Home Muhammadiyah News Network Dua Keajaiban Silaturahmi | PWMU.CO

Dua Keajaiban Silaturahmi | PWMU.CO

by PWMU CO
Ustadz M. Ikhsan Budiono menyampaikan Khutbah Iedul Fitri (Istimewa/PWMU.CO)

Dua Keajaiban Silaturahmi, liputan Mohamad Su’ud, kontributor PWMU.CO Gresik.

PWMU.CO – Kekuatan dan keajaiban silaturahim dikupas oleh Ustadz M. Ikhsan Budiono, dalam khutbah Idul Fitri yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kedungpring dan PRM Kandangrejo. Shalat digelar di Lapangan Kedungpring Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Senin (2/5/2022).

“Manusia lahir di dunia ini dalam kondisi lemah. Kemudian tumbuh berkembang menjadi besar, sehat, kuat, hebat, dan bermanfaat itu bukan dari usaha kita sendiri. Tetapi atas perhatian dan peran ibu, bapak, kakek, nenek, saudara, paman, bibi, guru dan yang lain,” papar Ikhsan.

Menurut Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kedungpring ini, semua orang yang berperan itulah yang dimaksud lingkaran keluarga, maka menurutnya, Islam mengajarkan silaturahmi kepada mereka.

Dua Keajaiban Silaturahmi

Ikhsan mengutip hadits Nabi SAW, yang artinya: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjang umurnya maka hendaklah menyambung silaturahim. (HR Bukhari No 940 Muslim No 1762)”.

Maka, dia berharap agar setiap manusia, lebih-lebih seorang Muslim, tidak boleh mengabaikan silaturahmi, karena perbuatan itu bisa menjadikan sebab Allah melapangkan rezeki dan dipanjangkan umur kepada orang yang rajin melakukannya. “Inilah miraclesilaturahmi pertama,” ujarnya.

Lulusan S2 Universitas Adi Buana Surabaya ini lalu menjelaskan makna hadits berikut:

مَنْ ضَمِنَ لِي وَاحِدَةً ضَمِنْتُ لَهُ اَرْبَعٌ : يَصِلُ رَحِمَهُ فَـيُحِبُّهُ أَهْلَهُ وَيُوَسَّعُ عَـلَيْهِ فِي رِزْقِهِ وَيُـزَادُ فِي أَجْلِهِ وَيُـدْخِلُهُ الْجَنَّةَ الَّتِي وَعَدَهُ.

Artinya: Barang siapa yang bisa menjamin untukku satu perkara maka aku jamin untuknya empat perkara: Hendaklah menyambung silaturahmi maka dia akan dicintai keluarganya dan diluaskan atasnya rezekinya,  dipanjangkan umurnya dan dimasukkannya surga sesuai yang dijanjikan-Nya. (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Pria yang juga ketua RT ini, melanjutkan keajaiban silarahmi yang kedua, yaitu perbuatan yang membawa pelakunya masuk surga.

Lalu, Ikhsan memaparkan sebuah hadits, “Seorang laki laki bertanya kepada Rasulullah SAW: ’Ya Rasulullah katakan kepadaku suatu perbuatan yang bisa memasukkan ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka.’’ 

Rasulullah SAW menjawab, ‘Hendaklah kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mendirikan shalat, menuaikan zakat, dan bersilaturahmi.’” (HR Bukhori No 5903 Muslim No 14)

Bahkan Ikhsan juga memaparkan ancaman bagi orang yang memutus silaturahmi tidak bisa masuk surga.

Baca sambungan di halaman 2: Empat Bentuk Realisasi Silaturahmi

Sekitar 1.000 jamaah memadati lapangan Kecamatan Kedungpring . Dua Keajaiban Silaturahmi, liputan Mohamad Su’ud, kontributor PWMU.CO Gresik.(Istimewa/PWMU.CO)

Empat Bentuk Realisasi Silaturahmi

Ikhsan kemudian merinci bentuk-bentuk perbuatan yang merupakan realisasi dari silaturahim yaitu:

Pertama, ihsan atau berbuat baik kepada kerabat, sebagaimana firman-Nya, surat  al-Israayat 26, “Dan berilah kepada keluarga keluarga yang dekat haknya.

Menurutnya, berbuat baik itu bisa dengan harta. Bisa dengan tenaga. Bisa dengan pikiran.Dan bisa juga dengan kedudukan atau jabatan. Ini dilakukan kepada kerabat yang membutuhkan bantuan sesuai dengan apa yang dibutuhkannya. 

Dia menjelaskan, berbuat baik tidak hanya saat kerabat membutuhkan, dalam kondisi normalpun berbuat baik dianjurkan oleh Islam. Di manapun kebaikan itu ditanam, tidak akan terbuang sia-sia terutama kepada kerabat akan memperoleh nilai ganda atau pahala ganda, yaitu pahala berbuat baik dan pahala silaturahmi.

Kedua, ziarah atau berkunjung, dolan dalam bahasa Jawa. Berkunjung kepada kerabat untuk mempererat kekerabatan agar lebih erat. “Dilakukan dengan cara yang tidak memberatkan dan tidak membosankan kedua belah pihak. Dilakukan dengan hanya mengharap ridha dan pahala dari Allah SWT. Bukan karena maksud dan tujuan dunia, seperti agar diberi sesuatu dan lain sebagainya,” jelas Ikhsan dihadapan 1.000 jamaah ini.

Ikhsan mengutip hadits, yang artinya: “Dari Abu Hurairoh dari Nabi SAW bahwa seorang laki laki mengunjungi saudaranya di desa lain, Allah mengutus seorang malaikat mengawasinya di jalannya. 

Ketika malaikat itu mendatanginya dia bertanya, ‘Kamu hendak ke mana?’ 

Dia menjawab, ‘Ke saudaraku di desa ini.’ 

Malaikat bertanya, ‘Apakah kamu mempunyai keperluan yang ingin kamu selesaikan?’ 

Laki-laki itu menjawab, ‘Tidak, aku hanya mencintai karena Allah.’

Malaikat berkata: ‘Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintainya karena Allah.’” (HR Muslim No 1769)

Ikhsan menjelaskan poin ketiga, yaitu berdakwah kepada keluarga dan kerabat. Dakwah adalah kewajiban setiap Muslim terutama kepada kerabat dekat. 

Bagi yang mempunyai kemampuan ilmu yang lebih terutama ilmu agama wajib mengajarkan kepada mereka apa yang belum mereka ketahui perkara agama, kalau kerabat tersebut beragama selain islam maka ajaklah masuk Islam dengan cara yang baik.

Rasulullah SAW memberikan teladan dalam hal silaturahmi dan berdakwah kepada keluarga besarnya sebagaimana diceritakan dalam sebuah hadits: Dari Abu Hurairah ia berkata: 

لَمَّا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةَ (وَأَنْذِرْعَشِيْرَتَكَ الْأَقْرَبِيْنَ) دَعَا رَسُوْلُ اللهِ ص.م :قُرَيْشًافَاجْتَمَعُوْافَعَمَّ وَخَصَّ فَقَالَ:يَابَنِى كَعْبِ بْنِ لُؤَيِّ أَنْـقِذُوْا اَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ،يَا بَنِي مُرَّةَ بْنِ كَعَبٍ،أَنْقِذُوْا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ،يَا بَنِى عَبْدِشَمْسٍ،أَنْقِذُوْا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ،يَابَنِى عَبْدِمَنَافٍ،أَنْقِذُوْا اَنْفُسَكُمْ مِنَ النْرَّارِ،يَا بَنِى هَاشِمٍ،اَنْقِذُوْا اَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ،يَابَنِى عَبْدِالْمُطَلِبٍ،اَنْقِذُوْا اَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ،يَا فَطِمَةُ،اَنْقِذِنَفْسَكِ مِنَ النَّارِفَإِنِّي لاَ اَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْأً غَيرَاَنَّ لَكُمْ رَحِمًاسَأَبُلُهَابِبَلَالِهَا.

Artinya: Ketika turun ayat: ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat kerabatmu terdekat’,maka Nabi mengundang orang-orang Quraisy. Maka mereka berkumpul. Nabi memanggil secara umum dan secara khusus. Beliau bersabda: ‘Wahai Bani Ka’ab bin Luay, selamatkanlah dirimu dari neraka, wahai Bani Murrah bin Ka’ab, selamatkan diri kalian dari neraka, wahai Bani Abdi Syams, selamatkanlah diri kalian dari neraka, wahai Bani Abdi Manaf, selamatkanlah diri kalian dari neraka, wahai Bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari api neraka, wahai Bani Abdul Muttholib, selamatkanlah diri kalian dari neraka, wahai Fathimah, selamatkanlah dirimu dari neraka, sesungguhnya aku tidak mempunyai kemampuan untuk melindungi kamu di hadapan Allah,hanya saja kamu mempunyai hubungan rahim dengan aku yang akan aku berikan sebagaimana layaknya.’” (HR Muslim No 98)

Keempat, adalah tidak menyakiti keluaga dan kerabat.

Termasuk wujud silaturahmi adalah tidak mengucapkan dan melakukan sesuatu yang menyakiti orang yang memiliki hubungan rahim/kerabat/keluarga dengan kita yaitu dengan cara menjaga lisan dan anggota badan kita sehingga tidak menyebabkan putusnya silaturahmi antarkeluarga sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

أَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ.

Artinya : Seorang Muslim sejati adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari bahaya lidah dan tangannya. (HR Bukhari No 10 Muslim No: 69 )

Dalam hadits lain Nabi Muhammad SAW menjelaskan:

لَيْسَ الْوَاصِ بـِالْمُكَافِىءِ وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِيْ إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Artinya : Bukanlah disebut penyambung silaturahmi sejati orang yang membalas dengan semisal. Tetapi orang yang menyambung tali silaturahmi adalah orang yang bila diputuskan oleh orang yang memiliki hubungan rahim/keluarga, justru dia berusaha menyambungnya (HR Bukhari No 1919) (*)

Dua Keajaiban Silaturahmi; Editor Mohammad Nurfatoni

sumber berita by [pwmu.co]

Related Articles

Leave a Comment