Home Muhammadiyah News Network Sudahkah Kita Meminta Maaf tanpa tapi? | PWMU.CO

Sudahkah Kita Meminta Maaf tanpa tapi? | PWMU.CO

by PWMU CO
Sudahkah Kita Meminta Maaf tanpa tapi? (Illustrasi freepik.com)

Sudahkah Kita Meminta Maaf tanpa tapi? oleh Sayyidah Nuriyah Konselor SD Muhammadiyah 2 GKB Gresik (Berlian School) dan Pusat Layanan Psikologi dan Konseling (PLPK) Smamio.

Usai seseorang meminta maaf, alih-alih hubungan kian pulih, adakalanya justru menambah rasa perih. Sudahkah meminta maaf tanpa tapi agar permintaan maaf diterima sepenuh hati?

PWMU.CO – Hari-hari di mana sering terucap saling memohon maaf lahir dan batin saat silaturahmi kian berlalu. Momentum spesial pascalebaran itu akan segera berganti dengan aktivitas sehari-hari. Ada yang kembali bersekolah, bekerja (atau proses mencari), mengurus keperluan rumah tangga, dan segudang aktivitas lainnya. 

Apapun kegiatan harian kita, peluang melakukan kesalahan pasti ada. Meski telah berupaya sebaik apapun di setiap kesempatan, ada saatnya nanti keterbatasan kita sebagai manusia biasa menempatkan kita pada situasi yang butuh memohon maaf dalam konteks masalah yang nyata.

Di sinilah, keterampilan memohon maaf yang sesungguhnya diperlukan. Agar ucapan itu tak sekadar mendorong lawan bicara memaafkan kita dengan setengah hati alias terpaksa di hadapan kita saja. Hati-hati, permintaan maaf pakai tapi berikut dapat membuat orang lain enggan menerima permintaan maaf kita.

Empat Bentuk Maaf Pakai tapi

Baik, mari kita renungkan, apakah selama ini kita pernah mengucap permintaan maaf dengan cara berikut.

Pertama, pakai alasan pembenaran untuk membela diri atas perilaku yang memang salah. Misalnya, “Maaf ya, Nak, tapi tadi saking jengkelnya Ibu sampai menjewer kamu itu tujuannya baik lho, Nak.”

Perilaku jengkel sampai menjewer pada dasarnya memang salah. Untuk mencapai tujuan baik, seperti agar anak menyadari dan merasa jera atas kesalahannya, pun bisa sosok ibu tempuh dengan cara lain yang lebih baik. Misal berdiskusi dari hati ke hati bagaimana anak memunculkan sikap itu sampai ada kesepakatan perbaikannya.

Kedua, menyalahkan sosok yang kita ajukan permohonan maaf. Istilahnya victim blaming. Seolah kita yang menjadi korban, padahal sebenarnya kita yang melakukan kesalahan.

Misalnya, “Maaf ya, Nak, tapi coba kamu tadi nggak nakal dan membuat Ayah malu, pasti Ayah nggak jengkel dan menjewer kamu.”

Dalam contoh situasi ini, menurut sosok ayah yang sedang meminta maaf itu, dialah yang menjadi korban karena kenakalan si anak telah membuatnya malu.

Ketiga, membenarkan perilakunya karena menurutnya ada tanggung jawab lain yang lebih penting. Padahal tanggung jawab yang dia lalaikan juga tak kalah penting.

Misal, “Maaf ya, Nak, tapi kemarin Ibu sangat sibuk dan benar-benar tidak sempat menemani kamu makan malam.”

Keempat, meremehkan atau memandang sederhana akibat dari permasalahan yang sesungguhnya, jadi menurutnya masih wajar kesalahan yang dia perbuat.

Misal, “Maaf ya, Nak. Ayah langsung menghapus bersih saat menyita HPmu, tapi kan memang kamu nggak butuh banget isinya, tugas daring juga gampang lah bisa kamu kerjakan lagi nanti.”

Baca sambungan di halaman 2: Strategi Pertahanan Diri

sumber berita by [pwmu.co]

Related Articles

Leave a Comment