Home » Famgath Always Together sampai Akhirat | PWMU.CO

Famgath Always Together sampai Akhirat | PWMU.CO

by PWMU CO
Famgath
Dr Saad Ibrahim membuka Family Gathering keluarga sang Surya di Claket. (Nia/PWMU.CO)

PWMU.CO– Famgath (Family Gathering) ke 10 Keluarga Besar sang Surya digelar di Villa Pondok Indah Claket Pacet Mojokerto, Sabtu (25/6/22) malam. 

Acara dihadiri keluarga kader-kader Muhammadiyah. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Dr Saad Ibrahim membuka acara.

Saad menyampaikan, agenda family gathering yang digagas anggota PWM Jawa Timur almarhum Nadjib Hamid ini gagasan yang sangat proyektif di Muhammadiyah.

”Saya lihat di sini ada tulisan Always Together,” kata Saad menunjuk backdrop di panggung. ”Ini harus diteruskan Always in Eden not in Hell,” selorohnya disambut tawa hadirin.

Dia sangat mengapresiasi semua kader Muhammadiyah yang telah mengikuti acara Famgath ini. Menurutnya, proses perkaderan dengan model gathering ini sangat strategis untuk penguatan kader. Karena itu dia berniat membicarakannya  di Muktamar 48 di Solo, November 2022 mendatang.

”Ini akan kita bicarakan di Muktamar Solo. Entah nanti menjadi majelis setidaknya menjadi lembaga,” sambungnya.

Saad atas nama PWM Jawa Timur minta supaya diingatkan ketika muktamar nanti. ”Saya minta diingatkan untuk mengusulkan. Kalau tidak bisa di muktamar setidaknya kita share ke PWM-PWM,” ujarnya.

Menurut dia, Famgath itu penting. Pertama, dalam keluarga harus punya paham yang digariskan Muhammadiyah. Kedua, untuk meneladani Nabi sedekat-dekatnya dengan cara Nabi.

Ketiga, dalam kontek famgath, berbeda orang -orang yang dilahirkan dari keluarga Muhammadiyah. Dia mencontohkan  Muhammad Mirdasy . ”Pasti beda  Muhammadiyahnya Mirdas dengan ayahnya  almarhum KH Abdurrahim Nur,” katanya.

Setelah kuliah di Mesir, KH Abdurrahim Nur menjadi Muhammadiyah dengan begitu banyak tantangan.

Pembukaan Famgath ke 10 di Claket Pacet.

Takdir

Kemudian Saad menceritakan takdirnya sendiri menjadi Muhamamdiyah. Dulu namanya Syafii. Kemudian diubah kakeknya menjadi Saad. ”Ini persoalan takdir kalau saya dulu tidak diubah seperti sekarang ini, saya mungkin jadinya pengurus Nahdlatul Ulama,” ujarnya yang disambut  tawa peserta.

Untuk Famgath ke 11, Saad berharap bisa dillaksanakan di Istana Negara. ”Untuk itu Famgath 11 saya tunjuk ketuanya  Mas Arief Budiman,” ujarnya.

”Kita juga punya Pak Syamsi Ali di New York. Maka sangat mungkin Famgath ke 68 atau 70 nanti bisa dilaksanakan  di White House,” kata Saad Ibrahim berangan-angan.

”Dengan membaca basmallah, saya buka Famgath ke 10 ini, dan saya buka Famgath 11 di Istana juga Famgath ke 68 atau 78 di White House,” kata Saad Ibrahim disambut gemuruh tepuk tangan peserta.

Penulis Uzlifah  Editor Sugeng Purwanto

sumber berita by [pwmu.co]

Related Articles

Leave a Comment