Home » Alasan Pengajian di Muhammadiyah Tidak Menggunakan Istilah Sunnah

Alasan Pengajian di Muhammadiyah Tidak Menggunakan Istilah Sunnah

by Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA— Pengajian-pengajian yang diadakan di lingkungan persyarikatan sering menggunakan istilah keterangan waktu, seperti Pengajian Ahad Pagi, Sabtu Pon, Kajian Malam Sabtu, juga ada nama lain seperti yang pernah digunakan saat pengajian KH. Ahmad Dahlan, Fathul Asrar Miftahussa’adah dan seterusnya.

Ketua Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Jamaludin Ahmad menjelaskan, terkait pemilihan nama tersebut sering disangka bahkan oleh warga Muhammadiyah sendiri, bahwa pengajian Muhammadiyah itu tidak sunnah karena tidak menggunakan istilah sunnah.

Jamal menjelaskan, bahwa tidak digunakannya istilah sunnah pada pengajian-pengajian Muhammadiyah karena Muhammadiyah tidak ingin mendikotomi atau mengkotak-kotakan umat, yang kemudian secara tidak langsung menuduh pengajian yang selain Muhammadiyah itu tidak sunnah.

“Karena kita tidak mau terjebak dalam pengkotak-kotakan umat, yang kemudian menuduh secara tidak langsung bahwa yang lain itu tidak nyunnah.” Ucapnya pada, Sabtu (6/8) di acara Kajian Islam yang diadakan oleh Majelis Tabligh PDM Kota Yogyakarta.

Padahal, imbuh Jamal, penggunaan nama Muhammadiyah bagi organisasi ini sudah sangat tegas dan jelas bahwa, Muhammadiyah adalah pengikut Nabi Muhammad sekaligus pelestari ajarannya. Islam bagi Muhammadiyah harus hadir di masyarakat dan dirasakan manfaatnya secara luas di masyarakat.

Kerangka awal atau desain Muhammadiyah memang diarahkan untuk kemanfaatan seluas-luasnya bagi masyarakat. Dia menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak hanya alam pikiran atau majelis ilmu tapi juga harus beramal dan berkarya. Termasuk adanya Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) merupakan implementasi dari Al Qur’an dan Sunnah.

“Kadang-kadang warga Muhammadiyah itu tidak menyadari bahwa Amal Usaha itu bagian dari mengamalkan Al Qur’an dan Sunnah. Kita tidak akan membangun sekolah, rumah sakit, panti kalau itu sekedar urusan sosial”. Tegasnya.

Menurut Jamal, cara nyunnah Muhammadiyah itu bisa berbagai macam cara selain mendirikan AUM, juga membentuk majelis, lembaga, dan ortom, termasuk membentuk komunitas AmbulanMu yang membantu siapa saja yang membutuhkan. “Itu nuraninya orang Muhammadiyah, itu nyunnahnya orang Muhammadiyah”. Katanya.

Dia mewanti-wanti jangan sampai seorang muslim memiliki kerangka berpikir Islam, tapi kelakuannya tidak Islam, gemar memecah belah umat, menuduh yang lain ashabiyah – firqoh, tetapi dirinya sendiri berfirqoh-firqoh. 

sumber berita ini dari muhammadiyah.or.id

Related Articles

Leave a Comment