang menjalankan puasa dengan baik atau hobi berpuasa. Ada pintu shalat, zakat, dan lain sebagainya, sesuai keutamaan amal ibadah. 

Dalam hadits di atas Rasulullah memberikan fasilitas istimewa bagi seorang istri dengan empat syarat, yang tentunya wajar bagi seorang hamba. Dengan empat syarat itu seorang sitri bebas masuk surga lewat pintu mana saja yang ia mau. Sungguh hal ini merupakan suatu kemudahan yang sangat luar biasa bagi wanita. Sekaligus sebagai motivasi agar setiap Mukminah berusaha dengan sepenuh hati dapat menunaikannya dengan sebaik-baiknya.

Empat Syarat Itu

Empat syarat itu, pertama, jika ia dapat menjaga shalat yang difardlukan yakni shalat lima waktu, selama tidak terhalang karena haid atau nifas. Ini merupakan syarat yang sebenarnya sangat mudah, karena beban ini juga untuk semua kaum Mukminin dan Mukminah, itupun ada masa jeda bagi kaum wanita karena beberapa faktor tersebut.

Maka sudah seyogyanya kaum wanita dapat menjaga shalat limat waktu ini dengan baik. Jangan menunda setelah ia benar-benar telah suci dari haid atau nifasnya karena malas misalnya. Sembari dengan itu harus tetap menjaga kualitas shalatnya karena hal itu bagian dari menjaga shalat itu sendiri.

Shalat yang berkualitas akan dapat menjaga tingkat spiritualitas atau ruhaninya dengan baik. Dengan demikian diharapkan para wanita tidak mudah tergiur dan terayu oleh indahnya dunia ini, karena ia sendiri adalah menjadi perhiasan dunia yang terindah bagi suaminya atau imamnya dalam kehidupan ini.

Kedua, jika ia dapat menjalankan puasa Ramadhan dengan baik. Puasa merupakan  pelengkap dari shalat lima waktu dalam rangka mencapai kesempurnaan pencapaian spiritual yang lebuh kuat bagai baja. Itulah mengapa puasa itu junnah atau benteng. Wanita yang berpuasa dengan baik akan memiliki benteng diri yang kuat yang tidak mudah jebol oleh godaan duniawi yang menggiurkannya.  

Di balik sifat wanita yang lembut seringkali terjadi gemuruh nafsu yang kuat yang mendominasinya. Jadilah kehidupanhya dipenuhi dengan intrik-intrik yang justru melanggar ketentuan syariat. Baik di dalam rumah tangganya maupun di tengah kehidupan masyarakat. Hal ini tanpa di sadari karena kurangnya ilmu pengetahuan agamanya. 

Sehingga ada ungkapan–yang seringkali disebut hadits padahal bukan, karena tidak dijumpai dalam kitab literatur hadits–bahwa wanita adalah tiang negara. Jika baik wanitanya baiklah negara itu dan sebaliknya jika rusak wanita maka rusaklah negara itu. Dan fitnah terbesar bagi setiap laki-laki adalah wanita. Maka puasa menjadi benteng yang sangat kokoh bagi wanita untuk tetap menggenggam keyakinannya. 

Ketiga, jika wanita dapat menjaga kemaluannya dari yang diharamkan yakni berzina. Berapa banyak sekarang ini kaum wanita yang tergoda oleh ambisi duniawi yang kemudian mengorbankan kehormatannya untuk bisa dinikmati oleh banyak lelaki. Terutama mereka yang tergolong masih muda dan memiliki paras yang cantik. Padahal hal itu anugerah tanpa ia sendiri yang bisa menghendakinya. Di samping pula budaya pacaran karena salahnya pergaulan kemudian mereka menjadi korban kekerasan seksual. 

Ternyata lembaga pendidikan juga turut berperan menyumbang keadaan demikian, karena bercampurnya dalam satu kelas atau dalam satu komplek antara laki-laki dan perempuan. Cerita-cerita tentang hubungan seksual pranikah kerap terjadi tetapi silent dan menjadi rahasia umum. 

Maka mengawasi dan memilihkan tempat pendidikan yang baik merupakan bagian dari ikhtiar orangtua yang wajib dilakukan. Belum lagi di kantor-kantor atau tempat kerja yang sangat memungkinkan hal demikian terjadi. Sungguh keadaan demikian sangat memiriskan hati bagi mereka yang peduli dan masih memiliki iman. 

Keempat, jika wanita taat kepada suaminya, atau kalau ia belum bersuami ia taat kepada kedua orangtuanya yang memiliki kewajiban menjaganya. Ketaatan demikian adalah ketaatan bersyarat yaitu tidak dalam rangka bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Baca sambungan di halaman 2: Perhiasan Terindah

sumber berita by [pwmu.co]

Related Articles

Leave a Comment