Menu

Mode Gelap
Menteri PPPA Apresiasi Hunian Darurat Yang Di Bikin Muhammadiyah Bangun Hunian Darurat, Warga Cianjur: Terima Kasih, Muhammadiyah! 50 Ribu Kaleng Sarden Lazismu Siap Kirim ke Korban Gempa Cianjur MDMC Kirim Tim Asesmen ke Semeru Muhammadiyah Bangun Hunian Darurat, Libatkan Warga Penyintas Gempa Cianjur

Muhammadiyah News Network WIB

Resep Enteng Jodoh | PWMU.CO


 Resep Enteng Jodoh | PWMU.CO Perbesar

Moh. Sultohn Amien (Istimewa/PWMU.CO))

Resep Enteng Jodoh, merupakan bagian kedua dari buku Spiritualitas Pernikahan Meraih Kebahagiaan dengan Rahmat Ilahi karya Moh. Sulthon Amien. Seri pertama berjudul: Pernikahan sebagai Laboratorium Perjuangan Sosial. Tulisan tersebut viral.

#

Penulis adalah Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim; Ketua BPH Universitas Muhammadiyah Surabaya; Direktur Utama Laboratorium Klinik Parahita Surabaya; dan Ketua Badan Pembina Yayasan Insan Mulia Surabaya.

PWMU.CO – Menjelang saya memasuki usia 25 tahun, kakak-kakak saya mulai sering bertanya, “Kapan kamu nikah? Kapan?” Ya, pertanyaan mereka terus berkutat seputar itu-itu juga. Biasanya saya cuma mesem dan sedikit melongo, mirip aktor iklan rokok di televisi saat ditanya hal serupa.

“Apa kamu sudah punya calon istri? Saya siap meminangnya, lho!”

Sebetulnya semua itu pertanyaan wajar, bukan usil, sebab saya sudah jadi yatim piatu ketika umur menjelang nikah. Maka, kakak-kakak merasa berkewajiban mempersoalkan perkawinan tersebut. Umur agaknya kerap dijadikan tolok ukur pernikahan seseorang. Karena bila agak terlambat akan memengaruhi masa asuh anaknya. Pada saat anak-anak menjelang dewasa, ayah ibunya sudah mulai dimakan usia.

Saya sering dikeluhi ibu-ibu yang banyak membina remaja. Mereka bilang, banyak di antara remaja putri asuhannya yang belum dapat jodoh.

“Mbok ya, tolong Pak Sulthon, kami dibantu.” Tak kalah serunya, saya juga mempunyai problem yang sama dengan adik-adik di sekitar saya. Mereka banyak yang masih bujangan.

Apakah ini telah menjadi sebuah fenomena di depan mata kita bersama. Begitu sulitkah mencari pasangan yang sesuai dengan kata hati? Atau, mereka lebih suka bebas hingga enggan mengikatkan diri dengan tali perkawinan?

Banyak hal yang mempengaruhi fenomena ini. Di antaranya pilihan dirasa makin sulit kala umur makin bertambah. Banyak pertimbangan yang mendasari. Gaya hidup yang perfeksionis juga turut menambah masalah. Di samping tuntutan hidup yang makin kompleks hingga membuat seseorang yang telah berumur menghadapi dilema pilihan yang tidak gampang.

Kriteria pilihan bertambah detail. Rasanya hidup ini dituntut harus sempurna, tak boleh cacat sedikit pun. Mungkin kita lupa bahwa makin dicermati dunia di sekitar kita makin kelihatan kekurangannya. Apalagi sekarang sudah tidak banyak di antara kita yang mau berperan membatu taaruf, menjadi makcomblang, si tukang perantara yang suka mencarikan jodoh bagi seseorang. Mungkin itu dianggap profesi tak baik atau menimbulkan perasaan malu.

Dulu saat masih bocah, saya ingat sekali dengan keluarga yang pekerjaannya menjadi tukang cari pasangan bagi seseorang, menjadi semacam biro jodoh. Perbuatan mulia itu patut diapresiasi karena berjasa mempertemukan pasangan yang cocok.

Baca sambungan di halaman 2: Jodoh, antara Kelebihan dan kekurangan

sumber berita by [pwmu.co]

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

SD Muh 1 Surakarta Terima Apresiasi Pendidikan Antikorupsi (PAK) dari KPK – Muriamu.ID

10 December 2022 - 10:33 WIB

Mewaspadai Penyakit Musim Hujan – bandungmu.com

10 December 2022 - 10:31 WIB

Tingkatkan Wawasan & Pengalaman Mahasiswa, Prodi Administrasi Publik UM Bandung Kunjungi Kementerian PANRB

10 December 2022 - 06:30 WIB

Mohammad Natsir dan Tiga Gurunya yang Inspiratif

10 December 2022 - 02:27 WIB

Cetak Gol ke Gawang Persik, Ini Komentar Febri Hariyadi

9 December 2022 - 22:26 WIB

UM Bandung Siap Gelar Wisuda, Tokoh Ini Akan Sampaikan Orasi Ilmiah

9 December 2022 - 18:24 WIB

Trending di Muhammadiyah News Network