Home Muhammadiyah News Network Terpilihnya Presiden Bongbong, Fenomena Prabowo 2024? | PWMU.CO

Terpilihnya Presiden Bongbong, Fenomena Prabowo 2024? | PWMU.CO

by PWMU CO
Sang Pangeran
Dhimam Abror Djuraid. Terpilihnya Presiden Bongbong, Fenomena Prabowo 2024?

Terpilihnya Presiden Bongbong, Fenomena Prabowo 2024?Oleh Dhimam Abror Djuraid

PWMU.CO – Filipina baru saja melaksanakan perhelatan pemilihan presiden Senin (9/5/22), dan melahirkan presiden baru Ferdinand Marcos Junior atau lebih dikenal dengan nama panggilan Bongbong.

Perhitungan suara formal oleh komisi pemilihan umum belum diumumkan, tetapi hasil perhitungan cepat menunjukkan perolehan suara Bongbong dua kali lipat lebih banyak dari pesaing terdekatnya, mantan Wakil Presiden Leni Robredo, dan mantan petinju Manny Pacquiao yang juga mencalonkan diri.

Bongbong ialah putra mantan Presiden Filipina Ferdinand Marcos (1917-1989) yang dikenal sebagai diktator Filipina yang berkuasa selama 21 tahun. Marcos memimpin dengan kekuasaan mutlak dan menerapkan politik tangan besi untuk menyingkirkan lawan-lawan politiknya.

Di bawah kepemimpinan Marcos Filipina korupsi merajalela dan kemiskinan meluas di mana-mana. Marcos dan istrinya Imelda dikenal sangat korup dan menyimpan kekayaan yang sangat besar di dalam dan luar negeri.

Pada 1986 Filipina diguncang oleh demonstrasi besar di seluruh negeri memprotes kepemimpinan Marcos yang dianggap bobrok. Rakyat Filipina kehilangan ketakutannya terhadap kekejaman Marcos, mereka berduyun-duyun turun ke jalan melakukan protes yang melumpuhkan aktivitas pemerintahan.

Gerakan rakyat ini kemudian terkenal dengan sebutan ‘’People Power’’, gerakan demonstrasi rakyat secara damai yang berhasil menumbangkan rezim yang sangat otoriter dan represif. Ferninand Marcos yang terdesak tidak mempunyai pilihan lain selain melarikan diri ke Amerika Serikat ketimbang menghadapi pengadilan rakyat.

Dengan pesawat khusus Marcos dan keluarganya melarikan diri ke Hawaii. Ketika itu ia membawa semua harta yang bisa dia boyong. Ada ribuan batangan emas, berlian, dan batu-batu berharga. Ada ratusan koper berisi uang kontan dalam pecahan dolar dan peso Filipina.

Bersama Ferdinand Marcos Senior ikut pula istrinya Imelda Marcos yang terkenal sebagai first lady, ibu negara, pesolek yang membawa serta ratusan pasang koleksi sepatunya bersamaan dengan ratusan koleksi perhiasan dari emas, intan, dan berlian. Sebuah laporan menyebutkan jumlah koleksi sepatu Imelda 2.000 pasang.

Bersama keluarga itu ikut pula si bungsu Ferdinand Marcos Junior. Ketika itu si bungsu yang biasa dipanggil Bongbong itu masih seorang anak muda berusia 27 tahun yang belum pernah secara langsung bersinggungan dengan politik. Marcos Senior juga tidak mempersiapkan anaknya yang masih dianggap terlalu muda itu untuk menjadi suksesornya.

Tetapi, takdir politik berbicara lain. Bongbong–yang menjadi saksi masa-masa kekuasaan bapaknya dan kemudian menyaksikan pula kejatuhan yang menyakitkan—diam-diam belajar banyak mengenai politik. Bapaknya meninggal dalam pengasingan dalam konidisi menderita pada 1989. Bongbong bersumpah untuk kembali ke Filipina dan akan meneruskan kepemimpinan dinasti Marcos.

Poeple Power

Saat ini Filipina mengalami transisi dan transformasi nasional setelah People Power berhasil mengusir Marcos. Marcos yang sangat otoriter digantikan oleh seorang presiden baru yang sama sekali tidak dikenal kiprah politiknya dan lebih dikenal sebagai ibu rumah tangga.

Dialah Corazon ‘’Corry’’ Aquiono istri mendiang Benigno ‘’Ninoy’’ Aquino. Semasa hidup Ninoy dikenal sebagai musuh bebuyutan Marcos. Ninoy menjadi politisi yang dengan gagah berani menentang otoritarianisme Marcos. Ninoy yang lahir dari keluarga tuan tanah kaya raya rela membagi-bagikan tanahnya untuk para petani miskin yang menjadi korban salah urus oleh rezim Marcos.

Ninoy semakin populer dan pendukungnya semakin meluas. Marcos tidak senang dengan keberadaan Ninoy dan memenjarakannya atas tuduhan subversi. Pada 1980 Ninoy diizinkan berangkat ke Amerika untuk mengobati sakit jantung. Ninoy kemudian tetap tinggal di Amerika sebagai eksil. Ia tetap menyuarakan perlawanan terhadap Marcos dari tempat pengasingan.

Pada 1983 Ninoy memutuskan untuk kembali ke Filipina untuk memimpin pelawanan langsung terhadap Marcos. Teman-temannya sudah mengingatkan akan bahaya yang mengadangnya. Marcos tidak akan segan-segan membunuh Ninoy begitu tiba di Filipina. Ninoy bersikeras untuk tetap pulang.

Benar saja. Begitu pesawatnya berhenti di Bandara Manila, Ninoy dijemput oleh beberapa tentara. Ketika Ninoy menuruni tangga terdengar letusan senjata beberapa kali. Ninoy tersungkur bermandikan darah dan tewas seketika di atas tarmac bandara. Marcos mengklaim pembunuh Ninoy adalah aktivis komunis yang langsung ditembak mati oleh tentara di tempat kejadian perkara.

Rakyat tidak percaya. Kematian Ninoy justru menyulut gerakan rakyat yang makin meluas. Popularitas Ninoy yang sangat tinggi dan pembunuhannya yang brutal membuat rakyat kehilangan rasa takutnya. Demonstrasi menentang Marcos mulai bermunculan secara sporadis.

Puncaknya terjadi pada 1986. Rakyat sudah semakin bernyali. Puluhan ribu orang melakukan demonstrasi yang kemudian dikenal sebagai Revolusi EDSA singkatan dari Epifanio de los Santos Avenue, sebuah jalan di Metro Manila yang menjadi pusat demonstrasi.

Pemimpin tertinggi Gereja Katolik Filipina Kardinal Sin merestui dan mendukung gerakan rakyat. Rakyat Filipina yang mayoritas Katolik semakin berani turun ke jalan. Ratusan ribu orang tiap hari memenuhi EDSA untuk melakukan protes damai. Puncaknya terjadi ketika ratusan ribu orang bergerak mengepung Istana Malacanang tempat Marcos dan Imelda bersemayam.

Pemimpin tertinggi militer Jenderal Fidel Ramos melihat situasi yang tidak terkendali dan memutuskan untuk mendukung gerakan rakyat. Marcos harus menghadapi risiko pengadilan rakyat. Ia tidak punya pilihan lain kecuali melarikan diri ke Amerika.

Sebuah pemerintahan paling brutal dalam sejarah Filipina akhirnya tumbang oleh People Power. Rakyat Filipina–yang masih mengenang Ninoy–akhirnya memilih Corry Aquino sebagai presiden baru. Seorang ibu rumah tangga yang tidak punya pengalaman politik dipilih menjadi presiden karena menjadi simbol perlawanan yang tidak kenal takut selama revolusi.

Baca sambungan di halaman 2: Politik Dinasti Filipina

sumber berita by [pwmu.co]

Related Articles

Leave a Comment