Home Muhammadiyah News Network (Jangan) Terpancing Marah di Tengah Ritual Unjung-Unjung Lebaran | PWMU.CO

(Jangan) Terpancing Marah di Tengah Ritual Unjung-Unjung Lebaran | PWMU.CO

by PWMU CO
Potret jalan menuju Desa Mengare. (Jangan) Terpancing Marah di Tengah Ritual Unjung-Unjung Lebaran (Sayyidah Nuriyah/PWMU.CO)

(Jangan) Terpancing Marah di Tengah Ritual Unjung-Unjung Lebaran; Oleh Sayyidah Nuriyah.

PWMU.CO – Selasa (3/5/22) siang itu cuaca cukup sejuk. Sebagian langit menampakkan awan mendung, sebagian lainnya cerah berawan. Hamparan langit seolah mengisyaratkan akan ada pertemuan perbedaan dalam perjalanan nanti. Ah, perbedaan apakah itu?

Saya sempat membuka jendela untuk menikmati semilir angin dari sepanjang hamparan tambak di kanan-kiri jalan berpaving yang kami lewati. Kemudian menjulurkan ponsel untuk memotret betapa indahnya ketika bumi dan langit seolah hanya berbatas jajaran pepohonan hijau. Sementara permukaan tambak memantulkan hamparan langit di atasnya.

Bisa dibilang perjalanan melalui jalur berkelok sesuai lekuk tambak itu termasuk langka. Kami sekeluarga hanya menempuh jalur tersebut sekali selama setahun. Termasuk siang itu, ketika kami melewatinya untuk unjung-unjung Lebaran (baca: silaturahmi) sekaligus melayat ke rumah saudara.

Bukan tanpa alasan ini termasuk daftar jalan yang langka kami lalui. Saya masih ingat saat pandemi Covid-19 belum merebak, di mana tradisi unjung-unjung Lebaran masih aman dilakukan, sebelum berangkat saya sekeluarga perlu menyiapkan diri akan bayangan jalan terjal panjang di depan mata.

Kemarin, kami pun menyiapkan diri untuk menikmati sensasi ‘off-road’ di sana. Ialah satu-satunya akses jalan menuju Desa Mengare, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur yang sebenarnya memiliki potensi wisata mangrove.

Tapi kami bersyukur ternyata permukaan jalannya kini jauh lebih bagus. Hanya di beberapa titik yang pavingnya tak terpasang rata, sehingga jalan berkelok itu sesekali membuat seisi mobil terlonjak.

Simpangan Dua Mobil

Yang kami antisipasi pula, kondisi jalan yang sempit. Di beberapa jalan, hanya cukup dilalui satu mobil dan satu motor. Apalagi jika kebetulan menemui kondisi dua mobil bersimpangan. Harus ada salah satu mobil yang mengalah menepi, sambil menunggu mobil lain melaju dengan penuh hati-hati.

Artinya, ketika ada dua mobil melaju dari arah berlawanan dan bertemu di titik jalan yang sempit (tak ada ruang menepi), salah satunya harus toleransi: mundur mencari bonus lahan tepi tambak yang lebih lebar. Jika tak ada yang mau mengalah, maka sangat mengganggu kelancaran lalu lintas mobil maupun motor yang juga melintas di sana.

Masalahnya, meski kami telah mengantisipasi kondisi ini dengan menyiapkan diri bertoleransi, situasi di lapangan berkata lain. Tak dapat dipungkuri ada keberadaan setan yang membisikkan dan memantik gejolak emosi pada manusia.

Qadarullah, siang itu, sebuah mobil dari arah berlawanan tak mau mengalah mundur beberapa meter ke bonus lahan di belakangnya. Jika mobil itu mundur, dia perlu mundur lurus sekitar enam meter. Sedangkan yang searah kami ada tujuh mobil beriringan (termasuk kami). Jika mundur, perlu melewati tikungan ‘s’ sejauh lima meter.

Kiranya, dua menit kami bertahan di mobil masing-masing untuk memikirkan jalan keluar. Belum ada bayangan siapa yang hendak mundur ke mana. Lantas satu per satu perwakilan keluar dari mobil untuk mendiskusikan serta melihat sekiranya di mana ada bonus lahan yang memungkinkan simpangan itu.

Yang sebatas kami sama-sama mengerti, satu-satunya solusi adalah perlu ada salah satu pihak yang harus mengalah mundur. Pertanyaannya hanya pihak mana yang berkenan menurunkan egonya.

Terpancing Marah

Ternyata, seorang bapak berusia lanjut—sebut saja Pak X—yang keluar dari mobil tunggal berplat nomor luar kota—dari arah berlawanan itu bersikukuh tak mau mundur. Menurutnya, solusi terbaik adalah ketika deretan mobil dari arah kami yang mundur.

Dengan lantang, dia menyatakan sebagai warga setempat yang sudah terbiasa menemui kejadian serupa dan memahami bagaimana solusinya. Solusi dialah yang terbaik. “Saya orang Mengare!” tegasnya mengenalkan identitasnya.

Entah apakah benar-benar warga asli setempat. Karena warga setempat biasanya telah paham kapan perlu menghentikan mobilnya saat dari kelok kejauhan melihat ada mobil dari arah berlawanan melaju. Pun akan dengan senang hati spontan memundurkan mobilnya beberapa meter sebelum diminta. Suasana toleran itu telah akrab dalam keseharian mereka.

Mendengar pernyataannya yang sarat kesombongan atas identitas dirinya itu, seorang warga lain dari salah satu deretan mobil itu tak mau kalah. Dia juga balas meneriakkan asal desanya. Mungkin, guna menunjukkan solusinya juga tak kalah baik untuk kepentingan bersama. Baginya, tak bisa tujuh mobil mengalah mundur hanya untuk sebuah mobil.

Berujunglah saling adu identitas asal desa untuk mempertahankan masing-masing pendapat. Belum ada yang rendah hati mengalah hingga mereka hampir beradu fisik. Beruntunglah sebagian warga yang juga turun untuk berdiskusi itu sigap melerai keduanya. Mereka tak sampai bersentuhan fisik.

Bystander Effect

Sementara itu, sebagian besar penumpang mobil masih bertahan di dalam mobilnya masing-masing. Termasuk saya. Karena saya percaya pada mereka yang mewakili kami mampu memutuskan solusi terbaik.

Atau lebih tepatnya sebagian besar kami mengidap bystander effect. Yaitu kehadiran orang lain justru membuat individu semakin menarik diri untuk terlibat membantu dalam situasi genting. Semakin banyak orang yang berada dalam posisi bystander, semakin kecil kemungkinan mereka untuk membantu.

Di dalam hati saya, degub jantung seakan beradu dengan sepoi angin yang meriakkan air tambak. Berdoa pula agar ketegangan itu tak berujung panjang. Agar tak menodai momentum Idul Fitri yang semestinya menjadi media belajar saling memaafkan.

Akhirnya, 15 menit ketegangan siang itu terurai dengan keputusan tujuh mobil mengalah mundur. Dan sepanjang perjalanan sisanya kembali lancar penuh toleransi sampai kami tiba di Desa Mengare.

Biasanya, momentum silaturahim itu indah karena diwarnai saling mengenal sanak-saudara yang gagal dikenali karena lama tak bertemu. Tapi tadi justru terpancing mengadu identitas asal desa untuk mempertahankan masing-masing ego mereka.

Baca sambungan di halaman 2: Mengalah Tak Berarti Kalah

sumber berita by [pwmu.co]

Related Articles

Leave a Comment