Home Muhammadiyah News Network Keunggulan yang Membuat Muhammadiyah Bertahan Hingga Kini

Keunggulan yang Membuat Muhammadiyah Bertahan Hingga Kini

by Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, GARUT—Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Yadi Janwari menyampaikan ceramah dalam acara Halal Bihalal di lingkungan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Muhammadiyah Cibiuk pada Kamis (05/05). Dalam acara yang diselenggarakan keluarga besar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cibiuk Garut ini, Yadi menerangkan tentang Teori Keunggulan Kompetitif yang dicetuskan pertama kali oleh Michael E. Porter tahun 1985.

Dalam konteks bisnis, Teori Keunggulan Kompetitif menjelaskan tentang salah satu cara untuk memenangkan persaingan adalah dengan memiliki keunggulan kompetitif. Dalam konteks dakwah, Keunggulan kompetitif merupakan salah satu bentuk dari strategi bagi umat Islam untuk mempertahankan kelangsungan hidup beragamanya.

“Apabila satu produk agar bisa bersaing di pasar kalau memiliki keunggulan. Apa keunggulan produk kita dibanding produk orang lain? Apa yang bisa kita tampilkan dari produk kita yang berbeda dari produk orang lain?” tanya Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut ini.

Sebagai contoh, Muhammadiyah yang didirikan pada tahun 1912 hingga saat ini masih terus bertahan dan berkembang karena memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki gerakan Islam manapun. Tidak heran bila antropolog James Peacock menilai Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan Islam yang paling tahan banting dalam sejarah.

Alasan utama Muhammadiyah mampu bertahan bahkan berkembang pesat hingga kini lantaran mampu berdialektika dengan zaman. Makanya Muhammadiyah sering diasosiasikan sebagai gerakan muslim modernis.

Menurut Yadi, gerakan modernis berbeda dengan wacana westernisasi. Pasalnya, kelahiran Muhammadiyah merupakan respon terhadap cengkraman kolonialisme Barat dan keterbelakangan pemahaman keislaman di abad modern. Sebagai gerakan modernis, Muhammadiyah mengedepankan pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk semakin menciptakan akurasi yang presisi dalam terapan syariat.

Koreksi arah kiblat yang dilakukan Kiai Dahlan hanyalah satu contoh nyata bagaimana Muhammadiyah menerapkan syariat tidak hanya dengan teks-teks bayani, namun juga dengan pendekatan ilmu pengetahuan. Begitu juga dengan penggunaan hisab dalam penentuan awal bulan kamariah.

Menurut Yadi, hisab merupakan produk ilmu pengetahuan sedangkan rukyat merupakan metode tradisional. Dengan hisab, Umat Islam tidak perlu lagi mengarahkan pandangan ke angkasa mencari-cari agar bisa melihat hilal, tetapi dapat melakukan penghitungan posisi bulan dan matahari secara cermat untuk ratusan tahun ke depan. Muhammadiyah tidak ingin bila kontribusi ilmiah dalam menunjang peribadatan terhalang oleh interpretasi literal klasik.

Sebagai gerakan Islam yang pro ilmu pengetahuan dan teknologi, Yadi menyarankan agar kader-kader Muhammadiyah merupakan orang-orang yang cerdas. Warga Muhammadiyah harus tahu peta konstalasi dan realitas empirik sehingga kader dan simpatisan persyarikatan harus melek ilmu pengetahuan dan tidak menutup diri dari lingkungan dan perkembangan global.

“Karena Muhammadiyah ini gerakan modernis, gerakan yang menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menjelaskan agama, maka orang-orang di dalamnya haruslah orang-orang yang cerdas dan berilmu. Maka orang Muhammadiyah jangan sampai lelah dalam mencari dan mengamalkan ilmu!” tegas Yadi.

sumber berita ini dari muhammadiyah.or.id

Related Articles

Leave a Comment