Home Muhammadiyah News Network Saat Khalifah Umar Nyaris Menghadapi Wabah | PWMU.CO

Saat Khalifah Umar Nyaris Menghadapi Wabah | PWMU.CO

by PWMU CO
Prof KH Agus Purwanto DSc (Wulidatul Aminah/PWMU.CO)

Saat Khalifah Umar Nyaris Menghadapi Wabah; Liputan Wulidatul Aminah, kontributor PWMU.CO Jember.

PWMU.CO – Penuh haru terpancar dari wajah panitia maupun jamaah shalat Idul Fitri—warga Muhammadiyah Cabang Kaliwates maupun penduduk sekitar—yang hadir di halaman gedung Serba Guna Jember, Senin (2/5/22).

Kumandang lantunan takbir mengiringi langkah mereka. Setelah dua tahun libur shalat Idul Fitri bersama-sama, pagi itu mereka kembali merasakan khusyuknya shalat Id berjamaah.

Dalam khutbahnya, khatib Prof KH Agus Purwanto DSc mengingatkan jamaah untuk terus bersyukur. “Kita amat sangat bersyukur karena kita dapat berkumpul dalam majelis yang mulia ini,” ungkapnya.

Dari fenomena Covid-19, Ustadz Agus—sapaan akrabnya—mengenang, “Banyak saudara-kerabat yang mendahului kita.” Meski mungkin di antara mereka ada yang pernah terjangkiti, dia mengimbau jamaah untuk wajib bersyukur karena telah Allah SWT beri nikmat kesehatan.

Dia menyadari peristiwa pendemi kemarin banyak mengubah kehidupan manusia. “Peristiwa ini mengakibatkan 6,2 juta manusia meninggal di seluruh dunia. Di Indonesia 142,5 ribu orang yang meninggal dan kita ada di tingkat 18 dari seluruh Indonesia,” urainya.

“Dalam catatan Wapres, 605 kiai dan ulama meninggal akibat Covid-19. (Virus itu) tidak melihat status tinggi ataupun pendidikan tinggi!” ujarnya.

Menurutnya, Covid-19 telah mengajarkan banyak hal. “Di awal virus ini (menyebar), sesuai catatan sejarah, beberapa dari kita berselisih paham,” kenangannya.

Dia lalu mencontohkan, dulu ada perbedaan pemahaman bagaimana Shalat Id dilakukan seperti biasa atau dilakukan di rumah.

Kisah Khalifah Umar

Agus pun mengisahkan ketika zaman sahabat Khulafaur Rasyidin Umar bin Khattab mengunjungi Kota Syam. “Gubernur Syam menemui dan menyampaikan kepada Khalifah Umar bahwa penduduk terjangkit wabah,” ujarnya.

“Kemudian Khalifah Umar menemui sahabat Anshar untuk meminta saran, apakah perjalanan akan dilanjutkan atau mereka harus kembali ke Madinah,” sambungnya.

Ternyata, sebagian sahabat Anshar menyarankan mereka melanjutkan perjalanan. Namun, tidak sedikit sahabat yang meminta kembali ke Madinah.

Tidak puas dengan jawaban sahabat Anshar, Khalifah Umar kemudian menemui sahabat Muhajirin dengan menanyakan hal yang sama. “Jawaban mereka sama, ada yang meminta terus melanjutkan perjalanan dan tidak sedikit yang meminta untuk kembali,” imbuhnya.

Umar kemudian memutuskan sesuai perintah Rasulullah SAW. Yakni mengajak rombongannya kembali ke Madinah. Karen Gubernur Syam tidak menerima keputusan itu, maka Khalifah Umar menjelaskan sabda Rasul berikut.

“Jika kalian mendengar di suatu negeri terdapat thoun (wabah), maka janganlah masuk ke negeri tersebut. Namun jika kalian sudah memasuki negeri tersebut, maka berdiamlah dan jangan keluar!”

Alasan demikian dinilai masuk akal, sebab mereka bisa saling menjaga satu sama lain. “Semoga tahun ini menjadi tahun dimana kita akan terus merayakan shalat Idul Fitri dengan berjamaah dan tentunya dalam keadaan sehat wal afiat,” harap Agus. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni/SN

sumber berita by [pwmu.co]

Related Articles

Leave a Comment