Home Muhammadiyah News Network Jangan Lupa, Perintah Nahi Munkar Itu Tidak Boleh Lepas Dengan Amar Makruf

Jangan Lupa, Perintah Nahi Munkar Itu Tidak Boleh Lepas Dengan Amar Makruf

by Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Umat Islam dianjurkan untuk senantiasa mengajak kepada kebaikan (amar makruf) dan mencegah dari kemunkaran (nahi munkar). Surat Ali Imran ayat ke-104 menyebut mereka yang mengamalkan anjuran ini termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung di akhirat.

Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, amar makruf nahi munkar itu berupa satu kesatuan integral. Karenanya, dia berpesan agar mubaligh dan dai-dai Muhammadiyah tidak melupakan aspek makruf (kebaikan) di dalam mencegah kemunkaran.

“Bagaimana agar dunia itu tidak mengarah pada mata’ul ghurur (kesia-siaan), tapi sekaligus tidak menjadikan kita anti dunia yang sejatinya merupakan mazra’atul akhirah (ladang beramal saleh),” pesan Haedar.

Tak lupa, dalam beramar makruf nahi munkar pun para mubaligh Muhammadiyah diingatkan Haedar untuk mengutamakan sikap dan akhlak mulia sebagai pantulan dari keimanan dan ketakwaan yang benar, bukan justru mengutamakan unsur simbol dan identitas seperti pakaian atau penampilan luaran.

“Tadayun (religiusitas) itu adalah kesalehan yang fitri, bukan kesalehan yang verbal. Orang Muhammadiyah harus bangkit tadayunnya menghidupkan kembali pemahaman kita tentang Keislaman pada hal yang pokok sehingga kita memahami Islam dengan baik,” pesannya.

Dalam pengajian PCM Taman Tirto, Sabtu (30/4) Haedar juga mendorong masjid-masjid Muhammadiyah memaksimalkan para mubaligh di lingkungan Persyarikatan untuk mendidik umat melalui pengajian.

Dalam konteks penguatan pemahamanan tentang amar makruf nahi munkar, warga Muhammadiyah kata Haedar juga harus menonjolkan jati diri inklusivismenya yang berawal dari penghayatan surat Al-Ma’un.

“Al-Ma’un itu sesungguhnya kemuliaan kita dalam bermasyarakat. Bahwa berbuat baik terhadap banyak orang itu sebenarnya tidak gampang, apalagi kepada yang berbeda agama, suku, ras, golongan, dan pilihan politik. Tapi Islam itu mengajari kita melintas batas. Mana yang memang hal-hal akidah ibadah, itu sudah prinsip. Tapi soal akhlak (muamalah) dengan lingkungan, dengan orang lain, itu bisa dikompromikan,” terangnya. (afn)

sumber berita ini dari muhammadiyah.or.id

Related Articles

Leave a Comment