Home » Jangan Cuma Bayar dan Lepas Tanggung Jawab, Orangtua juga Berperan Mendidik Anak-anak

Jangan Cuma Bayar dan Lepas Tanggung Jawab, Orangtua juga Berperan Mendidik Anak-anak

by Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA—Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir ingatkan peran wali murid, bahwa yang berperan mendidik dan mencerdaskan anak bukan hanya tugas guru dan sekolah. Inilah yang disebut sebagai pendidikan holistik Muhammadiyah pada tataran sistem.

Pendidikan holistik Muhammadiyah adalah memadukan antara iman, akhlak, dan pikiran maju. Tapi elaborasi iman itu harus holistik, seperti iman juga dikaitkan dengan pembelaan kepada orang lain, atau lembaga pendidikan Muhammadiyah yang melahirkan peserta didik yang membela kemanusiaan.

Di sisi lain, pada sistem juga harus holistik. Artinya aktivitas belajar-mengajar bukan hanya dilakukan di sekolah. Melainkan juga di rumah, peserta didik dengan orang tua. Orang tua jangan merasa sudah bayar, kemudian mereka melepaskan tanggung jawab untuk mencerdaskan/mendidik anak-anak mereka.

“Keluarga tidak boleh lepas dari pendidikan, sekarang yang terjadi kan itu. Merasa sudah bayar, sekolahkan, serahkan anak ke pesantren, pokoknya urusan perilaku anak itu sudah sepenuhnya urusan sekolah. Ketika ada yang salah dengan anak, maka yang disalahkan adalah guru dan sekolahnya,” ucapnya.

Demikian disampaikan oleh Haedar di acara Seminar dan Workshop Implementasi Kurikulum Holistik dan Integratif SMK Pusat Keunggulan Muhammadiyah se-Indonesia, Sabtu (30/7) di Sahid Hotel, Yogyakarta.

Ia menegaskan bahwa tidak bisa pendidikan anak hanya mengandalkan sekolah saja, sebab sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga memerlukan lingkungan yang mendukung dirinya. Lingkungan keluarga, lebih-lebih orang tua merupakan sistem pendukung yang utama melahirkan generasi cerdas dan berkarakter.

Haedar juga mengarahkan peserta didik di sekolah-sekolah Muhammadiyah memiliki karakter agar tidak mudah terbawa arus dan memiliki pegangan kuat. Bahkan, peserta didik di sekolah Muhammadiyah juga harus diarahkan untuk memiliki cara berpikir yang rasional. Menurutnya karakter berpikir rasional merupakan sunnatullah.

“Karakter ini diharapkan agar peserta didik Muhammadiyah tidak melakukan kesalahan-kesalahan elementer dalam hidup,” imbuhnya.

Oleh karena itu Guru Besar Bidang Sosiologi ini mendorong Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah untuk merumuskan konsep Pendidikan Muhammadiyah, dengan merujuk beberapa keputusan resmi organisasi seperti putusan Muktamar ke-46 Muhammadiyah di Yogyakarta tentang Filosofi Pendidikan Muhammadiyah.

Selain itu, dalam merumuskan konsep pendidikan Muhammadiyah Majelis Dikdasmen juga harus merujuk pada sejarah lahirnya pendidikan Muhammadiyah.

Menurutnya, Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Muhammadiyah sebagai ‘bantalan lintasan’ yang strategis untuk menurunkan konsep-konsep besar pendidikan Muhammadiyah.

Haedar menyebut, bahwa konsep pendidikan holistik Muhammadiyah yang ingin diimplementasikan di SMK Muhammadiyah merupakan keinginan sejak awal KH. Ahmad Dahlan mendirikan lembaga pendidikan. Meski tidak disebut secara rigid, namun pendidikan holistik sudah Nampak pada konsep yang dilahirkan oleh KH. Ahmad Dahlan.

sumber berita ini dari muhammadiyah.or.id

Related Articles

Leave a Comment