Menu

Mode Gelap
Bangun Hunian Darurat, Warga Cianjur: Terima Kasih, Muhammadiyah! 50 Ribu Kaleng Sarden Lazismu Siap Kirim ke Korban Gempa Cianjur MDMC Kirim Tim Asesmen ke Semeru Muhammadiyah Bangun Hunian Darurat, Libatkan Warga Penyintas Gempa Cianjur Kembangkan Program Orangtua Asuh, Muhammadiyah Gresik Tanggung Seluruh Biaya Sekolah Anak Yatim

Muhammadiyah News Network WIB

Mudik Lebaran Pengaruhi Perubahan Lanskap Ekonomi –


 Mudik Lebaran Pengaruhi Perubahan Lanskap Ekonomi – Perbesar

#

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Selain menjadi fenomena kultural, mudik lebaran juga membawa fenomena ekonomi. Demikian ungkap Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti dalam program Kolak Tvmu, Rabu (27/4).

Sebagai contoh pada momen pasca mudik, jumlah perantau di kota-kota besar relatif bertambah seiring dengan kembalinya para perantau lama.

“Sering ada yang mengkaitkan mudik itu dengan urbanisasi di mana orang tidak bisa tinggal di desa, kemudian entah terpaksa atau memang entah secara dia sengaja mencoba mencari peruntungan kehidupan baru dengan tinggal di kota,” ungkapnya.

Bahkan para perantau baru itu rela tinggal di kontrakan sempit di gang-gang kecil meskipun di desa dia memiliki rumah yang besar. Fakta ini kata Mu’ti menunjukkan belum terjadinya pemerataan ekonomi dalam struktur kebijakan politik.

“Ada yang mengatakan mudik ini fenomena di mana kue kesejahteraan itu ternyata masih terkonsentrasi di kota, padahal seharusnya konsentrasi kesejahteraan itu ada di mana-mana, di kota maupun di desa,” jelasnya.

Di samping itu, Mu’ti menganggap bahwa fenomena yang lebih penting adalah pemaknaan mudik sebagai fenomena kultural. Mu’ti berharap mudik bisa berimbas pada kepribadian para pemudik ketika kembali ke kota-kota besar sehingga lanskap ekonomi ikut berubah.

“Orang desa itu dalam teori sosiologi sering dijelaskan dengan keakraban hubungan di antara satu dengan yang lainnya. Kekerabatan yang terpelihara dengan baik, gotong-royong, tolong-menolong yang itu berkembang dengan sangat baik dan itulah budaya orang desa. Tidak ada budaya nafsi-nafsi di mana orang mementingkan diri sendiri atau sikap egoistis dan individualistis,” ucapnya.

“Itulah mudik kultural yang sangat kita perlukan sekarang ini apalagi dalam situasi di mana Pandemi ini belum sepenuhnya berakhir. Banyak saudara-saudara kita yang memang masih mengalami kesulitan ekonomi dan banyak di antara mereka yang juga ditinggal oleh anggota keluarganya. Maka menghidupkan kembali semangat sosial dan juga spirit kebersamaan dengan mudik sosial dan multikultural itu menjadi penting,” kata Mu’ti.

“Dan yang tentu saja sangat utama adalah mudik spiritual di mana manusia itu secara fitrahnya adalah makhluk yang beragama Islam dan manusia itu sesuai dengan fitrahnya adalah makhluk yang bersih dari segala dosa,” pungkasnya. (afn)

sumber berita ini dari muhammadiyah.or.id

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Pembukaan Gelar Karya P5 dan Classmeeting SMK Muhammadiyah Kudus 2022 – Muriamu.ID

6 December 2022 - 02:02 WIB

Relawan Muhammadiyah Lumajang Lakukan Asesmen dan Bantu Warga Terdampak Gunung Semeru

6 December 2022 - 01:59 WIB

Penyintas Gempa Cianjur Berterima Kasih Atas Respon Dan Layanan Muhammadiyah

6 December 2022 - 01:58 WIB

Kemeriahan Fashion Show Gelar Karya P5 SMK Muhammadiyah Kudus – Muriamu.ID

5 December 2022 - 22:01 WIB

Lazismu Jawa Timur Kirim 50 Ribu Kaleng Sarden untuk Korban Gempa Cianjur

5 December 2022 - 21:58 WIB

Pidato Perdana Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah Terpilih dalam Penutupan Muktamar

5 December 2022 - 21:56 WIB

Trending di Muhammadiyah News Network