Home » Bersinergi Membangun Peradaban Bangsa melalui Penanaman Akhlak Mulia

Bersinergi Membangun Peradaban Bangsa melalui Penanaman Akhlak Mulia

by Redaktur 1

Oleh Nur Hidayati

Telah tersurat dalam kitab suci Al Quran, bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka, perkembangannya, orang tuanyalah yang berperan dalam membentuk karakter. Ibarat kertas putih bersih, orang tualah yang berperan memberikan warna bagi anaknya. Apa pun warnanya, tidak ada seorang pun yang ingin mewarnai anaknya dengan warna yang hitam pekat dan gelap. Dapat dipastikan, orang tua menginginkan warna terindah buat anak-anaknya.

Untuk memberikan warna terindah bagi anak-anak, tentunya orang tua tidak dapat bekerja sendiri tanpa ada peran serta orang lain yang turut membantunya. Tiga pilar pendidikan yang perannya sangat berpengaruh besar terhadap peradaban bangsa tersebut adalah orang tua, sekolah (guru), dan masyarakat (lingkungan sekitarnya). Walaupun demikian, sejatinya pemberian warna melalui pendidikan dasar telah dilakukan oleh orang tua di lingkungan keluarga. Pendidikan dasar di lingkungan keluarga akan berdampak ketika anak melanjutkan Pendidikan di sekolah. Di mana mereka akan menemukan figur orang tua kedua yaitu seorang guru.

Guru merupakan profesi yang mulia dan menjadi tokoh sentral dalam dunia pendidikan. Guru pemberikan teladan bagi masyarakat luas. Guru adalah sosok orang tua di sekolah. Peran guru sangat penting dalam turut membangun akhlak mulia dan karakter generasi emas masa depan. Generasi di era kekinian diharapkan menjadi generasi yang hebat dan bermartabat. Generasi yang cerdas namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang bersumber dari ajaran agama.

Mendidik dan Mengajar

Mendidik tentu berbeda dengan mengajar. Mendidik tidak hanya sekadar memindahkan ilmu pengetahuan kepada peserta didik sebagaimana mengajar. Tetapi, bagaimana upaya yang dilakukan guru dalam mengawal sekaligus membentuk kepribadian mereka menuju manusia yang berkarakter.  Mendidik anak tidak semudah mengatur dan memindahkan barang dari satu tempat ke tempat yang lain sesuai dengan keinginan dari pemiliki barang. Mengapa demikian? Karena anak adalah makhluk hidup.

Makhluk hidup selalu mengalami perubahan dan akan terus mengalami perkembangan. Sebagai makhluk hidup, manusia diberi anugerah oleh Allah berupa akal pikiran dan keinginan (nafsu). Keduanya menjadi terarah jika dibimbing oleh keimanan yang kuat kepada Allah SWT. Namun sebaliknya, jika akal pikiran dan keinginan manusia  tidak terarah, maka keduanya justru akan mengarahkan manusia itu sendiri kepada perilaku negatif yang cenderung destruktif. Hal ini jika benar-benar terjadi, maka akan menimbulkan terkikisnya nilai-nilai moral dan menggoyahkan sendi-sendi kehidupan bangsa.

Guru sebagai pendidik yang profesional, maka ada beberapa strategi yang dapat diterapkan dalam upaya turut mengawal generasi masa depan sebagai generasi emas yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan akhlak mulia.

1.       Menjadi teladan yang baik

Tenaga pendidik dan kependidikan bisa bersinergi berupaya menjadi figur, teladan atau panutan yang baik bagi peserta didik. Banyak hal yang bisa dijadikan tauladan bagi mereka, seperti kedisiplinan, bertutur kata yang santun, berperilaku yang baik, menghormati yang tua, menjaga kebersihan, selalu menjadi contoh dalam menaati seluruh aturan sekolah dan sebagainya.

2.       Menanamkan nilai-nilai spiritual atau religi

Untuk mengawal mereka menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, maka ada upaya melakukan pembiasaan seperti melaksanakan salat Dhuha, hajat, istighosah, mengaji, berdoa mengawali dan mengakhiri pelajaran serta memperingati hari-hari besar Islam. Selain itu dapat memasukkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran, dengan tujuan agar peserta didik selalu melibatkan Allah dalam setiap aktivitasnya sehari-hari sebagaimana tertuang dalam sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.

3.       Menanamkan Nilai-nilai Akhlak Mulia

Seluruh peserta didik dibiasakan untuk bersikap santun dan hormat kepada guru. Membudayakan 3S (Sapa, Salam, Senyum), saling bertegur sapa, menggunakan fasilitas dengan sebaik-baiknya, tidak memicu perkelahian atau tawuran, selalu menjaga nilai-nilai persahabatan dengan baik, menjaga kebersihan, menanamkan kejujuran, kedisiplinan, tegas dalam bersikap, tidak mementingkan diri sendiri, dan perilaku positif lainnya.

Demikian beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam upaya membangun peradaban bangsa melalui penanaman akhlak mulia. Dibutuhkan sinegitas antara orang tua di rumah, guru, dan masyarakat untuk turut bersama-sama bertanggung jawab terhadap penanaman karakter akhlak mulia kepada peserta didik. Artinya harus ada kesinambungan dan kerjasama yang baik antara tiga pilar Pendidikan. (*)

______________

*) Penulis adalah guru mata pelajaran Akidah Akhlak MTsN 4 Sidoarjo, Jawa Timur.

Related Articles

Leave a Comment