Home Muhammadiyah News Network Merawat Jenazah Menutup Acara Baitul Arqam Sekolah Ini | PWMU.CO

Merawat Jenazah Menutup Acara Baitul Arqam Sekolah Ini | PWMU.CO

by PWMU CO
Merawat jenazah
Ustad Ahwan Hamid SPd MPdI menyampaikan cara merawat jenazah. (Muriyono/PWMU.CO)

PWMU.CO– Merawat jenazah menjadi materi penutup Baitul Arqam Tahun 2022 SD Muhammadiyah 11 Surabaya (SD MuhlaS), Kamis (21/4/22).

Sebanyak 122 siswa kelas VI SD MuhlaS keluar asrama (ruang kelas lantai 3 tempat bermalam) dengan wajah yang segar sehabis mandi pagi.  

Penuh semangat menuju auditorium lantai 4 untuk murajaah surat al-Quran.  Setelah itu shalat Dhuha hinggal pukul 08.00.

Tim pemandu acara lantas memberi instruksi merapikan shaf, duduk dengan tertib sekaligus memastikan peserta siap menerima materi merawat jenazah.

Pelatihan shalat dibagi sesi pertama teori merawat jenazah. Sesi kedua praktik merawat jenazah. Pemateri Ustadz Ahwan Hamid MPdI, guru Al Islam dan Kemuhammadiyahan.

Sambil membuka slide power point merawat jenazah, Ustadz Ahwan memulai materi dengan mengutip surat al-Ankabut ayat 57. Kullu nafsin dżā`iqatul-maụt, tṡumma ilainā turja’ụun.

Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa merasakan mati. Kemudian kepada Kami kamu dikembalikan.

Wakil Ketua PCM Krembangan ini menjelaskan setiap makhluk hidup yang ada di dunia ini pasti mati. Tidak peduli seberapa keras usaha kita menghindarinya. Kematian pasti datang pada waktu yang telah ditentukan oleh Allah swt.

”Mengurus jenazah seorang muslim adalah fardhu kifayah. Arti fardhu kifayah adalah kewajiban yang bersifat kolektif. Artinya kewajiban ini dianggap sudah terpenuhi bila di dalam suatu wilayah ada beberapa orang yang melakukannya. Namun jika tak ada yang menjalankannya, maka semua orang di wilayah itu ikut berdosa,” tandasnya.

Empat kewajiban seorang muslim terhadap saudaranya, orang Islam yang meninggal dunia yaitu memandikan, mengafani, mensholatkan dan menguburkannya.

Lalu Ustadz Ahwan menjelaskan tata cara merawat jenazah dan bacaan shalat jenazah yang bisa dihafalkan di rumah karena sudah ada di buku Baitul Arqam.

Sakaratul Maut

Kurang lebih 45 menit teori selesai disampaikan. Sesi kedua seluruh peserta bersama wali kelas dan guru pendamping mengikuti praktik merawat jenazah di halaman lantai 2.

”Baiklah sebelum kita praktik, siapa yang bersedia suka rela menjadi model jenazah?” tanya ustad Ahwan.

Semua peserta sejenak terdiam. Mereka saling berbisik, aku takut. Siswa lain menjawab, jangan takut ini hanya praktik, supaya kita paham.

Beberapa detik lamanya belum ada siswa yang bersedia menjadi model jenazah. Tiba-tiba dari barisan kanan berdirilah siswa mengacungkan tangan. ”Saya, Ustads,” kata Angger Elang Samudra mantap.

Sontak seluruh peserta memberi aplaus kepadanya. ”Alhamdulillah,” ucap Ustadz Ahwan.

Elang maju mendekat. Lalu dia berbaring di tengah peserta. Ustad menerangkan, tahap pertama sebelum kematian seseorang tiba atau detik-detik sebelum dicabut nyawanya disebut nazak.

”Saat itu yang harus kita lakukan membimbing dengan kalimat thoyyibah. Cukup lafalkan La ilaha illallah di telinga orang yang sedang sakaratul maut tadi,” jelasnya.

Jika sudah meninggal dunia, sambung dia, maka kita usap wajah si mayat sambil mengucapkan: innalillahi wainna ilaihi rajiun.

Merawat Jenazah

Tahap kedua siapkan tempat persemayaman jenazah, kain kafan, dan tempat pemandian beserta sabun serta pewangian.

”Kita praktik memandikan jenazah terlebih dahulu. Tahap ini yang harus kita lakukan adalah membersihkan tubuh mayat dengan air mulai dari kepala sampai kaki bagian kanan lalu bagian kiri,” tuturnya.

Lalu memandikan jenazah pakai sabun dan air kapur barus. Selama memandikan alat kelamin ditutup kain. Setelah bersih semua, tubuh mayat dilap handuk. Selesai dimandikan jenazah ditutup kain atau jarik. Kemudian dipindahkan ke tempat persemayaman untuk dikafani.

Mengafani

Kafan untuk jenazah laki-laki tiga helai, jenazah perempuan dengan lima helai kain. Ukurlah panjang tubuh jenazah kemudian ditambahi sepanjang dua genggaman tangan.

Buat tali pengikat kain kafan yang panjangnya di sesuaikan dengan lebar tubuh jenazah.

Peserta memperhatikan dan praktik mulai memandikan, mengafani, menshalati dan cara menguburkan jenazah.

Dalam shalat jenazah, Ustad Ahwan menjelaskan, posisi imam berada lurus dengan kepala jenazah. ”Jika jenazah perempuan maka imam berada di tengah, lurus pusar jenazah,” katanya.

Ketika menguburkan jenazah, cara memasukkan jenazah dimulai dari arah selatan ke utara dengan kepala terlebih dahulu dan tiga orang sudah siap di dalam liang kubur untuk menerima jenazah.

”Tidak ada adzan dan iqomah serta tidak ada melepas satupun tali yang mengikat jenazah. Begitu menurut Himpunan Tarjih Muhamamdiyah,” terang dia.

Setelah materi merawat jenazah selesai, dilanjutkan penutupan Baitul Arqam tahun 2022. (*)

Penulis Muriyono  Editor Sugeng Purwanto

sumber berita by [pwmu.co]

Related Articles

Leave a Comment