Home Muhammadiyah News Network Bagaimana Ittiba’, Sidik, Amanah, Tablig, dan Fatanah Dimaknai di dalam Bermuhammadiyah?

Bagaimana Ittiba’, Sidik, Amanah, Tablig, dan Fatanah Dimaknai di dalam Bermuhammadiyah?

by Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Tujuan Muhammadiyah mewujudkan terbentuknya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya akan tercapai jika warga Muhammadiyah mengamalkan semua pasal dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM). MADM sendiri sejatinya adalah jiwa, ideologi dan fondasi pemahaman Bermuhammadiyah.

Pasal kelima MADM menyebutkan bahwa perjuangan itu akan berhasil dengan mengikuti jejak (ittiba’) perjuangan para nabi, terutama Nabi Muhammad Saw.

Menurut Wakil Ketua Majelis Pendidikan Kader (MPK) PP Muhammadiyah M. Faiz Rafdhi, yang dimaksud dengan Ittiba’ di sini adalah mengamalkan ayat ke-107 Surat Al-Anbiya yang artinya, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

“Oleh karena itu di dalam menebarkan dakwah kebaikan harus memiliki nilai-nilai rahmat dan kasih sayang,” kata Faiz dalam program Ideologi Muhammadiyah di kanal Tvmu, Rabu (4/5).

Ittiba’ Rasulullah Saw, dimaksudkan dengan mengikuti sifat penuh rahmat dan kasih sayang serta mengamalkan empat sifat wajib yang dimiliki Rasulullah yaitu sidik, amanah, tablig, dan fatanah.

“Sidik kita terjemahkan dengan jujur. Dalam konteks manajemen artinya transparan. Oleh karena itu dalam kita beribadah di Persyarikatan, nilai transparan harus dijunjung tinggi. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi, disembunyikan, apalagi untuk kepentingan pribadi,” terang Faiz.

“Kedua, amanah. Dalam konteks manajemen memiliki arti akuntabel. Dapat dipercaya, dapat dipertanggungjawabkan. Kalau keuangan bisa dipertanggungjawabkan melalui akuntan publik atau laporan LPPK. Bukan hanya itu, harus dapat dipastikan bahwa keuangan dan program sudah betul-betul sesuai baik dengan keputusan musyawarah maupun berdasarkan kaidah-kaidah keuangan,” imbuhnya.

“Ketiga, tablig punya makna komunikatf. Pak Malik Fajdar mengartikan ini dengan jejaring, komunikasi. Persyarikatan ini, amal usaha ini tidak mungkin kita bisa berkembang manakala kita menutup diri, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain,” jelasnya.

“Terakhir adalah fatanah yang kita artikan cerdas. Dalam konteks sekarang artinya adalah inovatif, selalu maju, meninggalkan hal-hal yang sudah tidak njamani (sesuai zaman). Apalagi sekarang di era disrupsi, era 4.0 di mana Muhammadiyah tidak boleh tertinggal dalam hal inovasi yang orang belum berpikir kita sudah harus ada di depan,” terang Faiz.

“Itulah yang disebut dengan berkemajuan. Kiai Ahmad Dahlan memberi contoh dengan telah berpikir soal pendidikan, kesehatan satu abad lalu manakala orang baru berpikir sekarang soal milenium development goal yang salah satu indikatornya adalah pendidikan dan kesehatan. Artinya Kiai Ahmad Dahlan sudah maju satu abad ke depan. Mudah-mudahan kita juga demikian, maju satu abad ke depan,” tegas Faiz. (afn)

sumber berita ini dari muhammadiyah.or.id

Related Articles

Leave a Comment