Home » Bermuhammadiyah Merupakan Implementasi dari Semangat Ruh Islam

Bermuhammadiyah Merupakan Implementasi dari Semangat Ruh Islam

by Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, PEMALANG — Beraktivitas, berlelah-lelah, berkorban, berwakaf di Muhammadiyah yang dilakukan oleh warga Muhammadiyah merupakan implementasi dari ruh Islam. Semangat tersebut sebagai bekal warga Muhammadiyah dalam menyambut masa depan di akhirat.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menjelaskan bahwa warga Muhammadiyah harus memiliki tujuan dengan jelas dalam menjalankan hidupnya. Tentu tujuan utama sebagai muslim adalah meraih ridha Allah SWT. Ini adalah puncak dari tujuan hidup muslim.

Menurutnya, segala profesi yang dilakukan oleh manusia muslim merupakan tiket menuju ridha Allah SWT. Maka dalam melaksanakan jabatan apapun, harus berorientasi dan bergerak di atas arus ridha dan karunia Allah SWT. Cara untuk mencapai itu dilakukan dengan dua cara yaitu sebagai hamba yang bertugas untuk beribadah dan kedua adalah sebagai khalifatullah atau perwakilan Allah SWT di muka bumi untuk melestarikannya.

Dalam memerankan diri sebagai hamba yang berkewajiban untuk beribadah, kata Haedar meliputi dua dimensi, yakni dimensi ibadah khusus dan ibadah umum. Ibadah khusus sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah dalam wahyu-wahyu-Nya, dan dimensi selanjutnya adalah dimensi umum sebagai implementasi dari muamalah duniawiyah, seperti membangun sekolah, rumah sakit, panti sosial dan seterusnya.

“Kita beribadah dalam dimensi muamalah duniawiyah bisa dalam bentuk mendirikan sekolah dan seterusnya. Jangan dikira hal itu tidak terhitung sebagai ibadah dan bernilai pahala,” ucap Haedar dalam Tausiyah Silaturahmi Keluarga Besar Muhammadiyah Kabupaten Pemalang, Ahad (19/6).

Dalam menggapai akhirat dan diganjar surga, kata Haedar, tidak dilakukan dengan meninggalkan dunia. Menurut Haedar, tidak bisa dikotomis antara kehidupan dunia dan akhirat. Sebab keduanya saling terkait, menjalankan peran dunia sebagai khalifatullah merupakan pijakan seorang muslim dalam menapaki kehidupan akhirat yang lebih baik.

Pada kesempatan ini Haedar mengajak dan menggugah kesadaran warga persyarikatan untuk menjalankan peran dengan serius. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tidak boleh hanya ada, tapi juga harus baik, berkemajuan dan berkeunggulan. Potensi-potensi yang dimiliki oleh warga persyarikatan harus dimaksimalkan. Semua bisa mengambil peran sesuai dengan kemampuan masing-masing.

“Coba kita yang berkumpul di sini, merelakan, mengikhlaskan sebesar Rp. 50.000 atau Rp. 10.000 tiap orang untuk membangun misalkan gedung sekolah TK ‘Aisyiyah.” Ucapnya.

Haedar juga menegaskan bahwa, Warga Muhammadiyah sejak awal memang disiapkan sebagai juru atau agen dakwah Islam yang terdepan dan berkemajuan. Menurutnya, keadaan tersebut yang menjadikan dakwah Muhammadiyah selalu terdepan dalam segala aspek. Muhammadiyah menjadi organisasi milik pribumi pertama yang mendirikan rumah sakit atau balai kesehatan di Indonesia. Itu menjadi bukti bahwa Muhammadiyah-‘Aisyiyah bergerak melintas.

sumber berita ini dari muhammadiyah.or.id

Related Articles

Leave a Comment