Home Muhammadiyah News Network Khutbah Idul Fitri 1443, Kebangkitan Umat Muslim Setelah Pandemi

Khutbah Idul Fitri 1443, Kebangkitan Umat Muslim Setelah Pandemi

by Muhammadiyah

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ اَمَّا بَعْدُ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, اَللَّهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً. اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Dia-lah Allah, Yang Maha Awal tanpa permulaan, Yang Maha Akhir tanpa penghujung, dan Yang Maha Abadi tanpa kurang satu apa pun. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, pemimpin orang-orang saleh, kekasih Sang Penguasa Yang Maha Perkasa, pembawa berita gembira dari Yang Maha Pengampun, dan mata air teladan bagi umat manusia.

Demikian pula kepada keluarga dan para sahabat yang dimuliakan. Pagi ini segenap kaum muslimin menunaikan shalat dan merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1443 Hijriyah dengan khusyuk dan penuh kekhidmatan. Gema takbir, tahlil, tahmid, dan tasbih terdengar di setiap tempat sebagai wujud penghambaan kepada Allah untuk meraih ridha dan anugerah-Nya yang tak terbilang.

Jamaah Salat Idul Fitri yang dimuliakan Allah Alhamdulillah, umat Islam kini mendapatkan lagi nikmat Ramadan dan Idul Fitri secara berjamaah. Dua tahun sudah kita harus bersolidaritas atas krisis kesehatan yang menimpa umat manusia di seluruh penjuru bumi.

Meski tetap menjaga protokol kesehatan standar dengan menjaga kebersihan, kesucian dan higinitas, kali ini kita telah dimampukan untuk melalui bencana ini. Adapun keluarga, sahabat, dan para ulama yang telah mendahului kita selama pandemi ini, kita doakan mudah-mudahan segala amal ibadahnya mendapatkan ampunan dari Allah Swt. Mereka telah lebih dahulu menjumpai Allah Swt yang inshaAllah dalam keadaan husnul khatimah. Akhir tahun 2019 silam, virus SARS-CoV-2 muncul pertama kali di kota Wuhan yang dalam tempo tiga bulan telah menyebar ke berbagai tempat.

Tubuh manusia yang terkena serangan virus tersebut sama artinya dengan membawa satu kargo pasukan virus dalam tubuhnya. Alhasil menerobos sistem kekebalan tubuh manusia yang menyebabkan kepergian orang-orang terkasih dan tercinta di sekeliling kita semua. Kita tahu bahwa wabah Covid-19 telah memberikan pukulan yang hebat bagi kemanusiaan, membuat Rumah Sakit kewalahan, tenaga medis berguguran, usaha gulung-tikar, karyawan-karayawan di-PHK, dan kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan massa dalam jumlah yang besar harus ditiadakan.

Kegiatan tersebut termasuk tabligh akbar, festival konser, pameran dagang, acara olah raga, dan pernikahan besar. Pembatasan kegiatan tentu saja berdampak pada tersendatnya roda ekonomi masyarakat. Kita dihadapkan pada dilema antara mencari pundi-pundi ekonomi atau memelihara kesehatan. Memilih kesehatan akan tersendatnya putaran roda ekonomi. Jika satu sektor ekonomi tersendat boleh jadi menghasilkan efek domino bagi sektor yang lain. Beragam dampak domino tersebut dari psikologi hingga spiritual telah kita rasakan. Seorang bapak yang mengundi nasib pada upah harian harus rela menahan rasa lapar, seorang anak yang membutuhkan kasih sayang harus rela berpisah dengan orang tuanya yang terdampak, seorang muballigh harus rela menghentikan khotbahnya dari mimbar ke mimbar.

Semua itu dilakukan karena khawatir pasukan mikroba parasit sedang mengintai kita di suatu sudut. Selama pandemi kita terus berikhtiar, berdo’a, dan menjalin kebersamaan agar mampu menghadapi musibah ini dengan kesungguhan, kesabaran, dan kebersamaan dalam kekuatan iman yang istiqamah. Allah mengingatkan kaum beriman dalam menghadapi musibah sebagaimana firman-Nya:

مَاۤ اَصَابَ مِنۡ مُّصِيۡبَةٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰهِ‌ؕ وَمَنۡ يُّؤۡمِنۡۢ بِاللّٰهِ يَهۡدِ قَلۡبَهٗ‌ؕ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيۡمٌ

Artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS At-Taghabun: 11).

Kaum Muslimin Rahimakumullah Kemuliaan manusia akan diangkat derajatnya oleh Allah manakala dapat bersabar dalam ujian dan cobaan. Dalam QS. Al Baqarah ayat 155, Allah Swt berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Manusia yang memahami dengan baik hakikat bencana akan mempersepsi bahwa wabah corona sebagai sebuah ujian dan sarana meningkatkan kualitas iman dan akal. Allah berfirman dalam QS. An-Nahl Ayat 30:

وَقِيْلَ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا مَاذَآ اَنْزَلَ رَبُّكُمْ ۗقَالُوْا خَيْرًا ۚلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَلَدَارُ الْاٰخِرَةِ خَيْرٌ ۗوَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِيْنَۙ Artinya: “Dan kemudian dikatakan kepada orang yang bertakwa, “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Kebaikan.” Bagi orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (balasan) yang baik. Dan sesungguhnya negeri akhirat pasti lebih baik. Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.”

Dengan demikian, kita dapat memposisikan pandemi global ini sebagai media untuk introspeksi seluruh perbuatan manusia yang mendatangkan peristiwa yang merugikan manusia itu sendiri. Kita harus kurangi mendomestikasi hewan liar demi kemaslahatan bersama.

Setelah intropeksi, waktunya untuk bangkit! Kaum Muslimin Rahimakumullah Bangkit setelah terpuruk sejalan dengan makna Idul Fitri. Idul fitri merupakan hari raya kesucian, kekuatan dan kemenangan. Diharapkan pada Idul Fitri, kaum beriman yang telah selesai menempuh pelatihan Ramadan agar terlahir dengan fitrah kemanusiaan dalam dimensi suci dan kuat. Kita harus meraih kemenangan baik menang dari hawa nafsu maupun menang dari wabah.

Sebagaimana yang telah diterangkan Prof. Din Syamsuddin, Idul Fitri merupakan puncak dari pelatihan Ramadan satu bulan penuh yang bertujuan membentuk kepribadian paripurna, di mana tujuannya itu adalah menjadi insan yang bertakwa. Prof. Haedar Nashir menjelaskan bahwa kata “tattaqun” cenderung dipahami sebagai hadiah yang akan didapatkan oleh orang yang telah berpuasa. Seringkali “takwa” dijelaskan sebagai pangkat, gelar, dan identitas yang melekat pada diri orang yang berpuasa. Padahal ungkapan “tattaqun” adalah proses berkelanjutan dari perilaku takwa. Sejalan dengan Prof. Haedar, Prof. Ahmad Syafii Maarif atau Buya menjelaskan “takwa” bukanlah tujuan melainkan perjalanan. Selama jantung berdetak, takwa merupakan jalan yang tak memiliki ujung. Perlu pergumulan spiritual yang terus menurus dan tanpa henti. Sebagai seorang muslim, alangkah tidak mudah berlayar di samudra takwa ini. Ada badai maksiat yang perlu diatasi, ada ombak dzalim yang akan menghantam geladak. Seorang muslim yang memiliki keimanan yang otentik dan tulus memiliki kesempatan yang jauh lebih baik dalam menaklukan badai maksiat dan ombak dzalim.

Dengan demikian, bertakwa berarti terus bangkit ke arah yang lebih baik dan terealisasikannya semua syariat Islam dalam kehidupan seorang muslim. Kehidupan yang dilandasi takwa akan melahirkan teladan terbaik atau uswah hasanah mengikuti jejak Nabi (QS Al-Ahzab: 21) sekaligus menebar rahmat bagi alam semesta (QS Al-Anbiya: 107).

Kaum Muslimin Rahimakumullah Kebangkitan kita setelah pandemi di hari Raya Idul Fitri akan mengantarkan kita menjadi pribadi yang bertakwa. Takwa adalah predikat yang paling mulia di sisi Allah, bekal hidup yang diperlukan agar dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Allah berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

Artinya: “Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!”

Jamaah Salat Idul Fitri rahimakumullah, Marilah kita berdoa kepada Allah agar menyudahi pandemi ini dengan sebenar-benarnya. Bangkit dari keterpurukan karena perilaku tersebut merupakan ciri dari orang-orang yang bertakwa! بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ الاَحْيِاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ فيَا قَاضِيَ الحَاجَاتِ اَللهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ أَعِزَّالْإِسْلَامَا وَالْمُسلِمِين وَجْمَعْ كَلِمَةَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَلَمِينَ اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا… وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ, رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Naskah: Ilham Ibrahim

Editor: Fauzan AS

sumber berita ini dari muhammadiyah.or.id

Related Articles

Leave a Comment