Home Muhammadiyah News Network Surat Al-Hujurat, Panduan Protokoler dan Birokrasi | PWMU.CO

Surat Al-Hujurat, Panduan Protokoler dan Birokrasi | PWMU.CO

by PWMU CO

Surat Al-Hujurat, Panduan Protokoler dan Birokrasi Liputan Kontributor PWMU.CO Gresik Sayyidah Nuriyah.

PWMU.CO – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti MEd mengingatkan peserta Halalbihalal Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur agar senantiasa menjunjung sopan santun kepada pimpinan di tengah egaliterianisme, Selasa (10/5/22).

Dia menekankan pesan surat al-Hujurat yang banyak memuat penjelasan tuntunan membangun relasi sosial. “Dalam relasi sosial kita, memang ada sekat-sekat, ada kamar-kamar, ada aturan-aturan yang memang kita itu tidak bisa semaunya dalam bergaul dengan orang yang lain,” tuturnya.

Surat itu juga menerangkan ketika ada sahabat yang masuk ke rumah Nabi tanpa izin. Dia menganggap rumah Nabi seperti rumahnya sendiri. Tidak memperhatikan adab. Bahkan ketika menyapa nabi juga dengan sapaan yang egaliter namun tidak sopan.

“Sebagian sahabat itu memang mirip orang Muhammadiyah, karena saking egaliternya ini ada tidak sopan kepada pimpinan,” ujarnya bersambut gerrr peserta. “Saya tidak sedang curhat, saya hanya menceritakan saja,” Spontan peserta gerrr lagi.

Protokoler dan Birokrasi

Guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu pun mengingatkan pesan dalam al-Hujurat ayat 1 berikut.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُقَدِّمُوۡا بَيۡنَ يَدَىِ اللّٰهِ وَرَسُوۡلِهٖ‌ وَ اتَّقُوا اللّٰهَ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيۡعٌ عَلِيۡمٌ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Prof Mu’ti menjelaskan, “Kamu itu pinter ya pinter, tapi ojo kewanen. Wong ada Rasul, tetap harus menghormati Rasul. Kreatif ya kreatif, tapi ada levelnya. Bicara ya bicara, tapi jangan suaranya melebihi suara Nabi!”

Dia memperjelas, “Bicara dengan Pak Saad tentu beda ketika bicara dengan Pak Said. Itu bagian yang kadang-kadang, karena kita merasa dekat atau egaliter, kita terabas saja.”

Maka, menurutnya, ayat-ayat pada surat al-Hujurat itu tentang protokoler dan birokrasi. Sehingga moderasi juga terjadi karena faktor protokoler dan birokrasi. “Kadang-kadang unggah-ungguh tidak diutamakan dalam bermuamalah,” ungkapnya.

Primordialisme Berbasis Rasial

Bagaimana kita bisa membangun relasi sebaik-baiknya dan spirit silaturahmi, Prof Mu’ti memaparkan beberapa tuntunan menurut surat al-Hujurat. Sebab, dengan relasi yang baik, hidup dengan baik, maka bisa membangun relasi sosial yang penuh kasih sayang dan penuh kebahagiaan.

Salah satunya, tidak merendahkan satu sama lain. “Banyak persoalan muncul karena ada kelompok yang merasa lebih superior dibanding dengan kelompok yang lain. Class supremacy sering menjadi sumber persoalan dalam kelas sosial,” ujarnya.

Banyak orang menjadi rasis karena merasa superior, ras atau silsilahnya lebih unggul dari yang lain. Padahal al-Hujurat ayat 13 melarang kita mengedepankan primordialisme berbasis rasial.

“Quran tidak mencela orang yang menjadi berbeda suku-suku itu, bahkan perbedaan suku dan bangsa itu menjadi bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah,” terangnya.

Kesimpulannya, terlalu primordial, apalagi primordialisme itu dibangun di atas konstruksi supremasi rasial, maka bertentangan dengan tuntunan al-Quran.

Masalah Rasial

“Ayat itu diawali dengan ‘Ya ayyuhannas’ itu menunjukkan sikap al-Quran mengajak manusia untuk kembali pada the origin of creation (asal penciptaaannya), yakni dari orangtua yang sama. Al-Quran meletakkan dasar-dasar egaliterianisme kemanusiaan,” sambung Prof Mu’ti.

Menurutnya, sekarang orang hidup dalam masa yang orang heboh dengan muktikultural. Tapi rasialisme masih menjadi masalah yang serius. Berbagai persoalan politik muncul karena persaingan rasial.

Sehingga ketika Taliban berkuasa, menang di Afganistan, sebagian orang sangat euforia dengan kemenangan itu. “Termasuk sebagian orang Muhammadiyah. Seakan-akan sebagian itu menjadi juru bicara Taliban,” ungkapnya.

“Saya waktu itu tidak termasuk yang ikut euforia itu karena agak sedikit tahu soal yang terjadi di Afganistan itu sebenarnya bukan soal perbedaan agama tapi konflik rasial di mana suku Pashtun yang merasa paling elit itu belum pernah berkuasa di situ, yang berkuasa selalu kelompok minoritas,” terangnya.

Dalam penilaiannya, banyak konflik di Timur Tengah terjadi karena persoalan rasial. Khadafi dari Sunni yang minoritas tapi memimpin di Libya, karena dia minoritas, maka gaya kepemimpinanya harus otoriter. “Kalau minoritas demokratis mesti kalah,” imbuhnya.

Persoalan Rasial Afganistan

Menurutnya, kadang orang-orang melihat persoalan secara black and white. “Ketika melihat persoalan di Afganistan baru sadar itu persoalan rasial karena mereka sebagian besar Sunni mazhab Hanafi,” terangnya.

Prof Mu’ti pun menceritakan pemandangan baru di sana. Mereka sekarang mulai melarang perempuan beraktivitas di luar, bahkan mewajibkan memakai cadar sekarang ditekankan lagi

Menurutnya, sekarang Indonesia gelisah karena termasuk yang ikut mensponsori Afganistan. Walaupun Indonesia cukup elegan dalam konteks ini. Termasuk Muhammadiyah waktu itu ditanya oleh menteri luar negeri, “Apa yang bisa Muhammadiyah bantu terkait Afganistan?”

Pihaknya bilang, “Ami tidak akan membuka Muhammadiyah di Afganistan.”

Sebab, dia menyatakan tahu kondisi di sana. “Saya pernah ke kantor kedutaan Indonesia di Afganistan. Harus jalan kaki dari jalan utama, semua diplomat menginap di situ. Situasinya memang sangat rumit tapi persoalannya itu rasial. Sekarang Taliban muncul aslinya,” jelas dia.

Terlepas dari itu, Prof Mu’ti menyatakan, Muhammadiyah siap menampung mahasiswa Afganistan untuk kuliah di perguruan tinggi Muhammadiyah.

Golonganisme Berlebihan

Prof Mu’ti menyatakan, masalah rasial itu di tanah kita mulai muncul. Sebagian menunjukkan sentimen primordial. Menurutnya itu mengagetkan. “Sentimen-sentimen itu justru dibangkitkan ketika kita sudah 76 tahun merdeka sebagai suatu bangsa,” ungkapnya.

Ada juga golonganisme berlebihan, di mana suatu kelompok merasa ultranasionalis—meminjam istilah Haedar Nashir—merasa paling Indonesia di antara yang lainnya. “Hal seperti ini juga mengusik dan mengoyak ukhuwah di antara kita,” imbuhnya.

Sehingga, dia menegaskan, al-Hujurat mengingatkan, orang-orang yang beriman adalah mereka yang bersaudara. “Walaupun selanjutnya diikuti perintah untuk mendamaikan di antara saudara-sadaramu,” ujarnya.

Dia lalu menekankan pentingnya membangun Halalbihalal dengan rasa cinta dan memaafkan, kemudian saling bersinergi satu dengan yang lain. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

sumber berita by [pwmu.co]

Related Articles

Leave a Comment