Home Muhammadiyah News Network Setelah Libur Lebaran, Kerja Itu Siksa? | PWMU.CO

Setelah Libur Lebaran, Kerja Itu Siksa? | PWMU.CO

by PWMU CO
Kita Disentil Allah agar Tak Lupa Diri, Refleksi Idul Fitri, ditulis oleh Mohammad Nurfatoni, Pemimpin Redaksi PWMU.CO, alumnus Pendidikan Biologi FPMIPA IiKP Surabaya.
Mohammad Nurfatoni: Setelah Libur Lebaran, Kerja Itu Siksa? (sketsa foto oleh Atho’ Khoironi/PWMU.CO)

Setelah Libur Lebaran, Kerja Itu Siksa? Oleh Mohammad Nurfatoni, Pemimpin Redaksi PWMU.CO.

PWMU.CO – Setelah libur Lebaran, sejak 29 April hingga 8 Mei 2022, Senin (9/5/2022) besok, sebagian besar pegawai swasta dan negeri baru akan kembali bekerja. Usai menikmati silaturahmi dan (mungkin) berwisata selama 10 hari itu—yang terasa santai dan fresh—akankah kembali merasa tersiksa saat kita kembali bekerja?

Oh … apakah kerja itu siksa? Dalam bahasa Prancis, kerja adalah travail yang diderivasikan dari bahasa Latin trepaliumTrepalium ternyata adalah alat yang terdiri dari tiga lapis dan dipakai untuk menyiksa orang (Bondan Winarno, 1990). Jadi kerja itu siksaan tersendiri?

Memang, kerja itu bukan sesuatu yang ringan dan sepele. Kerja membutuhkan energi yang besar. Tengoklah para abang becak; buruh-buruh di pabrik; pekerja bangunan; atau petani-petani di desa. Berapa energi fisik yang harus dikeluarkan dalam menyelesaikan pekerjaan?

Berpikir adalah kerja keras. Membuat keputusan adalah kerja keras. Jadi kerja itu memang berat. Bahkan berpikir tentang kerja itu sendiri pun sudah berat. Karena itukah, kerja itu siksa?

Beratnya kerja bukan saja karena seseorang harus mengeluarkan tenaga untuk melakukannya. Orang-orang yang bekerja dengan otaknya bahkan sering berkata bahwa kerja otak lebih berat. Berpikir atau kerja otak diperlukan untuk merumuskan konsep atau memecahkan sebuah dilema. 

Berpikir adalah kerja keras. Membuat keputusan adalah kerja keras. Jadi kerja itu memang berat. Bahkan berpikir tentang kerja itu sendiri pun sudah berat. Karena itukah, kerja itu siksa?

Kerja menjadi siksa apabila kerja yang berat itu kita anggap sebagai sebuah beban. Seolah-olah kerja adalah penjara, dan kita ingin segera terlepas darinya. Dalam posisi seperti itu, kerja adalah sebuah keterpaksaan. Jika bukan karena, maaf, uang mungkin kita tidak melakukannya.

Berbeda jika kita menganggap kerja sebagai sebuah tantangan, maka kita merasa selalu tertantang untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik. Kerja kita adalah proses pemuasan terhadap tantangan yang hendak kita selesaikan. Dengan demikian, proses kerja itu sendiri akan memberikan kepuasan. Jadi, kita nikmati saja pekerjaan itu!

Lebih tinggi dari sekedar tantangan, kerja itu sendiri sebenarnya adalah bagian dari keseluruhan ibadah. Seperti kita ketahui bahwa kita, manusia, tidak diciptakan kecuali hanya untuk beribadah (adz-Dzariyat 56). 

Artinya, seluruh aktivitas keseharian kita sebenarnya adalah dalam rangka ibadah, tak terkecuali kerja itu sendiri. Asal, tentu saja, kerja yang kita lakukan tersebut hanya termotivasi oleh Allah dan dilakukan dengan cara yang benar (tidak melanggar nilai).

Dengan memahami kerja sebagai ibadah, bukan saja kita merasa puas dan menikmatinya, lebih dari itu, kita sesungguhnya telah menanam akar-akar kebaikan (pahala). Jelaslah, bahwa kerja itu bukan siksa melainkan bagian dari ibadah—yang kita merasa puas menikmatinya.

Baca sambungan di halaman 2: Kecanduan Kerja

sumber berita by [pwmu.co]

Related Articles

Leave a Comment