Home Muhammadiyah News Network Kafir yang Kufur Nikmat | PWMU.CO

Kafir yang Kufur Nikmat | PWMU.CO

by PWMU CO
Kafir yang kufur nikmat, sebuah pesan dalam Halal bi Halal yang digelar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida). Liputan Shinta Amalia F.
Prof Dr Jainuri MA PhD (Humas Umsida for PWMU.CO)

Kafir yang kufur nikmat, sebuah pesan dalam Halal bi Halal yang digelar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida). Liputan Shinta Amalia F.

PWMU.CO – Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) Umsida Prof Dr Achmad Jainuri MA PhD mengatakan, hari raya Idul Fitri merupakan momentum sebagai hari kemenangan bagi umat muslim, usai menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

“Momen ini juga dimaknai sebagai kesempatan untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama umat muslim,” ujarnya, Selasa (10/5/22).

Kafir yang Kufur Nikmat

Kita semua, lanjut dia, insyaallah telah menggenapkan kewajiban puasa sebulan penuh, lalu diikuti dengan mengagungkan asma Allah melalui shalat Idul Fitri yang kita laksanakan.

“Mudah-mudahan kita termasuk orang yang bersyukur, karena kalau tidak bersyukur kita termasuk kategori orang kufur nikmat,” ungkapnya mengawali sambutan dalam acara Halal BI Halal.

Mengangkat tema “Idul Fitri dan Semangat Berprestasi”, Prof Jainuri mengaitkannya dengan syukur. Menurutnya, mengacu pada buku karya Profesor Izutzu berjudul “Ethico-Religious Concept in the Qur’an”, umat muslim yang tidak memiliki rasa syukur dapat dikatakan sebagai kafir.

“Kafir tidak hanya dimaknai sebagai nonmuslim. Tetapi kufur nikmat, sekaligus juga orang-orang muslim sendiri yang tidak menjadikan nilai-nilai dasar hukum Allah, yakni menjadi elemen yang sangat penting dalam memutuskan suatu perkara, ini juga kafir,” jelasnya.

Sehingga, lanjut dia, berakhirnya bulan Ramadhan dan adanya momentum Idul Fitri kali ini, semestinya bisa menjadikan umat muslim untuk dapat meningkatkan rasa syukurnya.

Fakultas Kedokteran Umum Pertama

Berkaitan tema semangat berprestasi, Prof Jainuri menyampaikan, salah satu prestasi yang coba diunggulkan Umsida adalah upaya membuka Fakultas Kedokteran Umum pertama di Sidoarjo.

Dia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah daerah dan pemerintah pusat yang telah memberikan dukungan baik materil maupun moril.

“Dalam konteks moril, hal ini telah memberikan dorongan kepada Umsida untuk membuka Fakultas Kedokteran berupa rekomendasi izin untuk merintis fakultas tersebut,” jelasnya.

Dukungan kepada Umsida untuk membuka Fakultas Kedokteran tak hanya diberikan Bupati Sidoarjo dan Gubernur Provinsi Jawa Timur. Tetapi juga dari provinsi di luar Pulau Jawa seperti Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). 

“Semuanya telah memberikan rekomendasi kepada Umsida untuk segera membuka Fakultas Kedokteran itu,” tuturnya. Dia berharap agar wilayah yang secara teknis masih kurang dalam kualitas SDM-nya, bisa memiliki wadah untuk meningkatkan dan mengembangkan potensinya di Umsida.

“Harapannya, nanti daerah yang saya sebutkan itu akan mengirimkan sebagian warga putra putri daerah untuk nantinya belajar di Fakultas Kedokteran di Umsida,” imbuhnya.

Halal bi Halal Umsida 1443 H itu kemudian ditutup dengan khidmat lewat tausiah yang dibawakan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti MEd. Kegiatan yang diperuntukkan untuk dosen, karyawan, dan tenaga pendidik tersebut bertempat di Auditorium KH Ahmad Dahlan Kampus I Umsida. (*)

Co-Editor Darul Setiawan. Editor Mohammad Nurfatoni.

sumber berita by [pwmu.co]

Related Articles

Leave a Comment