Home » Ini 3 Cara Mencintai Keluarga

Ini 3 Cara Mencintai Keluarga

by bandungmu

BANDUNGMU.COM — Bagaimana cara mencintai keluarga yang ideal? Setiap orang pasti berbeda-beda dalam mewujudkan hal itu. Namun, setidaknya ada 3 cara mencintai keluarga.

Pertama, ajari keluarga soal agama

Saya tidak tahu apakah poin penting dalam bentuk mencintai keluarg atau tidak. Namun, kalau mengacu kepada anjuran Nabi SAW, mengajari keluarga soal agama adalah keharusan.

Ini soal urusan perintah Tuhan dalam kitab suci-Nya, bukan sekadar gaya-gayaan agar terlihat saleh di hadapan manusia. Kalau keilmuan kita kurang mumpuni, kita bisa menitipkan anak-anak kita, misalnya, ke madrasah, tempat ngaji, atau pesantren.

Tugas bagi kepala keluarga, bapak, suami, atau pemimpin keluarga untuk kategori ini sangat berat. Bahkan saking beratnya, tidak semua kepala keluarga mampu melaksanakannya.

Langkah yang paling sederhana dan paling mudah mengajari keluarga soal agama, bisa dilakukan pada waktu-waktu yang tepat, salah satunya selepas magrib atau subuh.

Pada dua waktu itu bisa dilakukan tadarus Al-Quran bersama-sama, mengecek kualitas bacaan Al-Quran anak dan istri, mengetes doa shalat, zikir sehabis shalat, dan materi-materi agama lainnya. Tentu semua itu disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Kedua, bahagiakan keluarga

Membahagiakan keluarga bisa dengan bentuk apa saja. Bisa dengan rekreasi ke tempat wisata, jalan-jalan ke taman, belanja buku, liburan yang murah meriah, bisa juga dengan menonton film bersama-sama, baik di bioskop maupun di rumah.

Kebahagiaan anak dan istri adalah kebahagiaan suami/ayah. Enggak ada ceritanya seorang suami atau ayah yang tidak bahagia kalau anak dan istri sedang bahagia. Pasti dia bahagia.

Oleh karena itu, berkomunikasi dengan anak dan istri itu sangat penting dilakukan. Intensitasnya harus dijaga agar ada komunikasi dua arah yang hangat dan ideal.

Termasuk mengerjakan tugas atau pekerjaan di dalam rumah secara bersama-sama (suami dan istri) adalah bagian dari membahagiakan keluarga. Ingat, istri itu bukan pembantu yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian, melainkan istri itu sebagai partner.

Maka dari itu, suami dan istri bertugas untuk menciptakan kebahagiaan di dalam rumah dalam kondisi apa pun. Terlebih di hadapan anak-anak.

Atau kalau lebih kecil lagi dan spesifik, kita bisa intensif ngobrol dengan anak-anak setiap hari. Meski hanya mendengarkan ocehan atau curhatan anak tentang aktivitas dia seharian atau tentang teman barunya, itu harus didengarkan dan direspons.

Anak dan istri ketika curhat, lantas tidak ditanggapi oleh suami atau ayah, pasti akan kecewa dibuatnya. Tidak mungkin tidak kecewa. Jangan lantas menelantarkan mereka dengan cara kita asyik dengan telepon genggam.

Ketiga, jadilah contoh yang baik

Tidak sekadar mengajari keluarga soal agama, membahagiakan mereka, tetapi ada lagi yang penting yakni khususnya suami/ayah harus menjadi contoh atau teladan di depan anak-istri.

Memberikan dan menyampaikan contoh itu sangat gampang. Namun, menjadi contoh dalam ucapan dan tindakan, itu butuh proses dan latihan yang terus-menerus.

Kita melarang anak menonton youtube secara berlebihan, tetapi kita sendiri sebagai suami atau ayah malah asyik begadang nonton film kesukaan di youtube. Kita menyuruh anak mengaji, tetapi ketika waktu magrib kita malah nonton televisi.

Antara ucapan dan tindakan nyata tidak sinkron samak sekali. Lisan mengucapkan A, sedangkan tindakan malah B bahkan Z. Jauh sekali perbandingannya. Keluarga mana ada yang mau mencontoh ayah/suami macam begini.

Tetap ikhtiar

Tidak ada kepala keluarga, suami, atau ayah yang sempurna. Namun, tetap ikhtiar mencintai keluarga sesuai dengan tuntunan agama dan moral merupakan hal yang harus terus dilakukan.

Bahagiakan keluarga, cintai keluarga, dan jaga keluarga dari berbagai macam hal yang menghambat bersemayamnya benih-benih keutuhan rumah tangga. Tentu upaya itu dilakukan sesuai dengan kemampuan kita.

Setikdanya 3 cara mencintai keluarga yang dibahas ini bisa menjadi pengingat bahwa kita sebagai pemimpin keluarga punya tanggung jawab untuk mencintai dan membahagiakan mereka. Wallahualam.***

Penulis: FA




sumber berita ini dari bandungmu.com

Related Articles

Leave a Comment