Home Muhammadiyah News Network Miliki Pedoman Resmi, Warga Muhammadiyah Relatif Lebih Bagus dalam Berittiba’ Kepada Rasul

Miliki Pedoman Resmi, Warga Muhammadiyah Relatif Lebih Bagus dalam Berittiba’ Kepada Rasul

by Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Selama ini ittiba’ rasul disempitkan dengan perkara simbolik atau perkara lahiriyah saja seperti cara berpakaian, penampilan hingga aktivitas fisik. Padahal, yang lebih utama adalah menampilkan perangai dan akhlak mulia Nabi dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Wakil Ketua Majelis Pendidikan Kader (MPK) PP Muhammadiyah M. Faiz Rafdhi, warga Muhammadiyah cenderung lebih mudah dalam berittiba’. Sebab, Muhammadiyah memiliki pedoman dasar ideologi seperti Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM) hingga Kepribadian Muhammadiyah.

“Ada rumusan di Kepribadian Muhammadiyah. Bagaimana Rasulullah bergaul dan bermasyarakat dengan orang lain. Misalkan di Kepribadian Muhammadiyah yang pertama hendaknya beramal dan berjuang itu demi perjuangan dan kesejahteraan dan kedamaian. Rasulullah membangun, mengajarkan kita untuk menebarkan kedamaian dan kesejahteraan bukan kebencian,” ujarnya.

Dalam program Ideologi Muhammadiyah di kanal Tvmu, Rabu (4/5), Faiz menerangkan bahwa ittiba’ Rasul juga menjadi salah satu syarat utama dalam mewujudkan misi membentuk masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Tetapi, ittiba’ itu bersifat substantif dan tidak tekstual (letterlijk).

“Artinya di dalam Bermuhammadiyah kita bisa berhasil manakala kita seperti Nabi Muhammad Saw yang menjaga kedamaian dan kesejahteraan,” kata Faiz.

Memberi contoh, Faiz menyebut bahwa Nabi di dalam sejarah hidupnya selalu menjaga persaudaraan dan memperbanyak ukhuwah, bahkan kepada kaum non-muslim.

Sirah menunjukkan bahwa Nabi menghormati orang Yahudi dan Nasrani. Surat Al-An’am ayat ke-108 bahkan menegaskan perintah dilarangnya umat muslim untuk mencela keyakinan agama lain.

“Jadi di dalam Bermuhammadiyah hendaknya kita tidak menambah musuh. Cukup sebagaimana prinsip-prinsip dakwah bahwa dakwah itu merangkul, bukan memukul, mengajak bukan menginjak, jadi memperbanyak kawan dan tetap ukhuwah Islamiyah dan tidak menjelek-jelekkan faham agama atau mazhab lain atau saling menyindir,” ingatnya.

Terakhir, Nabi memiliki kepribadian yang lapang dada. Hal ini disebut Faiz harus menjadi diikuti oleh warga Muhammadiyah dalam beramar makruf nahi munkar.

“Hal ini mengajarkan kepada kita sebagaimana Nabi Saw tidak cupet, tidak berpikiran sempit. Tapi justru Nabi itu luas pandangannya, luas fikirannya. Itulah mengapa Muhammadiyah memiliki dua sentral pilar yaitu pendidikan dan kesehatan. Artinya amar makruf nahi munkar bisa terjadi manakala masyarakat Indonesia kita cerdas. Kalau kita cerdas, melalui pendidikan, maka dia beramar makruf untuk dirinya sendiri dan mencegah kemunkaran dari dirinya sendiri. Itulah sebabnya Muhammadiyah tidak perlu berkoar-koar paling amar makruf nahi munkar karena dengan pendidikan, sejatinya Muhammadiyah telah berlaku amar makruf nahi munkar,” tegas Faiz. (afn)

sumber berita ini dari muhammadiyah.or.id

Related Articles

Leave a Comment