Menu

Mode Gelap
Attitude, Perjanjian Tak Tertulis Pebisnis! Prodi Ekonomi Syariah FAI Universitas Siliwangi Gelar Workshop Bisnis Digital Angkatan Muda Muhammadiyah Garut Gelar Sosialisasi PERDA Penyelenggaraan Perlindungan Anak Pendampingan Islamic Financial Literacy, PPM Universitas Siliwangi Cegah Akses Bank Emok Menguak Peran Penting Saudagar Batik dalam Perkembangan Muhammadiyah di Garut

wawasan WIB

Nabi Muhammad Saw dan Madrasah Gua Hira


 Nabi Muhammad Saw dan Madrasah Gua Hira Perbesar

Salah satu pendekatan Al-Quran dalam memberikan petunjuk adalah dengan metode kisah. Artinya, mengisahkan berbagai peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi untuk diambil pelajaran. Dimana pelajaran-pelajaran itulah yang hakikatnya mengandung petunjuk. Baik itu petunjuk dalam kerangka akademis-teoritis maupun petunjuk operasional.

Karena berkisah peristiwa-peristiwa masa lalu yang benar-benar terjadi maka secara empiris bisa dibuktikan kebenarannya. Oleh karena itu salah satu pendekatan untuk mengkaji Al-Quran selain dengan tafsir secara tekstual bisa dilakukan dengan pendekatan sejarah dan kontekstual.

Tema Madrasah Gua Hira ini sangat terinspirasi dari salah satu nama surat di dalam Al-Quran yakni surat Al-Kahfi. Di mana al-kahfi secara bahasa artinya adalah gua. Karena mengisahkan para pemuda yang beriman penghuni gua. Para pemuda itu mencoba mempertahankan keimanan mereka ketika dipaksa untuk kafir sesuai dengan permintaan penguasa mereka saat itu. Maka mereka bersembunyi di sebuah gua.

Para pemuda itu di dalam Al-Quran disebut sebagai para pemuda Ashabul Kahfi (para penghuni gua).  Di mana di dalam surat Al-Kahfi ayat ke-13 mereka disebutkan: “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”. Jadi luar biasa sekali kisah para pemuda di dalam gua ini. Mereka adalah pemuda yang beriman, dan dengan iman mereka itu berdampak pada mendapatkan petunjuk.

Terkait dengan Madrasah Gua Hira ini adalah sebuah tulisan terkait dengan penghuni sebuah gua di dalam sejarah Islam yakni Nabi Muhammad Saw. Dimana Nabi Muhammad pernah menghuni sebuah gua, yakni Gua Hira ketika akan menerima Wahyu Al-Quran. Maka bagaimana peristiwa Nabi Muhammad Saw ketika di dalam gua itu jika didekati dengan pendekatan teori-teori pendidikan layaknya Madrasah.

Teori pendidikan Islam kontemporer menyebutkan Madrasah adalah tempat proses belajar-mengajar ajaran Islam secara formal yang mempunyai kelas dan kurikulum dalam bentuk klasikal. Secara khusus, madrasah adalah tempat belajar mengajar dengan fokus materi tertentu, yakni materi-materi keagamaan atau keislaman.

Secara umum sebuah tempat belajar atau Madrasah bisa disebut sebagai “Madrasah” minimal memiliki beberapa unsur sebagai berikut: guru (pengajar); siswa (pelajar); kurikulum (materi dan metode belajar); dan sarana prasarana sebagai tempat belajar.

Turunnya Wahyu di Gua Hira

Berikutnya yaitu yang terkait dengan peristiwa bersejarah di Gua Hira. Yakni peristiwa ketika pertama kali Al-Quran diturunkan ke langit dunia kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara Malaikat Jibril. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa ayat yang pertama turun adalah Al-Quran surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Kejadian itu terjadi pada 17 Ramadhan 610 Masehi atau saat malam yang kemudian disebut sebagai malam Nuzulul Quran.

Kisah turunya Al-Quran di Gua Hira ini dikisahkan dengan sangat rinci di dalam Tafsir Ibnu Katsir ketika menafsirkan Q.S. Al-‘Alaq ayat 1-5. Selain itu, kisah turunya wahyu pertama di Gua Hira ini bisa mengutip dari apa yang pernah disampaikan oleh Ibunda Aisyah Ummul Mukminin.

Kejadian ini sekaligus sebagai pertanda diangkatnya Muhammad sebagai rasulullah (utusan Allah). Ketika itu Nabi Muhammad Saw sedang beribadah atau lebih tepatnya menyendiri di Gua yang terletak 5 KM dari kota Mekkah bernama Gua Hira.

Di malam yang sunyi dan syahdu itu Malaikat Jibril datang dan menghampiri Muhammad dengan membawa Q.S. Al-‘Alaq ayat 1-5. Kemudian Rasulullah belum bisa mengikuti apa yang dikatakan oleh Malaikat Jibril; justru Rasulullah menjawab “apa yang harus aku baca?” maka Malaikat Jibril memeluk Rasulullah dengan dekapan yang kuat. Seakan-akan ada pesan jaminan keamanan dan kenyamanan untuk tenang ketika Muhammad harus mengikuti Malaikat Jibril dengan kata-kata yang disampaikan. Situasi seperti itu sampai terulang tiga kali di mana Rasulullah menjawab “apa yang harus aku baca?” dan berulang tiga kali juga Malaikat Jibril harus mendekap dan memeluk Rasulullah. Hingga pada akhirnya Rasulullah mau mengikuti apa disampaikan oleh Malaikat Jibril meskipun masih dalam keadaan gemetar dan diliputi dengan rasa kaget. Beliau bisa mengikuti wahyu permulaan turun yakni Q.S. Al-‘Alaq mulai dari ayat pertama hingga yang kelima.

Coba kita telaah lebih jauh terkait dengan peristiwa tersebut. Jika Gua Hira tempat turunnya wahyu pertama itu diumpamakan sebagaimana Madrasah. Sehingga kita bisa menyebutnya sebagai Madrasah Gua Hira. Iya benar, Madrasah Gua Hira. Kalau Gua Hira itu adalah Madrasah maka harus memenuhi beberapa unsur sebagai perumpamaan Madrasah yang telah disebutkan di atas. Yakni, sarana prasarana sebagai tempat belajar; guru (pengajar); siswa (pelajar); kurikulum (materi dan metode belajar). Pertanyaannya adalah siapa yang mengajar di Madrasah Gua Hira tersebut? Siapa yang menjadi murid? Apa materi yang disampaikan? Dan Bagaimana cara atau metode mengajarnya? Termasuk bagaimana kondisi sarana prasarana di Madrasah Gua Hira ini?

Madrasah Gua Hira

Secara singkat dan sederhana mari kita bahas satu persatu pertanyaan-pertanyaan di atas. Pertama, perumpamaan seorang guru yang mengajar di Madrasah Gua Hira adalah Malaikat Jibril. Malaikat Jibril berkedudukan sebagai seorang Guru. Seakan kita hari ini bisa mengambil makna bahwa kedudukan seorang guru atau pengajar itu sama seperti kedudukan malaikat.

Apalagi Malaikat Jibril yang secara tugas memiliki tugas yang sama sebagaimana tugas guru yakni menyampaikan wahyu atau menyampaikan pesan-pesan keilmuan. Malaikat adalah makhluk yang mulia. Sebagaimana kedudukan para Guru memiliki tugas yang mulia dengan mengajarkan dan memberikan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran kepada siswa mereka.

Kedua, di Madrasah Gua Hira yang menjadi siswa adalah Nabi Muhammad Saw. Nabi yang ummi tetapi terkenal karena kejujurannya sehingga beliau terkenal sebagai al-amin. Al-amin artinya adalah yang terpercaya; yang paling amanah atau; yang paling jujur. Iya, seperti itulah siswa. Demikian seharusnya profile seorang siswa; seorang penuntut ilmu. Jujur dan terpercaya. Meskipun dia awalnya ummi tetapi dengan kejujuran maka dia sedang menempuh derajat kemuliaan akhlak terbaik sebagai seorang manusia.

Jadi singkatnya seorang siswa atau alumni harus memiliki profile atau kompetensi sebagaimana keteladanan Rasulullah dengan berbagai karakter baik. Terutama yang terkait dengan empat karakter kenabian yakni siddiq (jujur); amanah (terpercaya); tabligh (pandai menyampaikan); dan fathonah (cerdas). Singkatnya siswa yang diharapkan dari sebuah lembaga pendidikan adalah siswa yang memiliki kompetensi sebagaimana Nabi Muhammad Saw.

Ketiga, terkait dengan pertanyaan: apa materi yang disampaikan di Madrasah Gua Hira itu? Materi yang diajarkan tidak lain dan tidak bukan adalah Al-Quran. Sebagaimana kata pertama yang disampaikan oleh Malaikat Jibril yaitu Iqra’ artinya “Bacalah”. Di mana kata iqra’ ini juga sebagai akar kata dari lafadz Al-Quran. Al-Quran secara makna tekstual artinya adalah bacaan.

Al-Quran juga berarti alam yang diam. Selain itu Rasulullah juga merupakan Al-Quran rupa manusia; Al-Quran yang berjalan dan; Al-Quran yang hidup (The living Quran). Maka yang menjadi rujukan dalam pembelajaran ada 3, yakni Al-Quran, Alam semesta dan Rasulullah. Ketiganya menginspirasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Keempat, terkait dengan bagaimana metode atau cara mengajar jika merujuk pada kejadian yang pernah terjadi di Gua Hira. Metode dan cara mengajar ini masih terkait dengan materi atau dalam teori pendidikan disebut bagian dari kurikulum. Secara langsung tidak menyebutkan metode apa dalam peristiwa itu tetapi yang jelas ada pengulangan penekanan dari Malaikat Jibril agar Rasulullah mau mengikuti bacaan yang dilafadzkan.

Sesuai teori pendidikan tradisional, pengulangan untuk ditirukan dalam proses belajar mengajar disebut metode tallaqqi. Tetapi selain itu, yang terpenting adalah adanya pelatihan untuk bisa mengucapkan dan melafadzkan dari Malaikat Jibril kepada Rasulullah.

Jadi secara garis besar metode pembelajaran adalah sebagai bahan latihan bagi siswa atau dalam teori pendidikan modern dengan pendekatan active learning yang disebut Student Centered Learning (SCL). Metode pembelajaran yang diisyaratkan dalam kisah di Gua Hira, harus bisa menjamin rasa nyaman; aman; tenang dan menghilangkan kegelisahan dan kekhawatiran dalam belajar.

Hal ini diisyaratkan dengan dekapan atau pelukan dari Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw ketika beliau belum bisa mengikutinya. Mungkin secara strategis kita bisa menemukan beragam metode baru dalam belajar mengajar, tetapi nilai-nilai di atas harus tetap ada.

Kelima atau terakhir terkait dengan sarana prasarana atau sarpras. Terkait dengan sarpras maka kita tidak membayangkan untuk semua fasilitas pendidikan. Tetapi sarpras yang pertama dan utama adalah sebagai tempat pembelajaran. Apa yang menjadi penting sebagai tempat pembelajaran itu? Coba mari kita bayangkan seperti apa tempat yang disebut Gua Hira itu. Ternyata Gua Hira berada di sebuah bukit yang sangat tinggi yang disebut Jabal Nur.

Jadi Gua Hira berada di atas ketinggian sebuah bukit. Apa yang terjadi jika sebuah tempat berada di ketinggian? Ya. Tempat itu terasa sangat; sejuk; dingin; angin yang berhembus sepoi-sepoi; dan tentu saja sangat nyaman untuk melakukan kontemplasi; merenung; konsentrasi; dan bahkan dapat dijadikan sebagai tempat meditasi (penyembuhan jiwa). Demikian seharusnya kita dalam membangun atau menciptakan kondisi sarana prasarana tempat belajar atau madrasah.

Madrasah harus dilengkapi dengan sarana prasarana yang sejuk; menenangkan; mudah digunakan sebagai tempat berkonsentrasi atau belajar; dan yang pasti nyaman. Nyaman dalam arti tidak harus bagus atau mewah yang penting menenangkan dan sejuk. Tempat belajar adalah taman. Maka ada sebagian lembaga pendidikan Islam yang disebut sebagai taman atau bustan seperti Taman Siswa dan Bustanul Atfal.

Karena memang seharusnya kita membangun lembaga pendidikan yang menyenangkan dan indah untuk ditempati sebagaimana taman atau bustan. Jadi seperti itulah Madrasah dengan sarana prasarana yang membuat memotivasi belajar dan nyaman dijadikan sebagai tempat belajar laksana di sebuah taman-taman atau kebun-kebun yang indah. Tempat yang sejuk; segar; indah; nyaman dan jauh dari gangguan-gangguan atau kebisingan. Demikianlah konsep Madrasah Gua Hira.

Editor: Soleh

sumber ini berita dari ibtimes.id

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Segmen Khusus Anak-anak dalam Madani Film Festival 2023

3 October 2023 - 21:54 WIB

Bagaimana Islam Memandang Perilaku Playing Victim?

30 September 2023 - 21:53 WIB

Review Buku: Melawan Nafsu Merusak Bumi

27 September 2023 - 21:52 WIB

Kala Orientalis Meragukan Keotentikan Al-Qur’an, Begini Jawaban Logis dari Ulama Muslim

24 September 2023 - 21:51 WIB

Kemenag Siap Susun Roadmap Layanan Al-Qur’an Berbasis AI

21 September 2023 - 21:50 WIB

Melihat Rasulullah sebagai Manusia Biasa: Review Buku Rasulullah Saw. The Untold Story

18 September 2023 - 21:48 WIB

Trending di wawasan