Home Muhammadiyah News Network Manusia Makhluk Resmi Ciptaan Allah | PWMU.CO

Manusia Makhluk Resmi Ciptaan Allah | PWMU.CO

by PWMU CO
Ustadz Piet Hizbullah Khaidir

Manusia Makhluk Resmi Ciptaan Allah; Liputan Kontributor PWMU.CO Lamongan Mohamad Su’ud.

PWMU.CO — Puasa Ramadhan adalah nikmat terindah Allah SWT untuk orang-orang beriman. Dengan Ramadhan, orang-orang beriman semakin kuat secara fisik, mental, dan spiritual.

Demikian untaian hikmah yang Ustadz Piet Hizbullah Khaidir MA sampaikan dalam khutbah Idul Fitri 1443 di Pelataran Masjid al-Muhajirin Gedangan, Maduran, Lamongan, Senin (2/5/22). Di hadapan 400 jamaah, Piet—panggilan akrabnya—menegaskan puasa sebagai anugerah Allah yang menyimpan banyak rahasia keagungan.

Rahasia Keagungan Puasa

Puasa membuat tubuh manusia lebih sehat dalam jangka panjang. “Orang-orang yang berpuasa dengan penuh keimanan, dengan pola makan yang teratur, mengurangi porsi makan, sarapan lebih pagi karena diganti sahur, secara fisik akan memperoleh kesehatan paripurna,” ungkap Ketua Sekolah Tinggi Ilmu al-Quran dan Sains al-Ishlah (STIQSI) Lamongan ini.

Piet juga menjelaskan, puasa secara benar membuat pencernaan sehat, “Sel-sel jahat dan racun-racun makanan di tubuh yang selama ini dikonsumsi sebelum puasa Ramadhan lebur mengalami detoksifikasi,” imbuhnya.

Menurut Piet, manusia juga mengalami peningkatan kualitas mental spiritual dengan berpuasa. “Bahkan tertinggi dalam maqam ruhani, yaitu derajat takwa bagi siapapun orang beriman yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan sempurna,” ujarnya.

Hanya saja tantangannya, membutuhkan upaya fisik, mental, dan spiritual. Maka, sambung Piet, perlu ilmu tersendiri untuk memperoleh pencapaian maksimal dalam ketiga hal itu.

Makhluk Resmi Ciptaan Allah

Lulusan S2 School of Theology and Philosophy University of Leeds, West Yorkshire, England itu lanjut menegaskan manusia sebagai warga bumi. “Manusia bukanlah peziarah dari negeri antah-berantah yang tersesat di satu titik buram bumi nan hijau ini. Manusia adalah makhluk resmi yang diciptakan Allah sebagai sebaik-baik ciptaan!” ujarnya.

Sebagai penduduk resmi planet bumi, manusia dihadirkan Tuhan khusus dari surga dengan anugerah sebagai pemimpin, pewaris, dan penerus tampuk kemaslahatan yang diamanahkan Allah SWT kepada Bapak Manusia: Nabi Adam AS. Ia menyimpulkan, “Manusia adalah pengemban amanah dan tugas kemaslahatan sebagai khalifah di muka bumi.”

“Manusia bukanlah susunan nafsu angkara-murka yang bertugas menjauhkan dari kebajikan, seperti setan. Manusia juga bukanlah susunan nafsu kesombongan yang lahir dengan keputusasaan seperti iblis,” tegas pria yang sedang menempuh program doktor bidang Ilmu al-Quran dan Tafsir di UIN Sunan Ampel Surabaya itu.

Seni Hadapi Cobaan Hidup

Piet juga memaparkan, banyaknya cobaan manusia dalam menjalankan amanah dan tugas sebagai khalifah. Di antaranya ada cobaan eksternal dari musuh abadi sejak di surga, yaitu setan dan iblis. Di samping itu, ada cobaan internal dari dalam dirinya sendiri.

Menurutnya, cobaan eksternal mudah diidentifikasi. Di mana seluruh perbuatan buruk dan penentangan perbuatan baik di dalam al-Quran termasuk perbuatan setan dan iblis.

Misal, syirik kepada Allah, mencuri, mabuk, meninggalkan shalat wajib, tidak membayar zakat padahal mampu, ghibah, curang, ingkar janji, tidak amanah dalam memimpin, dan lain semacamnya adalah cobaan eksternal.

Tim Penulis Tafsir Al-Tanwir MTT PP Muhammadiyah ini memberikan tips ampuh keluar dari cobaan eksternal. Yaitu berwudhu, beristighfar, memperbanyak berdoa dan berdzikir al-Qur’an Surat Mu’awidztayn, dan membaca al-Mulk sebelum tidur.

“Tuntunan menghadapi cobaan eksternal telah diberikan oleh Allah SWT melalui RasulNya dengan sangat jelas dan gamblang,” tegas penulis buku Al-Quran Menafsir Makna Zaman terbitan UMM Press itu.

Oleh karena itu, lanjut Piet, Rasulullah SAW pernah bersabda setelah pulang dari perang Badar. Beliau menyampaikan kepada para sahabat, “Kita baru pulang dari perang kecil dan akan menghadapi perang yang paling besar.”

Para sahabat bertanya, “Apakah perang yang paling besar itu, yaa Rasulullah?” Beliau menjawab, “Perang melawan dirimu sendiri!”

Maka, Piet mengungkap, manusia yang mampu melawan dirinya ialah mereka yang telah berhasil mengendalikan hawa dan nafsu murkanya dengan kemampuan menahan kemarahannya. “Mereka menahan diri untuk tidak emosi, tidak meledak-ledak dan mengumbar kemarahannya,” tutur Piet. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni/SN

sumber berita by [pwmu.co]

Related Articles

Leave a Comment