Home Kabar Inklusivitas Jamaah Ahmadiyah dan Diskriminasi yang Mereka Alami

Inklusivitas Jamaah Ahmadiyah dan Diskriminasi yang Mereka Alami

by Akhmad Sutikhon

IBTimes.ID – Penelitian SETARA Institute menemukan ada 2.713 pelanggaran KBB (kebebasan beragama dan berkeyakinan) antara tahun 2007 hingga tahun 2020 di Indonesia. Di antara 2.713 pelanggaran tersebut, 570 di antaranya dialamatkan kepada jamaah Ahmadiyah.

Hal tersebut disampaikan oleh peneliti SETARA Institute Ikhsan Yosarie, Kamis (21/4/2022). Mayoritas KBB terhadap jamaah Ahmadiyah terjadi di Jawa Barat. Angkanya mencapai 244 peristiwa. Peristiwa tersebut memiliki beberapa bentuk. Antara lain larangan beribadah, sulitnya akses dalam pelaksanaan kegiatan ibadah, pengurusan KTP, pembangunan rumah ibadah, pemberangkatan ibadah haji, surat nikah, dan lain-lain.

Ikhsan Yosarie menemukan kasus ada jamaah Ahmadiyah yang ingin melaksanakan pernikahan, namun dipersulit prosesnya. Sehingga pasangan tersebut terpaksa melakukan pernikahan di daerah lain.

“Setidaknya pasca runtuhnya orde baru, diskriminasi dan KBB terhadap Ahmadiyah mulai muncul. Pada tahun 2002 muncul produk-produk hukum yang diskriminatif. Kekerasan yang sebelumnya sporadis mulai melembaga,” ujarnya.

Pada tahun 2008, muncul SKB 3 Menteri yang menjadi pemicu utama masifnya pelanggaran KBB terhadap Ahmadiyah. Sejak saat itu, produk hukum tentang larangan Ahmadiyah semakin sering muncul di berbagai daerah.

Ikhsan menyebut bahwa salah satu faktor terjadinya KBB adalah pemilu dan pilkada. Menurutnya, ada politik identitas yang membuat Ahmadiyah menjadi korban diskriminasi. Pemilu dan pilkada ini tidak hanya berpengaruh di nasional atau di kota-kota besar, namun juga sampai di desa-desa.

Pelanggaran KBB di Jawa Barat

Dalam laporan pelanggaran KBB SETARA, ada enam sebab kenapa Jawa Barat menjadi daerah mayoritas terjadinya KBB, khususnya terhadap Ahmadiyah. Pertama, adanya Pergub No. 12 tahun 2011 tentang Larangan Kegiatan Ahmadiyah dan aturan di bawahnya. Aturan tersebut menjadi justifikasi bagi kelompok intoleran yang melakukan KBB.

Kedua, menjamurnya kelompok-kelompok intoleran. Ketiga, lemahnya pengelolaan dinamika masyarakat dalam jumlah yang besar. Keempat, kentalnya konservatisme. Banyaknya produk hukum yang diskriminatif mencerminkan adanya konservatisme di daerah tersebut.

Kelima, corak ormas yang cenderung kaku. Terakhir, rendahnya kesadaran keberagaman politisi-politisi Partai Islam.

Tiga Respon Ahmadiyah

Di tengah banyaknya intoleransi dan diskriminasi, imbuhnya, setidaknya ada tiga respon jamaah Ahmadiyah. Pertama, tetap pada keimanannya dan bersikap resisten. Mereka terus memperjuangkan hak konstitusional dan kebebasan beragama.

Kedua, tetap pada keimannya dan bersikap pasif. Semakin banyaknya ancaman dari kelompok intoleran membuat jamaah bersikap pasif. Mereka memilih untuk menahan diri. Ketiga, terpaksa mengikuti tuntutan. Karena berbagai faktor seperti parahnya ancaman, jamaah Ahmadiyah memilih untuk menyerah.

Inklusivitas Jamaah Ahmadiyah

Di tengah banyaknya pelanggaran KBB, Ahmadiyah terus melakukan aktivitas dan upaya pembauran bersama masyarakat. Di Konawe Selatan, keikutsertaan jamaah Ahmadiyah dalam gotong royong berpengaruh positif terhadap relasi jamaah Ahmadiyah dengan masyarakat luas.
Bahkan, dengan pembauran itu, masyarakat mulai merubah stigma negatif terhadap jamaah Ahmadiyah.

“Kalau ada jamaah Ahmadiyah yang dianggap eksklusif, maka ia harus membuktikan diri bahwa ia tidak eksklusif. Namun, di sisi lain, juga ada faktor-faktor seperti traumatik di masa lalu yang membuat jamaah Ahmadiyah menutup diri,” ujar Ikhsan.

Setidaknya, ada empat konsep inklusivitas yang dilaksanakan oleh jamaah Ahmadiyah. Pertama, terlibat dalam gotong royong. Meliputi berbagai kegiatan komplek atau desa, kegiatan pemuda, dan lain-lain.

Kedua, silaturahmi. Ahmadiyah mulai sering melakukan kunjungan kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, dan organisasi massa. Silaturahmi juga penting untuk menjadi sarana klarifikasi terhadap isu-isu tertentu yang berkembang di masyarakat.

Ketiga, interaksi di ruang publik dengan tetangga, di warung, pasar, dan taman. Keempat, humanity first. Yaitu terlibatnya jamaah Ahmadiyah dalam hal kesehatan, pendidikan, kemanusiaan, dan lain-lain.

Ahmadiyah di Dunia Global

Dalam konteks internasional, Ahmadiyah mendapatkan diskriminasi terburuk di Pakistan. Di negara tersebut, Ahmadiyah dianggap di luar agama Islam. Hal tersebut menjadi justifikasi bagi negara untuk turut melakukan diskriminasi terhadap Ahmadiyah.

Di Bangladesh, menurut Ikhsan, meskipun Ahmadiyah tidak dianggap di luar Islam, namun banyak dorongan dari kelompok Islam radikal kepada negara agar Ahmadiyah diposisikan di luar Islam.

Berbeda dengan Kanada. Di Kanada, Ahmadiyah membangun komunikasi dengan berbagai tokoh lintas agama. Di Kanada ada stereotype bahwa Islam adalah agama yang identik dengan terorisme. Dalam hal ini, Ahmadiyah turut hadir untuk bersama-sama menghilangkan stereotype tersebut.

Reporter: Yusuf

Print Friendly, PDF & Email

sumber berita dari ibtimes.id

Related Articles

Leave a Comment