Menu

Mode Gelap
PKM Center UM Bandung Gelar Dikusi Kiat Sukses Pendanaan PPK Ormawa Ruang Tanpa Nama, Buku yang Membawamu pada Kondisi Suwung Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Dorong Umat Islam Terlibat Aktif Membangun Peradaban Atasi Minimnya Informasi dari Lapangan, Relawan Kebencanaan Muhammadiyah Dibekali Keterampilan Jurnalistik Meriahnya MOTEKART Prodi PIAUD UM Bandung Suguhkan Berbagai Tampilan Mahasiswa Dengan Kostum Unik

wawasan WIB

Islam Rahmatan lil Alamin: Tiga Pandangan Tokoh Muslim


 Islam Rahmatan lil Alamin: Tiga Pandangan Tokoh Muslim Perbesar

Sebagai umat muslim, sering kali saya diperdengarkan konsep “Islam Rahmatan lil Alamin” atau dalam istilah lain kerap dimaknai Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Konsep ini berasal dari ayat dalam Al-Qur’an, di mana Allah SWT berfirman, yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya’ [21]:107).

Dalam konteks ini, Islam dianggap sebagai agama yang tidak hanya memberikan pedoman bagi umat Muslim dalam menjalani kehidupan. Namun juga memberikan manfaat bagi seluruh alam semesta dan manusia secara keseluruhan. Konsep ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kebaikan, kasih sayang, dan perdamaian kepada seluruh umat manusia.

Implementasi konsep “Islam Rahmatan lil Alamin” juga memperlihatkan kepentingan menjaga lingkungan dan alam semesta. Sehingga mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di sekitar kita. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang mengajarkan pentingnya menghargai dan menjaga keberlangsungan alam semesta.

Oleh karena itu, Islam Rahmatan lil Alamin pada prinsipnya ingin mengajarkan kita agar hidup dengan penuh kasih sayang dan perdamaian, menghargai kemajemukan dan memelihara lingkungan. Sehingga memberikan manfaat bagi seluruh alam semesta dan umat manusia secara keseluruhan.

Menurut KH Ahmad Dahlan

KH Ahmad Dahlan adalah seorang tokoh Islam Indonesia sekaligus pendiri Muhammadiyah. Sebuah organisasi Islam yang memiliki tujuan untuk memperbaiki kehidupan umat Islam Indonesia melalui pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial. Hemat penulis, Kyai Dahlan telah melampaui konsep “Islam Rahmatan lil Alamin” melalui amal usaha persyarikatan yang di dirikan pada 18 November 1912.

Melalui konsep pendidikan dan kesehatan yang telah tersebar di seluruh penjuru nusantara, bahkan ada yang di luar negeri. Jadi tidak terlalu berlebihan jika disebutkan bahwa Kyai Dahlan telah menerapkan konsep tersebut bagi seluruh umat, bukan hanya bagi umat Muslim. Agama Islam tentang nilai-nilai kemanusiaan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti keadilan, perdamaian, toleransi, dan kasih sayang melalui institusi-institusi yang dilembagakan.

Bahkan menurut M. Abdul Fattah Santoso sebagaimana dilansir dari laman Muhammadiyah.or.id, menyebutkan bahwa operasionalisasi Islam Rahmatan lil Alamin telah dilakukan oleh Muhammadiyah sejak era KH Ahmad Dahlan. Pun tetap lestari sampai saat ini. Hal itu menjadikan Muhammadiyah dalam beberapa bidang menjadi pelopor pelayanan bagi kehidupan umat dan bangsa.

Meminjam istilah Moch. Lukluil Maknun (Relevansi Nilai Rahmatan lil Alamin K.H. Ahmad Dahlan dalam Novel Sang Pencerah, 2021) menyebutkan jika Kyai Dahlan sejak masih kecil memang sudah memiliki sikap dan pemikiran kritis dalam beragama. Bahkan Kyai Dahlan sangat hobi bersedekah dan membantu orang lain yang dalam kesusahan hidup. Terlebih bagi kaum mustadh’afin (lemah) dan fakir miskin.

Menurut Fatima Mernissi

Dari luar Indonesia ada seorang feminis asal Maroko, namanya Fatima Mernissi (wafat pada 30 November 2015). Ia menyatakan bahwa Islam adalah rahmat bagi manusia. Dalam pandangannya, Islam menempatkan nilai-nilai kemanusiaan pada posisi utama dan memberikan kebebasan dan hak asasi manusia kepada seluruh umat manusia.

Mernissi percaya bahwa Islam memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap martabat manusia, terlepas dari jenis kelamin, agama, etnis, atau status sosial. Dia menekankan bahwa ajaran Islam menghargai keadilan dan keseimbangan dalam segala hal, termasuk hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Namun, Mernissi juga mengkritik praktik-praktik patriarki yang berkembang dalam masyarakat Muslim. Hal itu dirasa tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang dianut oleh Islam. Ia mempertanyakan pemahaman tradisional tentang peran gender dalam Islam. Kemudian mencari cara untuk menginterpretasikan ajaran agama tersebut secara lebih inklusif dan sesuai dengan zaman.

Dalam bukunya yang terkenal “Beyond the Veil: Male-Female Dynamics in Modern Muslim Society,”. Mernissi menunjukkan bahwa tidak sedikit praktik dan budaya dalam masyarakat Muslim yang menindas perempuan yang tidak diajarkan oleh Islam. Melainkan praktik itu berasal dari tradisi dan kebiasaan lokal yang diadopsi oleh masyarakat Muslim.

Menurut Fazlur Rahman

Cendikiawan Muslim Fazlur Rahman (1919-1988) yang terkenal karena kontribusinya dalam bidang studi Islam dan filsafat. Salah satu konsep yang dikembangkannya adalah tentang “Islam sebagai rahmat”, yang mengacu pada pengertian bahwa Islam bukan hanya agama yang memberikan petunjuk moral dan spiritual bagi umatnya, tetapi juga memberikan manfaat bagi seluruh umat manusia dan alam semesta.

Rahman Juga menyebutkan sejumlah problem pendidikan Islam yang dihadapi dunia Islam, yaitu problem ideologis, dualisme dalam sistem pendidikan, bahasa dan problem metode pembelajaran sebagaimana disampaikan oleh Abuddin Nata dalam uraiannya; Islam Rahmatan lil Alamin Sebagai Model Pendidikan Islam Memasuki Asean Community.

Menurut Rahman, konsep “Islam sebagai rahmat” tidak hanya menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kebaikan, kasih sayang, dan perdamaian, tetapi juga menekankan pentingnya menghargai keberagaman budaya dan tradisi, serta memberikan manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan. Dalam pandangannya, Islam harus melampaui batas-batas agama dan bangsa, dan harus menganggap seluruh umat manusia sebagai saudara dan saudari.

Meminjam istilah Abdul Azis (Pendidikan Islam Humanis dan Inklusif, 2016) menyebutkan bahwa ajaran Islam yang diserukan Muhammad Saw, sejak awal mula sekali adalah terkait dengan suatu humanisme dan rasa keadilan sosial.

Rahman juga berpendapat bahwa konsep “Islam sebagai rahmat” dapat diterapkan dalam konteks modern, di mana umat Muslim perlu beradaptasi dengan situasi tuntutan zaman. Menurutnya, Islam hendaknya dipahami dan diaplikasikan dengan cara yang relevan dengan situasi dan kebutuhan masyarakat kontemporer, sehingga memberikan manfaat.

Penutup

Dalam kacamata ajaran Islam, alam semesta diciptakan oleh Allah SWT sebagai bentuk rahmat-Nya. Oleh karena itu, Islam memandang bahwa umat manusia dan seluruh makhluk ciptaan Allah SWT sudah semestinya diperlakukan dengan penuh keadilan. Islam juga mengajarkan untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh seluruh makhluk hidup.

Selain itu, konsep “Islam Rahmatan lil Alamin” juga menekankan pentingnya membantu dan membela orang-orang yang membutuhkan. Islam juga mengajarkan untuk memberikan dukungan kepada sesama manusia tanpa memandang agama, ras, atau latar belakang sosial.

Sebagai penutup, konsep “Islam Rahmatan lil Alamin” ingin menunjukkan bahwa ajaran Islam tidak hanya tentang ibadah seremonial semata, melainkan mengajarkan untuk menjaga kelestarian alam, mempromosikan perdamaian dan toleransi, serta merawat orang-orang yang membutuhkan.

Dengan mengamalkan konsep ini, umat Muslim pasti menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta dan menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Wallahu A’lam.

Editor: Soleh

sumber ini berita dari ibtimes.id

Artikel ini telah dibaca 98 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Haul ke-31 K. Abdul Djalil Sibaweh, Pondok Pesantren Afkaaruna Gelar Haflah Ikhtitam dan Pengajian Akbar

18 February 2024 - 22:51 WIB

Ijazah Doa Gus Mus Sebelum Berangkat Menuju TPS

15 February 2024 - 22:49 WIB

Empat Ayat Terkait Filsafat dalam Al-Qur’an

12 February 2024 - 22:48 WIB

MY Esti Wijayati, Legislator Perempuan di Balik Perjuangan Panjang UU TPKS

9 February 2024 - 22:46 WIB

Al-Biruni dan Budaya Ilmiah Apropriasi

6 February 2024 - 22:45 WIB

Muhammadiyah and NU Received an Award from the Zayed Award for Human Fraternity

3 February 2024 - 22:44 WIB

Trending di wawasan