Menu

Mode Gelap
Menteri PPPA Apresiasi Hunian Darurat Yang Di Bikin Muhammadiyah Bangun Hunian Darurat, Warga Cianjur: Terima Kasih, Muhammadiyah! 50 Ribu Kaleng Sarden Lazismu Siap Kirim ke Korban Gempa Cianjur MDMC Kirim Tim Asesmen ke Semeru Muhammadiyah Bangun Hunian Darurat, Libatkan Warga Penyintas Gempa Cianjur

Muhammadiyah News Network WIB

Tidak Tercerabut dari Akar Budaya, Kunci Kesuksesan Amal Usaha Muhammadiyah


 Tidak Tercerabut dari Akar Budaya, Kunci Kesuksesan Amal Usaha Muhammadiyah Perbesar

#

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Sebagai sebuah gerakan keagamaan, kesuksesan dakwah Muhammadiyah salah satunya ditopang oleh keberhasilan di bidang Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

AUM sendiri adalah ikhtiar amal saleh dan kemanfaatan yang bentuknya tidak semata-mata materi atau bendawi saja (tangible). Tetapi bisa juga dalam bentuk program-program non-fisik (intangible). Tujuan AUM yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Dalam forum Pengajian Buka Puasa Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang, Senin (25/4), Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan menjelaskan bahwa keberhasilan AUM disebabkan oleh kemampuan adaptif Muhammadiyah terhadap budaya.

“Langkah berkemajuan Muhammadiyah itu tetap bercorak Keindonesiaan karena Kiai Ahmad Dahlan sejak awal memahami betul bahwa masyarakat Indonesia ini harus maju, modern, tapi tidak boleh kehilangan akarnya,” kata Budi.

Kata Budi, Kiai Ahmad Dahlan menampilkan dari berbagai sisi adaptif antara mengakomodasi kemajuan dengan tetap menampilkan inovasi yang bercorak lokal. Misalnya pada sisi pakaian, manajemen organisasi, hingga kurikulum dan sistem pedagogi.

“Perhatikan pada 10 tahun pertama. Muhammadiyah yang saat itu organisasi kecil bisa menyebar ke seluruh tanah air. Tidak mungkin terjadi kalau Muhammadiyah tidak menggunakan akar budaya sebagai coraknya,” imbuh Budi.

Untuk itu, dirinya menganggap berbagai PCIM di luar negeri pun bisa mengembangkan dakwah Muhammadiyah dengan cara yang sama, yaitu mengadopsi budaya atau corak lokal yang bersesuaian dengan nilai-nilai Persyarikatan.

“Apakah pengembangan Muhammadiyah di negara lain tidak bisa? Bisa. Asalkan nilai-nilai hakikinya dikembangkan dengan melakukan inovasi-inovasi yang adaptif disesuaikan sesuai akar budaya itu. Lakukan ijtihad berupa antisipasi, adaptasi dan inovasi,” pesannya.

Terakhir, dirinya berpesan agar penguatan sistem terus dilakukan oleh Muhammadiyah sebagai ciri organisasi modern yang tidak bergantung pada tokoh.

“Di era disrupsi ini tidak bisa dihadapi dengan cara-cara biasa, harus adaptif tanpa kita kehilangan akar gerakan. Muhammadiyah harus memikirkan cara produktif dan produktif untuk menjawab, bukan justru larut dalam efek yg dibawa oleh era disrurpsi,” pungkas Budi. (afn)

sumber berita ini dari muhammadiyah.or.id

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Tingkatkan Wawasan & Pengalaman Mahasiswa, Prodi Administrasi Publik UM Bandung Kunjungi Kementerian PANRB

10 December 2022 - 06:30 WIB

Mohammad Natsir dan Tiga Gurunya yang Inspiratif

10 December 2022 - 02:27 WIB

PCIM Pakistan adakan Gerakan Jumat Berkah bersama PPMI & PCINU

10 December 2022 - 00:16 WIB

Cetak Gol ke Gawang Persik, Ini Komentar Febri Hariyadi

9 December 2022 - 22:26 WIB

SD Muhammadiyah Ini Terima Apresiasi Pendidikan Anti Korupsi dari KPK

9 December 2022 - 18:37 WIB

UM Bandung Siap Gelar Wisuda, Tokoh Ini Akan Sampaikan Orasi Ilmiah

9 December 2022 - 18:24 WIB

Trending di Muhammadiyah News Network