Home Kabar Kiamat Datang Ketika Bumi tak Dapat Lagi Dihuni

Kiamat Datang Ketika Bumi tak Dapat Lagi Dihuni

by Ibtimes.id

“In a future where a failed global-warming experiment kills off all life on the planet except for a lucky few that boarded the Snowpiercer, a train that travels around the globe, where a class system evolves.”

(Di masa depan, eksperimen pemanasan global yang gagal membunuh semua kehidupan di planet ini, kecuali beberapa orang yang beruntung menaiki Snowpiercer, sebuah kereta api yang melakukan perjalanan keliling dunia dengan sistem kelas sosial.)

Kalimat di atas menjadi pembuka di trailer film Snowpiercer (2013) di laman imdb. Imdb mengklasifikasikan Snowpiercer (2013) sebagai film action & sci-fi. Film yang disadur dari novel Prancis berjudul Le Transperceneige karya Jacques Lob itu bercerita tentang pemanasan global.

Pada tahun 2014, bumi terus memanas. Untuk menurunkan suhu bumi, para ilmuwan melepaskan beberapa bahan kimia ke atmosfer. Hasilnya, bumi berhasil menjadi dingin. Bahkan sangat dingin. Saking dinginnya hingga tak dapat dihuni.

Eksperimen itu setengah gagal setengah berhasil. Berhasil karena mencegah pemanasan global. Gagal karena bumi tak dapat lagi dihuni saking dinginnya. Hingga pada tahun 2031, tak ada kehidupan di muka bumi. Tak ada makhluk yang dapat bertahan di bumi yang seluruh bagiannya tertutup salju.

Nasib baik, ada seorang ilmuwan cerdas bernama Wilford. Ia menciptakan kereta dengan mesin abadi. Kereta itu mampu mengisolasi dunia dalam kereta dari dunia luar. Sehingga, orang-orang yang berada di dalam kereta mendapatkan kehangatan untuk ‘sekedar’ melanjutkan kehidupan.

Ketika mendekati kepunahan, sebagian kecil manusia masuk ke gerbong kereta. Kereta pun diluncurkan. Ia berjalan mengelilingi bumi. Terus-menerus. Tak pernah berhenti. Tak punya tujuan, melainkan hanya sebagai tempat menghangatkan diri, agar bisa ‘sekedar’ melanjutkan kehidupan.

Saat kereta berjalan, bumi telah mati. Hanya ada kehidupan di dalam kereta. Peradaban manusia yang hebat itu direduksi menjadi peradaban sempit di dalam kereta.

Film sci-fi besutan sautradara Bong Joon-ho ini mengingatkan kita pada buku terkenal berjudul The Uninhabitable Earth karya David Wallace-Wells. Seolah-olah Wells menulis buku itu karena terinspirasi dari film Snowpiercer. Namun, tentu tidak demikian.

Bumi yang tak Dapat Dihuni

Buku The Uninhabitable Earth ditulis dengan rujukan penelitian-penelitian terpercaya. Dapusnya saja mencapai 82 halaman dari total 330 halaman. Menempati 24,8% dari total isi buku. Sungguh fantastis.

Ketika membaca buku ini (dan setelah menonton Snowpiercer tentunya), Wells seolah-olah lari dari kejauhan mendekati saya dengan penuh kemarahan. Ketika sampai di depan saya, ia menampar saya dengan begitu keras.

Ia berkata pada saya: “Ini lho kerusakan bumi itu sudah terjadi! Bahkan semakin parah! Sudah ada di depan matamu! Nih lihat ratusan data udah tersedia! Baca baik-baik! Snowpiercer itu bukan hanya film, tapi hampir menjadi kenyataan!”

Rupanya, David Wallace-Wells juga suka film sci-fi. Iya, di bukunya ia juga membahas film-film sci-fi (setidaknya yang beririsan dengan science) seperti Interstellar, A Quiet Place, Children of Men, dan lain-lain.

The Uninhabitable Earth memang bicara tentang bumi di masa depan yang tak dapat lagi dihuni. Persis seperti Snowpiercer. Bagaimana mungkin bumi tak dapat dihuni? Begini penjelasannya. Bumi kita ini semakin menghangat. Faktornya banyak. Salah satu penyebab utamanya adalah industrialisasi yang begitu masif. Di Barat maupun di dunia ketiga.

Industrialisasi ini membuat bumi jadi semakin panas. Karna bumi jadi panas, maka es-es di antartika mencair. Mencairnya jutaan ton balok es itu membuat permukaan air laut naik. Karna permukaan air laut naik, sebagian pulau akan tenggelam. Pulau yang tenggelam tentu tak dapat dihuni bukan?

Panas bumi juga punya dampak langsung ke manusia. Bumi yang panas membuat kesehatan manusia terganggu. Selain itu, panas bumi juga membuat tanaman tidak tumbuh secara maksimal. Secara kuantitas ia akan menurun, secara kualitas (gizi), ia juga menurun.

Kenaikan suhu bumi juga mengakibatkan lebih banyak peristiwa kebakaran. Tentu masih segar ingatan kita terhadap kebakaran hebat tahun 2015 di beberapa titik di Indonesia. Semakin banyak kebakaran, berarti semakin banyak karbon yang dilepas dan semakin sedikit oksigen diproduksi. Semakin banyak karbon dan semakin sedikit oksigen berarti semakin panas suhu bumi, yang berarti semakin banyak kebakaran. Kita terus berada di lingkaran setan.

Akibat lain dari kenaikan suhu adalah berkurangnya jumlah air. Jumlah air di muka bumi tentu meningkat. Namun, air yang bisa dimanfaatkan untuk minum dan kebutuhan domestik akan berkurang. Cadangan air di perut bumi yang kita sedot setiap hari akan terus berkurang. Sedangkan butuh jutaan tahun untuk membentuk cadangan air di dalam tanah.

Kenaikan suhu juga membuat udara semakin kotor. Udara kita semakin dipenuhi dengan karbondioksida, bukan oksigen. Kotornya udara membuat kemampuan kognitif manusia menurun. Jadi kita bakal lebih bodoh dari sebelumnya.

Laut juga akan mati. Kini, seperempat ikan di Indonesia mengandung mikroplastik. Laut dan sungai mati karena pencemaran. Padahal, laut dan sungai adalah sumber kehidupan yang penting.

Kapan itu semua mulai terjadi? Tidak ada yang tahu pasti. Namun, ada beberapa prediksi yang membuat kita tidak bisa tidur nyenyak. Menurut PBB, pada tahun 2100, suhu bumi kita akan naik 4,5 derajat.

Padahal, dengan kenaikan dua derajat saja, lapisan es akan hancur. 400 juta jiwa kekurangan air. Kota-kota di sekitar khatulistiwa, termasuk Indonesia, akan menjadi tak layak huni. Akan ada gelombang panas di India, masing-masing berlangsung lima kali lebih lama dari biasanya. Gelombang panas di utara bumi akan menewaskan ribuan orang tiap musim panas. Itu kenaikan dua derajat. Bagaimana dengan 4,5 derajat?

Sebentar. Kita bahas kenaikan tiga derajat dulu. Dengan kenaikan tiga derajat, Eropa Selatan akan mengalami kekeringan permanen. Amerika Tengah akan mengalami kekeringan 19 bulan lebih lama dari sebelumnya. Afrika Utara mengalami kekeringan lima tahun lebih lama dari sebelumnya. Negara-negara di dekat Laut Tengah akan mengalami kebakaran dua kali lipat dari sebelumnya. Amerika bahkan enam kali lipat.

Dengan kenaikan empat derajat, hal-hal di atas akan terjadi dengan tambahan krisis pangan global dan kasus demam berdarah tiap tahun di Amerika Latin. Penyakit-penyakit akan menjadi lebih banyak sebab hutan terbakar dan es di kutub mencair. Penjelasannya panjang. Tapi intinya, semakin panas bumi, semakin banyak penyakit dan wabah baru.

Tambahan yang lain adalah banjir meningkat tiga puluh kali lipat di Bangladesh, dua puluh kali lipat di India, dan enam puluh kali lipat di Inggris. Di seluruh dunia, kerugian akibat bencana-bencana tersebut mencapai 600 triliun USD. Lebih dari dua kali lipat seluruh kekayaan yang ada di atas muka bumi. Mengerikan.

Jika anda masih ingat seorang politisi yang mengatakan bahwa Jakarta akan tenggelam, maka bisa jadi ia mengutip buku ini. Wells menyebut bahwa Jakarta sangat mungkin tenggelam pada tahun 2050.

Berharap Pada Teologi Lingkungan Muhammadiyah

Jika ditinjau dari segi teologi, Allah telah menyebut bahwa telah nampak kerusakan di darat dan laut. Kerusakan itu disebabkan oleh ulah manusia (Ar-Rum: 41). Tentu semua ayat di Alquran telah ‘berbunyi’ sejak ia diturunkan. Ia telah ditafsirkan dan menjadi panduan bagi jutaan umat muslim dari awal hingga kini.

Namun, melihat realitas yang begitu menyedihkan sekarang, ayat itu seharusnya menjadi ‘lebih berbunyi’. Muhammadiyah menjadi salah satu ‘mufassir ijtima’i’ dari ayat tersebut. Pemikiran Muhammadiyah akan lingkungan pelan-pelan dirumuskan sejak tahun 1990.

Pada Muktamar seabad Muhammadiyah tahun 2010 di Jogja, Muhammadiyah menerbitkan buku Teologi Lingkungan, Fikih Air, dan Fikih Kebencanaan.

Sebelumnya, dalam buku Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) tertulis bahwa hidup Islami sama dengan melestarikan lingkungan. Di buku tersebut dituliskan:

“Setiap muslim khususnya warga Muhammadiyah berkewajiban untuk melakukan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya, sehingga terpelihara proses ekologis yang menjadi penyangga kelangsungan hidup.”

Pada tahun 2007, Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup menerbitkan buku Teologi Lingkungan. Kristalisasi pemikiran lingkungan Muhammadiyah ini telah diulas secara panjang lebar oleh Fauzan Anwar Sandiah di laman IBTimes.

Melihat prediksi-prediksi yang begitu mengerikan, layaknya kita semua merenung. Kira-kira apa yang apa yang dimaksud dengan kiamat itu? Benarkah matahari akan terbit dari barat lalu ada kehancuran besar-besaran dalam satu waktu saja? Atau justru sebenarnya kita telah memasuki tahapan kiamat secara perlahan? Siapa yang menciptakan kiamat? Tuhan, atau kita? Apakah teologi lingkungan yang selama ini telah dibangun oleh para aktivis itu akan mampu menyelamatkan kita dari kiamat ini? Bagaimana nasib kita (bukan anak cucu kita, tapi kita) ketika bumi tak dapat lagi dihuni?

Rasanya, secara teori teologi-teologi yang telah dirumuskan oleh para cerdik cendekia itu telah cukup baik. Namun, dalam praktiknya, kita masih jauh panggang dari api. Aktor-aktor seperti masyarakat, negara, aktivis, ilmuwan, dan politisi perlu kembali membaca dan merenung perihal kondisi bumi kita di masa yang akan datang. Sebuah bumi yang menciptakan kiamat bagi dirinya sendiri.

Print Friendly, PDF & Email

sumber ini berita dari ibtimes.id

Related Articles

Leave a Comment